Rabu, 26 Juni 2013

Kisah Sedih dari Lereng Semeru-Hikayat Paul Cumming [Bagian 1]




Rumahnya agak menjorok ke dalam Dusun Drigu, Desa Poncokusumo Kabupaten Malang, Jawa Timur. Lokasi rumahnya terpencil dari peradaban manusia lainnya. Sunyi dan sepi.

Sesekali terdengar suara hiruk pikuk manusia dan lalu lalang kendaraan bermotor. Tetapi semua itu tenggelam dalam orkestra kodok dan jangkrik yang lebih kentara terdengar di luar.

Rumah sederhana itu sekelilingnya dipenuhi kebun yang rimbun: kebun apel, cabai, tomat, dan sayur-sayuran yang dipagari kawat dan kayu. Hanya ada satu jalan untuk mencapai rumah itu, melewati jalan tanah coklat setapak yang jarang diinjak manusia.

Bagi beberapa orang tempat ini membosankan, apalagi kalau malam. Di luar nyaris gelap gulita tak ada kerlap-kerlip lampu-lampu bohlam tetangga. Tapi jangan kaget bukan main alangkah indahnya suasana alam di pagi hari. Tepat di depan rumah, dengan sombong gunung Semeru kokoh tegak menantang.

Desa Poncokusumo memang daerah dingin di lereng Gunung Semeru, 30 Km dari Kota Malang. Udara bersih dan sejuk didapat secara gratis sepuasnya. Sesuatu hal yang langka bagi orang kota.

Beruntunglah Paul Cumming dapat menghabiskan massa tuanya di tempat itu. Tapi benarkah dia beruntung?
Ada yang masih ingat dengan Paul Cumming? Seseorang yang menjadi idola suporter klub Galatama asal Jakarta yaitu Indonesia Muda di tahun 1981 hingga 1983. Beberapa mengenangnya sebagai sosok pelatih asing kontroversial yang amat dicintai masyarakat Papua, namun dibenci suporter bola asal Jawa di pertengahan dekade 80an.

Permainan keras yang menjadi ciri khas Perseman Manokwari kala itu membuat anak asuh Paul dicaci habis-habisan baik oleh pengamat, media maupun penggila bola. Bergeming, Paul tetap melanggeng dengan polanya yang terkenal keras -- PSMS Medan pun bukan tandingannya.

Benar saja, usai menjadi juara Divisi I tahun 1983, Perseman menjadi kuda hitam baru di kompetisi perserikatan dengan menjadi tim terbaik nomor empat di tahun 1985, serta runner-up 1986 sebelum ditaklukan Persib Bandung 1-0 lewat gol tunggal Djadjang Nurdjaman di partai Grand Final.

Paul adalah pula legenda bagi masyarakat Bandar Lampung. Namanya melegenda tapi dia bukan tokoh fiksi. Paul adalah manusia nyata. Kesuksesannya menangani klub Papua membuat ia ditarik mantan gubernur Lampung, Poedjono Pranoto, untuk membesut PSBL Bandar Lampung. Sepakbola Lampung pun menuai kejayaan. Setelah selalu berkutat di Divisi II, Paul bisa membawa PSBL promosi ke Divisi I dan Divisi Utama. Pekerjaan yang tak mudah tentunya.

Usai dipensiunkan secara paksa dari PSBL akibat keuangan klub yang defisit, Paul terpaksa menganggur. Beruntung kemudian Perseman mengontaknya kembali. Sampai tahun 2011, Paul kembali menetap di Papua sembari sempat melatih tim PON Papua Barat dan Persiwon Wondama.

 Di Indonesia, Paul adalah orang kedua yang dinaturalisasi akibat urusan sepakbola. Orang asing pertama yang menjadi WNI gara-gara sepakbola adalah Toni Pogacnik, eks Pelatih Timnas tahun 1950an. Dan orang kedua itu adalah Paul Cumming, seorang Londoners yang teramat cinta kepada Negeri Zamrud Khatulistiwa.

Di masa itu sangat langka pesepakbola atau pelatih asing yang ingin berganti kewarganegaraan menjadi WNI. Paul termasuk orang langka itu. Prosesnya tidak mudah dan berbelit-belit. Selain memakan waktu lama, besarnya kontribusi terhadap sepakbola Indonesia pun menjadi kewajiban utama lainnya bagi siapa pun yang ingin jadi WNI.

Proses Paul menjadi WNI tidaklah semudah yang diterima Sergio Van Dijk, Kim Jefrey Kurniawan atau pemain asing naturalisasi lainnya. Setelah menunggu waktu 19 tahun, pasca kedatangannya pertama kali ke Indonesia tahun 1980, akhirnya pada 10 November 1999, Pengadilan Negeri Bandar Lampung mengetok sah dirinya sebagai WNI. Beruntung nasib Paul tak setragis sang pendahulu Toni Pogacnik yang keburu meninggal sebelum dirinya disahkan sebagai WNI.
Paul adalah generasi awal pelatih asing yang berani membesut klub-klub sepakbola di Indonesia. Dia seangkatan bersama Marek Janota, Wiel Coerver dan Fred Corba. Mereka menjadi bagian dari kebangkitan kompetisi Galatama. Mereka pun jadi saksi, betapa Galatama porak-poranda akibat pengaturan skor ulah mafia judi bola.

Pengalaman pahit saat Berniaga di Pedalaman dan Pesisir Papua

Entah mengapa dia betah berlama-lama di Indonesia, toh secara financial kehidupan Paul biasa-biasa saja. Selama ini selalu ada persepsi bahwa orang asing yang tinggal di Indonesia adalah kaum borjuis berdompet tebal. Paul jauh dari anggapan seperti itu. Dia mungkin "pebola naturalisasi" paling malang di Indonesia. Dari dulu hingga sekarang, dompet cekak selalu ia rasakan.

Hidupnya selama Papua di awal tahun 1990an terkadang butuh perjuangan ekstra dan menderita. Untuk tetap bisa bertahan hidup, ia tinggal di daerah pedalaman dan berdagang sembako menggunakan perahu dari pulau ke pulau di Teluk Cendrawasih.

Sialnya, usahanya itu kena tipu orang. Karena terlalu percaya, ia serahkan semua perniagaan kepada anak buahnya. Sang anak buah berdusta mengatakan kepada dirinya kapal terbalik dan barang dagangan habis tercebur ke laut. Ia pun dinyatakan bangkrut total, karena harus membayari barang-barang jualannya yang belum dibayar. Tapi ia tak menyerah dan kembali meniti usaha perniagaan berjualan sembako ke daerah tambang-tambang.

Akan terasa "ngeh" melihat bule di pedalaman Papua untuk menyambung perut ia harus menaiki motor trail dengan barang bawaan sembako penuh. "Jalannya menanjak bukan main, untuk menempuh tambang saya harus berkendara 8 jam melewati hutan sembari bawa barang-barang digendong di belakang," ucapnya.

Baru beberapa bulan usahanya berjalan, Paul kembali terkena sial. Lagi-lagi ia kena tipu akibat bujuk rayu oknum warga yang meminta ia meninggalkan barang dagangannya di tambang. Ia pun hanya mengelus dada meratapi nasibnya itu.

Dan itu hanyalah satu dari belasan kisah tragis Paul yang akan terus berlanjut sampai hari ini. [Bersambung]

* Ditulis dari hasil wawancara Paul Cumming (@papuansoccer) dengan @aqfiazfan dari @panditfootball untuk @detiksport

Selasa, 25 Juni 2013

Singa Tua Itu Bernama Keith Kayamba Gumbs

 

Tua tidak berarti keropos, tua juga tidak berarti lemah. Karena tidak jarang sesuatu yang semakin tua justru semakin baik, dalam lingkup manusia, sesuatu yang tua akan semakin dewasa dan matang.
Salah satu sosok yang kini menjadi kapten sekaligus pemimpin dan panutan bagi rekan-rekannya di Arema adalah sosok tua Keith Kayamba Gumbs, bisa dibilang tua karena pemain ini berumur 40 tahun.
Namun, dia yang tahun lalu membawa Sriwijaya juara Indonesia Super Liga tetaplah sosok yang garang dan ganas di depan kotak pinalti. Bahkan gaya mainnya sudah berubah, bisa menjadi pemain sayap ataupun gelandang bertahan.

Kondisi tua tidak menjadi Rahmad Darmawan [RD] alergi. Dia bahkan sangat yakin mantan anakbuahnya itu bisa menjadi senjata pamungkas plus bisa membimbing rekan-rekannya menjadi satu tim yang solid.
Dengan dua tim yang berbeda, maka diperlukan sosok pemimpin yang handal yang tidak terpengaruh oleh kubu Pelita dan Arema. Maka Gumbs yang datang dari Sriwijaya menjadi pilihan yang netral dan sangat pas untuk dijadikan kapten.
Kondisi fisik Kayamba juga sangat terjaga dengan baik. Di kompetisi negeri ini, pemain berusia 35 ke atas banyak berlaga di level bawah kompetisi. Namun Kayamba sangat berbeda.

Bandingkan dengan rekrutan baru Arema Indonesia, Yericho Christiantoko. Pemain yang didatangkan dari CS Vise Belgia itu masih berusia 20 tahun dan itu berarti Yericho baru dilahirkan ke dunia ketika Keith sudah menjadi pesepakbola profesional. Namun usia tidak menjadi pertimbangan RD.
Karena itulah Keith Kayamba direkrut untuk Arema. Selain dia punya fisik yang stabil, Disamping sangat tegas membimbing pemain muda, dia juga punya selera humor yang tinggi yang tidak membuat pemain Arema merasa terintimidasi.

"Keith mempunyai kepribadian yang bagus di lapangan maupun di luar lapangan, sehingga bisa menjadi contoh bagi pemain muda. Dia tak menampik bahwa pemainnya itu diserahi tugas ekstra, yakni melakukan fungsi tutorial kepada pemain belia Arema, dia juga sangat komunikatif kepada rekan-rekannya. Ini sangat baik buat perkembangan pemain muda," kata RD.
Kayamba pun sudah menjadi pemimpin bagi rekan satu timnya ketika melakukan pemanasan maupun pendinginan usai latihan. Semua anggota tim pun percaya dan mau mengikuti instruksi pemain asal Saint Kitts and Nevis ini.

"Saya berterima kasih kepada pelatih yang masih memberikan kepercayaan, terutama menjadi kapten. Bergabung dengan klub sebesar Arema tentu sangat menyenangkan. Saya akan berupaya keras untuk membayar kepercayaan Arema. Kalau bisa saya ingin meraih gelar di sini" kata Keith Kayamba Gumbs dikutip dari Sindo.
 

Rahasia Kebugaran Keith Kayamba Gumbs



  
Di usianya yang melewati 40 tahun sejak 11 September lalu, Kayamba masih terlihat bugar saat latihan. Materi latihan endurance bisa dilahapnya tanpa rasa letih. Apa rahasianya?

Kontrak dengan durasi satu musim sudah ditandatangani Kayamba kemarin siang di kantor Arema Jalan Kertanegara 7 Kota Malang. Seakan ingin menunjukkan kalau kondisinya masih fit, sekitar pukul 14.30 WIB pemain asal negara Saint Kitts and Nevis ini langsung berangkat ke Stadion Kanjuruhan dengan mengenakan fasilitas mobil tim.

Dan Kayamba pun tiba lebih awal dibandingkan dengan rekan-rekannya yang menggunakan bus. Sadar masih belum ada siapa-siapa dalam stadion, pencetak 22 gol musim lalu ini langsung melakukan pemanasan sendiri dengan mengelilingi lintasan lapangan dua kali. Setelah itu baru Kayamba gabung dengan latihan yang dipimpin asisten pelatih Satia Bagja Ijatna. Usai mengikuti latihan endurance 2,5 jam, Kayamba juga terlihat masih segar ketika meladeni Aremania yang ingin foto bersama atau sekadar bersalaman.
"Usia memang sudah 40 tahun tapi tenaga masih 20 tahun," gurau Kayamba.

Sampai saat ini, Kayamba mengaku masih belum berfikir tentang pensiun. Karena di pikirannya saat ini, dia ingin bermain terus selama fisiknya masih terjaga. "Saya jaga kondisi tubuh saya. Karena itu penting. Banyak sekarang pemain masih muda tapi usianya sudah tua. Itu karena pola hidup yang kurang sehat," ujarnya.
Apa yang dikatakan Kayamba memang terbukti. Ketika ada yang merokok, dirinya langsung menghindar atau bahkan menegurnya. Itu sudah pernah dilakukannya kepada salah satu sopir tim Arema yang merokok di dekamya. "Saya tidak suka lihat atau dekat dengan orang merokok," cetusnya.

Niatan pemain yang mengawali karir sepak bola profesional sejak tahun 1989 ini untuk terus bermain diutarakan dengan tidak ingin menjadi asisten pelatih seperti yang dilakukannya ketika di Sriwijaya FC.
"Di pikiran saya ini hanya ada main bola. Karena saya dikontrak untuk main. Bukan untuk melatih. Dan saya rasa di sini sudah banyak tim pelatih. Jadi saya tidak ingin campuri tugas mereka," tegasnya.

Sementara itu, arti 40 tahun bagi Kayamba tak dipungkiri jadi hal yang spesial. Karena sudah 23 tahun mantan pemain Kitchee Hongkong ini bermain sepakbola. Sehingga momen 40 tahun ini digunakannya sebagai nomor punggungnya di Arema-Pelita Jaya.

"Saya ingin pakai nomor 40 dengan ukuran kaus L," ujarnya kemudian tersenyum.
Sementara itu ketika ditanya terkait momen manis selama berkarir di dunia sepakbola, Kayamba mengakui kalau semua tim yang dibelanya memberikan kenangan tersendiri. Namun saat ini Kayamba tak ingin membicarakan itu. Karena dia hanya ingin membahas masa depannya.
"Itu semua adalah lembaran lama. Sekarang saya ingin juara dengan lembaran baru di tim ini," guman penggemar balap Formala 1 ini.

Perlu diketahui, selain masih aktif bermain di klub profesional, Kayamba sampai kini juga masih terdaftar di timnas negaranya. Meski bukan berasal dari negara yang kental dengan budaya sepakbola. Tapi Kayamba sudah memiliki 131 caps dan 47 gol. Itu dicapainya sejak pertama terjun sebagai pemain sepak bola profesional, tahun 1989 (Radar)
http://www.wearemania.net/arema/legends/2590-rahasia-kebugaran-keith-kayamba-gumbs