Rabu, 26 Juni 2013

Kisah Indonesia vs Belanda di Lapangan Hijau

Dulu, saat mengalami masa kejayaannya, hubungan timnas Indonesia dengan Belanda tidak sebersahabat seperti saat ini. Soekarno sering mengutarakan retorika yang menguatkan kebencian kepada Belanda.

Terkadang sepakbola menjadi pelampiasan kebencian itu. Jika tahu hanya gara-gara urusan jersey saja timnas mengalah kepada Belanda, Soekarno mungkin akan marah betul. Wajar saja, kala itu stereotype bangsa yang pandir dan inlander goblok ingin berusaha dikikis oleh Soekarno melalui sepakbola.

"Kau Gareng, lawan si Belanda itu. Dan Tunjukkan bahwa bangsa Indonesia itu bangsa yang besar. Tunjukkan bahwa kita bukan bangsa tempe!" cetus Bung Karno dengan memakai celana piyama biru, kaos oblong dan tanpa kopiah kepada kapten timnas, Soetjipto 'Gareng' Soentoro, di Istana Negara, pada suatu hari di tahun 1965.

Ucapan Bung Karno itu ditanggapi semua pemain dengan manggut-manggut. "Bayangkan Bung, para pejuang kemerdekaan itu berjuang mempertaruhkan darah dan nyawa, kita cuma keringat dan air mata," ucap Gareng kepada teman-temannya menanggapi kata-kata Soekarno [dari buku Cardiyan HS. berjudul 'Gareng Menggiring Bola'.]

Adegan di atas terjadi saat seluruh anggota timnas diajak Maulwi Saelan menemui Bung Karno sesaat sebelum mereka terbang ke Eropa. Kepergian mereka guna lawatan ujicoba melawan tim-tim kuat Eropa sebagai persiapan menghadapai Ganefo dan Asian Games tahun 1966.

Selama berbulan-bulan, timnas berkeliling ke berbagai negara Eropa. Negeri yang pertama dikunjungi adalah bekas penjajah kita yaitu Belanda. Hari Rabu 9 Juni 1965, timnas harus berjibaku dengan juara Liga Belanda musim kompetisi 1964/1965, Feyenoord.

Saat menghadapi Indonesia, Feyenoord tahu betul siapa lawan yang mereka hadapi. Malu rasanya kalah dari negeri bekas jajahan. Karenanya tak tanggung-tanggung, Feyenoord menurunkan semua pemain intinya. Sayangnya, Belanda tetap sombong. Dipimpin oleh sang kapten Guus Haak -- meluruskan informasi yang banyak beredar kalau saat itu kaptennya adalah Guus Hiddink --, Feyenoord tak bermain serius di awal babak pertama.

Intruksi Bung Karno untuk menghajar Belanda dilakukan betul oleh para pemain kita. Para pemain bermain kesetanan. Baru dua menit pertandingan berjalan 'Si Gareng' berhasil mencetak gol cantik dengan melewati tiga bek Feyenoord sekaligus. Londo itu terkaget. Tak ayal Indonesia pun digempur habis-habisan di babak pertama. Performa ciamik Yudo Hadianto yang mengawal gawang timnas berhasil membuat sor 1-0 dapat dipertahankan hingga akhir babak pertama.

Sayangnya, di babak dua Indonesia dijahili habis-habisan oleh wasit. Dua gol penalti di awal babak kedua membuat mereka down. Tak ayal, dalam waktu beberapa menit, Yudo terpaksa memungut bola di gawangnya sebanyak empat kali. Alhasil selama 90 menit waktu berjalan, timnas kebobolan 6 gol, yang membuat pertandingan berkesudahan 6-1 bagi Londo-londo itu. (Majalah Aneka edisi Juli 1965)

Tak terima, kekalahan ini bagi Gareng lebih disebabkan faktor wasit yang berat sebelah akibat adanya tekanan unsur politis. Dua hukuman penalti bagi Indonesia adalah buktinya. "Dua kali pelanggaran tak berbahaya, dua kali dihukum penalti. Ini kemenangan politik yang dipaksakan," keluhnya.

Unsur politik memang terasa betul di pertandingan tersebut. Konflik antara pemerintah Belanda dan Indonesia merembet hingga sepakbola. Belum lepas ingatan orang akan perebutan Irian Barat. Tahun 1960-1963, saat itu dua negara harus rebutan pemain sepakbola yaitu pemain Irian Barat yang bernama Dominggus.

Dominggus mampu mencuri hati publik sepakbola Belanda. Saat melawan Feyenoord, decak kagum penonton diberikan kepada pemain yang berposisi sebagai winger ini. Akan tetapi, kekalutan tim terjadi sesudah laga itu. Dominggus tak pulang ke hotel, banyak orang menyangka dia diculik. Intelejen pun mulai dipekerjakan untuk mencari Dominggus.

Pencarian Dominggus diserahkan kepada kedutaan besar, karena tim harus bertolak ke Jerman Barat, Dominggus pun ditinggal. "Ia sekamar dengan saya waktu di Belanda. Dia pergi malam-malam dan tak pernah kembali. Tasnya pun ditinggal di hotel," kata Max Timisela rekan satu tim Dominggus, dalam interview dengan Pandit Football beberapa waktu lalu.

Beberapa hari kemudian, berita mengejutkan datang kepada tim yang ada di Bremen. Dominggus dinyatakan membelot, menolak pulang ke Indonesia. Dia ditawari oleh pelatihnya yang orang Belanda untuk tinggal dan menjadi warga negara Belanda. Diiming-imingi oleh janji setinggi langit dari pemerintah Belanda, Dominggus memilih melupakan Indonesia.

Kejadian ini membuat kekesalan terjadi di Jakarta. Demonstrasi besar-besaran terjadi kepada pemerintah Belanda akibat aksinya yang membuat Dominggus membelot. Belum lama luka atas Irian Barat, Belanda kembali menuai genderang perang melalui sepakbola. Soekarno pun geram dan melayangkan surat protes, mengecam kerajaan Belanda. Tapi respons yang didapat ya begitu saja: Belanda hanya mangut-mangut. Masuk telinga kanan, keluar telinga kiri.

Saat bertemu Gareng di tahun 1978, Dominggus ternyata tak jadi pesepakbola ternama. Ia hanya diperkerjakan sebagai buruh di perusahaan Phillips. Tapi beruntung nian dia. Dominggus mendapatkan istri wanita Belanda. Kala itu dia sudah memiliki tiga anak. Kepada Gareng ia pun bangga dengan keputusannya kala itu. Gara-gara Belanda, pemain sayap ini enggan balik lagi ke tanah leluhurnya.

Soekarno tahu betul bahwa suatu bangsa bisa naik harkat derajatnya dengan olahraga. Karenanya ia menanamkan paham betul-betul itu di dalam dada semua pemain,yaitu semangat kebangsaan. Ia tegaskan bahwa berjuang lewat olahraga adalah suatu hal yang tak kalah hebatnya dengan berjuang menenteng senjata. Karenanya ia kesal melihat tingkah Belanda yang belagu kala itu.

"Bahwa kami bukanlah lagi penduduk kelas kambing yang berjalan menyuruk-nyuruk dengan memakai sarung dan ikat-kepala, merangkak-rangkak seperti yang dikehendaki oleh majikan-majikan kolonial di masa yang silam," katanya.

Semangatnya itu membuat para pemain tampil habis-habisan di setiap laganya. Tak hanya saat di Belanda. Di Jerman, Yugoslavia dan Cekoslovakia pun timnas tampil cukup memuaskan. Selain pengalaman, fisik dan ilmu yang didapat. Pemain pun berhasil mengenalkan Indonesia ke masyarakat Eropa melalui "sepakbola". Semangat mau berkorban, mau berjuang dan mau bersabar tak bisa dibebankan kepada pemain saja. Seluruh elemen baik itu penguasa yang berkuasa, pengurus PSSI, bahkan suporter sendiri harus memiliki etos tersebut.

Apakah hasil yang didapat setelah pulang dari Eropa zaman itu? Hasilnya cukup lumayan. Selama kurun beberapa tahun Indonesia kembali disegani di Asia. Tercatat Indonesia menjadi semifinalis Asian Games 1966, Juara Aga Khan Goldcup 1966 dan 1968, Juara Merdeka Games 1969 dan Juara Kings Cup 1968. Di masanya kejuaraan-kejuaraan itu adalah turnamen bergengsi yang selalu diikuti negara-negara kuat Asia.

Sekarang?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar