Jumat, 24 Agustus 2012

Sejarah Boso Walikan Ngalam

Sejarah Boso Walikan (2)

From: Jeffrey Satya [SMTP:jeffmlg@...]

Sent: Friday, October 22, 1999 11:09 AM
To: arema-l@egroups.com
Subject: [arema-l] Re: FW: Asal Usul Bahasa Kera Ngalam

Sungguh menarik informasi anda, mungkin untuk Depdikbud Kodya Malang, perlu melacak lebih jauh informasi ini sehingga bisa diterbitkan sebuah informasi yang autentik dan akurat. Karena ternyata bahasa walikan ini telah hampir menjadi bahasa khas Jatim. tetapi ngomong ngomong, tahu nggak kenapa pacaran
dikatakan Ngamrin ? Kata Papa saya Seingat dia sih waktu tahun 1957 - 1958 itu ada film buatan PFN yang berjudul Amrin Membolos, dan menjadi keharusan bagi semua murid SR ( Sekolah Rakjat - SD sekarang ) untuk menonton film
ini. Sejak saat itu, diasumsikan bahwa untuk pacaran itu diperlukan waktu yang khusus yaitu meninggalkan pekerjaan/ sekolah, makanya lalu disamakan
dengan si Amrin yang suka membolos itu ! Barangkali ada yang bisa melengkapi, syukur alhamdulilah
-----Original Message-----

From: Penie Mustawan <Penie@...
To: arema-l@egroups.com <arema-l@egroups.com
Date: 22 Oktober 1999 10:39
Subject: [arema-l] FW: Asal Usul Bahasa Kera Ngalam
Ini saya fwd ken tulisane Sam Harrie di newmont yg ini ndak minta
tolong tapi tak fwd ae,

-----Original Message-----
From: Harie Pandiono [SMTP:hpan1606@...]
<mailto:[SMTP:hpan1606@...]
Sent: Wednesday, October 20, 1999 8:37 PM
Subject: Asal Usul Bahasa Kera Ngalam

Asal Usul Bahasa Kera Ngalam sob kiwalan kera ngalam (bahasa terbalik Arek Malang) berasal dari pemikiran para pejuang tempo doeloe yaitu kelompok Gerilya Rakyat Kota (GRK). Bahasa khusus ini dianggap perlu untuk menjamin kerahasiaan, efektifitas komunikasi sesama pejuang selain juga sebagai pengenal
identitas kawan atau lawan. Metode pengenalan ini sangat penting karena pada masa Clash II perang kemerdekaan sekitar akhir Maret 1949 Belanda banyak menyusupkan mata-mata di dalam kelompok pejuang Malang. Mata-mata ini banyak yang mampu berkomunikasi dalam bahasa daerah dengan tujuan menyerap
informasi dari kalangan pejuang GRK. penyusupan ini terutama untuk memburu sisa laskar Mayor Hamid Rusdi yang gugur pada 8 Maret 1949 dalam pertempuran dukuh Sekarputih (Desa Wonokoyo sekarang). Seorang tokoh pejuang Malang pada saat itu yaitu Pak Suyudi Raharno mempunyai gagasan untuk menciptakan bahasa baru bagi sesama pejuang sehingga dapat menjadi suatu identitas tersendiri sekaligus menjaga keamanan informasi. Bahasa tersebut haruslah lebih kaya dari kode dan sandi serta tidak terikat pada aturan tata bahasa baik itu bahasa nasional, bahasa daerah (Jawa, Madura, Arab, Cina) maupun
mengikuti istilah yang umum dan baku. Bahasa campuran tersebut hanya mengenal satu cara baik pengucapan maupun penulisan yaitu secara terbalik dari belakang dibaca kedepan. Karena keakraban dan pergaulan sehari-hari maka para pejuang dalam waktu singkat dapat fasih menguasai 'bahas' baru ini. Sedangkan lawan dan para penyusup yang tidak setiap hari bergaul
dengan sendirinya akan kebingungan dan selalu ketinggalan istilah2 baru. Maka siapapun yang tidak fasih mempergunakan osob AREMA ini pasti bukan dari golongan pejuang dan pendukungnya, sehingga kehadiran para penyusup dapat
diketahui dengan cepat serta rahasia komunikasi tetap terjaga. Karena bahasa ini sangat bebas dan longgar aturannya maka kemungkinan pengembangannya sangat luas untuk itu perlu disepakati beberapa istilah penting dikalangan pejuang. Kesepakatan istilah ini diperlukan juga karena
banyak kata penting sulit untuk dibaca terbalik sehingga harus dicari istilah dan padanan yang sesuai namun mudah diingat oleh para pelakunya. Contohnya kata 'Belanda' dalam bahasa Jawa disebut 'Londho' yang cukup sulit dibaca terbalik, maka dicari istilah padanannya yaitu 'Nolo'. Demikian juga dengan 'Polisi' bukan menjadi 'Isilop' namun cukup 'Silop'. Kemudian untuk
'mata-mata' bila dibaca terbalik menjadi 'atam'. Namun untuk menentukan bahwa yang dimaksud dalam istilah tersebut adalah antek Belanda maka ditambahi kata 'keat' dari asal kata 'taek' yang dalam bahasa jawa berarti kotoran. 'Keat Atam' atau kotoran mata dalam bahasa jawa disebut 'ketek' adalah sebutan yang pas untuk para penyusup ini. Begitu juga dengan nama peralatan perang seperti senjata genggam karena sulit menemukan istilah
yang pas maka dipakai kode samaran 'Benduk' dan untuk laras panjang (dowo =panjang dalam bahasa Jawa) disebut 'benduk owod' atau disingkat 'owod' saja. Sedangkan untuk menunjuk masyarakat suku / etnik tertentu disebut 'onet'
untuk golongan Cina (asal kata 'cino' dalam bahasa Jawa), 'arudam' untuk madura, 'arab' menjadi 'bara' dan seterusnya. Sedang untuk menyebut diri seseorang digunakan 'uka' = aku, 'ayas' = saya, 'umak' = kamu, 'okir' =
riko (kamu dalam bahasa madura). Sedangkan untuk menyebutkan sesuatu yang baik bagus digunakan istilah 'nez' dari asal kata bahasa arab 'zen'. Begitu pula
dalam menyebut orang tua laki-laki (ayah, Bapak) orang arab biasa menyebut dengan 'abah' atau 'sebeh' yang kemudian menjadi 'ebes'. Istilah 'ebes' kemudian menjadi populer ditujukan sebagai gelar kehormatan tidak resmi kepada para komandan, pemimpin atau pembesar dan pemuka masyarakat yang
dituakan oleh segenap masyarakat Malang sampai sekarang. Suyudi Raharno pada September 1949 gugur disergap Belanda di suatu pagi buta dipinggiran wilayah dukuh Genukwatu (Purwantoro sekarang) walaupun keadaan pada saat itu sedang gencatan senjata. Seminggu sebelumnya salah seorang kawan akrabnya
yang turut mencetuskan 'osob kera ngalam' yaitu Wasito juga gugur dalam pertempuran di Gandongan (Pandanwangi) sekarang. Saat ini keduanya telah disemayamkan di Taman Makam Pahlawan Suropati - Jalan Veteran Malang.
http://www.facebook.com/bantaibonek/posts/3883668413875 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar