Kamis, 16 Januari 2014

Sekuel Kelam di Stadion Brawijaya Kediri



Mungkin sudah ditakdirkan Stadion Brawijaya Kediri tidak bersahabat dengan Arema dan Aremania meskipun dilabeli ucapan selamat datang. Kejadian kelam sekitar empat tahun yang lalu kembali terulang kemarin (Rabu 16/1/08). Kita ulas kejadian ini mulai Rabu siang, saat rombongan besar Aremania dari Stasiun Kotabaru Malang berangkat molor hingga jam 2 siang karena menunggu datangnya tiket pertandingan. Kenapa tiket baru sampai di Malang jam 2 siang pada hari H? Apakah Panpel Kediri tidak memikirkan hal tersebut? Penjualan tiket di stadion tentu berbeda dengan pendistribusian tiket di Malang.
Rombongan berangkat sekitar jam 2 siang. Perjalanan berangkat rombongan sekitar 30 bis serta puluhan truk & mobil pribadi berjalan lancar hingga mendekati areal Stadion Brawijaya di kota Kediri. Tapi ketika mendekati area stadion, rombongan dilempari batu oleh oknum suporter lain. Tidak ditemui penyambutan dari Persikmania sebagaimana yang dijanjikan sebelumnya.
Bahkan ketika seluruh Aremania telah memasuki stadion, bernyanyi & berteriak yel-yel Aremania, tidak ada acara simbolis dari Persikmania selaku tuan rumah. Hanya ada ucapan selamat datang dari MC pertandingan. Aremania malah langsung berbaur dengan Singamania (Sriwijaya Mania) yang masih menyaksikan sisa pertandingan Sriwijaya FC vs PSMS Medan.
Pun demikian dengan kondisi Stadion Brawijaya yang tidak mampu menampung seluruh suporter. Hal ini telah dikemukakan jauh hari sebelum dimulainya babak 8 besar, tapi BLI dan Panpel selalu bergeming. Aparat keamanan pun terkesan ala-kadarnya. Sementara match steward hanya berkumpul di bawah tribun VIP. Inikah kinerja Panpel babak delapan besar di Stadion Brawijaya Kediri?
Suasana panas sebelum pertandingan merembet ke dalam lapangan. Berikut kronologis kejadiannya seperti dilansir Jawapos.com
1. Pukul 19.30 WIB, suporter Arema Malang mulai berteriak-teriak soal kinerja wasit. Itu setelah Persiwa Wamena unggul satu gol pada menit ke-28. Itu terjadi karena satu gol Arema oleh Patricio Morales dianulir pada menit ke-10.
2. Pukul 19.36 WIB, suporter Arema semakin beringas karena gol Patricio Morales kembali dianulir pada menit ke-36. Kondisi itu membuat pemain-pemain Arema protes kepada hakim garis Yuli Suratno. Mendadak ada oknum suporter yang nylonong masuk lapangan dan memukul Yuli.
3. Kejadian itu membuat suporter yang lain terpancing dengan melemparkan benda-benda keras dan botol minuman ke dalam lapangan. Kejadian itu membuat pertandingan selama 15 menit.
4. Setelah mereda dan Yuli diganti dengan Sudy Yunus, pertandingan kembali dimulai pada pukul 7.51 WIB dengan melanjutkan waktu pertandingan yang sudah berlangsung selama 36 menit.
5. Lanjutan pertadingan itu berlagsung lancar hingga babak I berakhir.
6. Pada pukul 8.26 WIB ketika pertandingan memasuki babak II menit ke-71 Aremania kembali membuat ulah. Tidak hanya melempar, mereka juga masuk ke lapangan menyerang asisten wasit.
7. Kemananan langsung turun tangan menyerbu suporter yang masuk. Tindakan itu tidak mengendalikan, tetapi justru membuat yang lain ikut masuk. Suasana pun makin tidak terkendali.
8. Kondisi itu terjadi selama lebih dari satu jam dan akhirnya dihentikan pada menit ke-71. Badan Liga Sepak Bola Indonesia (BLI) memutuskan Stadion Brawijaya, Kediri, tidak lagi digunakan untuk delapan besar.
Jangan Injak Ekor Singa
Secara subyektif, suporter mana yang tidak geram & emosi ketika melihat langsung timnya terus-terus menjadi bulan-bulanan wasit? Bahkan sampai 3 gol dianulir!! Oke kalau 2 gol Arema oleh Patricio Morales di babak pertama dianulir karena handsball dan offiside, tapi apakah gol Persiwa oleh Pieter Rumaropen juga “bersih” dari offside?
Ibarat bensin telah tertuang, kinerja wasit Jajat Sudrajat dan AW-nya malah menyulutkan api dengan menganulir gol (ketiga Arema yang dianulir) Emile Mbamba di babak kedua dan mengesahkan gol kedua Persiwa yang juga berbau offside. Tak perlu menunggu waktu lama, “api” pun berkobar. Liputannya baca di sini.
Satu catatan lain adalah tentang kinerja Panpel dan aparat keamanan. Panpel (match steward) dan aparat kemanan terkesan “mempersilahkan” oknum Aremania melakukan lemparan-lemparan, hingga masuk ke lapangan dan memukul hakim garis. Tidak ada halauan-halauan untuk menertibkan suporter di sentelban. Yang perlu dicatat dalam kejadian kemarin adalah oknum Aremania tidak melakukan kekerasan secara membabi buta, melainkan hanya kepada dua orang, yaitu asisten wasit (hakim garis) yang keputusannya sangat merugikan tim Arema.
Kalau tindakan anarkis dan perusakan stadion Brawijaya oleh Aremania menjadi sorotan tajam, kenapa ulah oknum Persikmania yang melempari batu dan menghancurkan kendaraan rombongan Aremania dibiarkan begitu saja? Bahkan di tempat parkir pun, kaca-kaca mobil Aremania dipecah. Ketika rombongan Aremania dalam perjalanan pulang, hampir seluruh bis, truk, mobil pribadi, hingga sepeda motor menjadi sasaran lemparan baru selama 3 jam! Kaca-kaca bus dan mobil pecah (termasuk bus yang ditumpangi OngisNade.Net). Sementara oknum Persikmania yang melempari batu & ketapel tersebut bersembunyi di kegelapan malam, gang-gang, dan rumah-rumah penduduk.
Ketika sampai di Stasiun Kotabaru Malang jam 3 Kamis dini hari, saya melihat sendiri bagaimana hampir semua kaca bis & mobil pribadi hancur dan beberapa rekan Aremania terluka.
Secara obyektif, apapun alasannya tindakan onar dan anarki tidak bisa dibenarkan, termasuk di dunia sepakbola. Tapi, peribahasa lama : tidak ada asap kalau tidak ada api harus menjadi renungan kita bersama.
Sudah benar-kah pengurus sepakbola kita mengurusi sepakbola itu sendiri selama ini? Terlalu panjang menguraikannya di sini. Kita semua tahu bagaimana bobroknya kualitas sepakbola kita di bawah kepengurusan PSSI saat ini yang berimbas kepada carut-marutnya kompetisi sepakbola kita.
Dan seperti biasanya, semua orang / pihak yang tidak mengalami kejadiannya langsung di Kediri atau hanya menyaksikan di tv langsung angkat bicara. Yang tidak suka langsung menghujat dan ramai-ramai berkomentar, yang mengerti kejadiannya mencoba melihat masalahnya terlebih dulu.
Insiden tersebut juga berimbas kepada kelanjutan perhelatan babak delapan besar grup A yang dipindahkan venuenya.
Sementara itu kubu Arema dan Aremania juga sedang menanti hukuman dari komdis. Bagaimanapun bentuk dan beratnya hukuman itu, kubu Arema dan Aremania telah merapatkan barisan bersama satu tekad satu jiwa membela nama Arema. Seperti yang dikatakan oleh Manajer Arema, Satrija Budi Wibawa kepada salah satu media online nasional, “Kita lihat nanti seperti apa. Yang jelas Arema akan terus berjuang hingga tetes darah penghabisan.”

http://ongisnade.wordpress.com/2008/01/17/sekuel-kelam-di-stadion-brawijaya-kediri/

Mengenang Tragedi Stadion Brawijaya Kediri (Bag-3)



Terlepas terjadinya insiden ‘Brawijaya Membara’, Kapolresta Kediri, AKBP Putu Jayan DP memuji Aremania. Menurut dia, Aremania tetap pantas mendapat apresiasi karena mereka tidak memusuhi polisi. Sekalipun demikian, Putu menegaskan pihaknya telah berusaha semaksimal mungkin. Termasuk saat kerusuhan itu, tidak memakan korban banyak.
Karena itulah, dia tetap memiliki pandangan tersendiri terhada Aremania. Sebab jika sampai Aremania bertarung dengan Polisi, ia tak bisa membayangkan parahnya kerusuhan.
‘’Bayangkan saja, jika puluhan ribu Aremania itu memusuhi Polisi, bisa gawat semuanya. Jelas kami tidak mungkin melawan mereka,’’ ujarnya kepada Malang Post, kemarin.
Meski demikian, Putu tetap tidak bisa membenarkan aksi anarkis yang dilakukan Aremania. Dia juga sangat menyesalkan sekaligus menyayangkan kericuhan tersebut muncul ketika pertandingan tengah berlangsung menarik.
Ia membenarkan jika kericuhan itu, dipicu ketidakpuasan Aremania terhadap beberapa hal yang salah dalam pertandingan. Namun yang pasti, katanya, kapasitas Stadion Brawijaya memang tidak layak untuk menampung luberan Aremania.
‘’Salah satu pemicunya dari kapasitas stadion yang tidak mampu menampung 15 ribu Aremania itu. Kami sudah melipatgandakan personil hingga nyaris seribu personil. Termasuk gabungan dari Tulungagung dan Nganjuk,’’ ungkapnya.
Soal korban luka-luka yang terjadi, Kapolresta mengatakan korban luka tak hanya dari kalangan penonton saja. Pihak kepolisian juga turut terluka akibat kerusuhan itu.
‘’Dua polisi terluka, satu dari anggota Polresta Kediri terluka karena lemparan batu. Yang lainnya personil polisi dari Malang yang turut bersama rombongan pemain Arema. Saya sendiri juga terluka dibagian kaki saat terjun mengendalikan amarah,’’ ungkapnya sambil menunjukkan bagian kaki yang memar.
http://junedoyisam.wordpress.com/2011/08/18/mengenang-tragedi-stadion-brawijaya-kediri-bag-3-polisi-puji-aremania/


EDITORIAL - Kebocoran Tiket, Siapa Yang Rugi (2)


Melihat banyaknya potensi masalah yang dihadapi klub untuk melawan kebocoran tiket. Sepertinya mustahil jika inisiasi penyelesaian masalah hanya melibatkan salah satu pihak semata. Itupun jika klub menginginkan prosentase kebocoran tiket mendekati angka nol persen.
Paling tidak, diperlukan kerjasama melibatkan semua pihak, baik dari unsur panpel, penonton maupun dengan perbaikan sistem dan infrastruktur. Tanpa kerjasama yang solid dikhawatirkan celah kebocoran tiket masih menganga dan siap mengikis setiap potensi keuntungan yang didapat dari tiket pertandingan.
Siasat:
Besarnya kerugian yang ditimbulkan oleh kebocoran tiket tidak serta merta dibiarkan oleh klub. Beragam cara dan upaya coba diatasi oleh para klub untuk mengurangi besarnya kerugian yang ditimbulkan oleh kebocoran tiket.
Inisiasi perbaikan harus dimulai sejak dini, dari mempersiapkan SDM, membuat sistem yang efektif dari pintu-pintu masuk stadion, hingga perbaikan infrastruktur yang melibatkan pemilik/pengelola stadion.
Beberapa klub memilih melakukan pengetatan sejak internal klub dulu, baru mengajak serta pihak lain untuk bekerjasama menanggulangi kebocoran tiket. Beberapa klub dibawah ini adalah contoh nyata beberapa perbaikan yang dilakukan oleh para panpel :

A. PERSIB
Da tahun lalu klub berjuluk Maung Bandung ini melakukan pemotongan harga tiket hingga 50% untuk tribun dibelakang gawang. Hal ini dilakukan setelah panpel melalukan evaluasi akibat kebocoran tiket mencapai 50-70%.
Untuk menanggulangi pemalsuan tiket klub yang didukung oleh Bobotoh (sebutan suporter Persib) tersebut juga berencana menerapkan penggunaan teknologi berupa barcode pada tiket. Cara ini pernah digunakan oleh Persib, dan sistem ini dinilai sukses dalam menghindari pemalsuan tiket.
Selama ini pemalsuan tiket hanya dapat dideteksi secara manual, mengandalkan kejelian pengamatan para petugas portir di pintu masuk. Diharapkan dengan tiket yang menggunakan sentuhan teknologi informasi tersebut dapat mendeteksi peredaran tiket palsu dan tidak teregistrasi oleh sistem informasi yang dibuat oleh panpel.
Bentuk tiket barcode sangat sulit untuk dipalsu, karena hanya rangkaian kode angka yang terdaftar/teregistrasi oleh sistem yang dapat dideteksi oleh mesin scanner. Para penonton yang menggunakan tiket tanpa barcode dapat dilakukan pengecekan lebih lanjut apakah tiket tersebut ilegal (palsu) atau tidak.
Selain barcode sebenarnya panpel dapat menjual e-ticket (tiket elektronik) yang memiliki fungsi sama seperti tiket fisik yang dijual di loket ataupun para calo. Tiket jenis ini memiliki nilai lebih dalam hal penghematan (karena tidak memerlukan pencetakan tiket fisik) dan memudahkan kontrol distribusi tiket.
Namun sayang sekali sebagian besar klub di Indonesia masih menggunakan cara manual dalam menseleksi peredaran tiket ilegal. Umumnya tiket hanya diperiksa dalam sekejap mata saja. Hal ini disebabkan adanya antrian penonton yang berjubel di pintu masuk stadion dan tidak memberikan banyak waktu bagi petugas untuk menseleksi tiket lebih detail.
Selain barcode panpel Persib diuntungkan dengan kondisi infrastruktur di Bandung yang terus berbenah. Stadion Si Jalak Harupat yang menemani langkah Maung Bandung beberapa tahun terakhir mendapat pembenahan serius.
Saat ini Si Jalak Harupat mendapat renovasi berupa pemasangan kursi tunggal bernomor (single seat). Renovasi ini dipandang sebagai langkah maju dimana hanya beberapa stadion sepakbola di Indonesia yang memiliki kursi bernomor untuk seluruh tribun stadion.
Dengan kursi bernomor, Panpel Persib dapat menerapkan aturan "1 tiket = 1 tempat duduk", sebagai salah satu langkah mengurangi kebocoran tiket secara efektif. Dengan penerapan aturan yang tegas, langkah ini memberikan kenyamanan kepada penonton untuk mendapatkan nomor kursi yang sesuai dengan tiketnya.
Pendeteksian kebocoran tiket dapat dilakukan didalam stadion/tribun ketika terdapat penonton tak bertiket dan menempati kursi yang bukan sebagai haknya. Sanksi yang diterapkan dapat berupa 'pengusiran' dari stadion, atau pemberlakuan suplisi/denda namun tetap dikeluarkan dari stadion.
Disisi lain konsekuensi penerapan kursi bernomor memang mengurangi kapasitas stadion Si Jalak Harupat dari 40ribu menjadi sekitar 27ribu penonton. Jumlah ini didapat dari banyaknya kursi yang baru dipasang di stadion yang berdiri di Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung tersebut.
Berkurangnya potensi pendapatan tak menjadi soal jika melihat angka kebocoran tiket sebelum dipasang kursi bernomor tersebut sangat tinggi (mencapai 40% lebih). Toh dengan peningkatan sarana dan kenyamanan penonton, panpel sebenarnya dapat meningkatkan harga tiket (kebijakan yang 'lazim' dilakukan oleh banyak instansi di Indonesia).
Niscaya berapapun harganya akan tetap dibeli Bobotoh yang setia datang menyaksikan Maung Bandung berlaga. Pada pertandingan pertama di Stadion Jalak Harupat setelah pemasangan kursi bernomor (3/3), sebanyak 26.587 penonton membeli tiket dan menyaksikan jalannya bigmatch yang mempertemukan Persib dan Persija.

B. AREMA
Strategi untuk mengurangi angka kebocoran tiket juga ditunjukkan Arema. Klub berjuluk Singo Edan ini sudah bertahun-tahun dirugikan adanya kebocoran tiket yang disebabkan banyaknya penonton yang tak bertiket.
Untuk musim Liga Indonesia 1999-2000 saja, terdapat ribuan penonton yang masuk ke Stadion Gajayana tanpa tiket. Penyebabnya bermacam-macam. Dinding stadion yang hanya bertinggi kurang dari 8 meter memudahkan para suporter untuk memasuki stadion secara gratis. Hanya bermodal seonggok bambu, spanduk, ataupun beberapa buah syal yang disambung dapat digunakan para penonton sebagai sarana olahraga panjat dinding secara bebas.
Alhasil dari kapasitas stadion (termasuk sentelban) yang mampu menampung 20ribuan penonton, hanya 14ribuan diantaranya yang bertiket. Hanya sekitar 70% penonton yang bertiket, sisanya masuk ke stadion secara gratis lewat berbagai cara.
Guna menanggulangi masalah tersebut, berbagai terobosan dilakukan panpel Arema. Untuk mencegah suporter nekad memanjat dinding stadion, ditempatkan beberapa regu tenaga keamanan untuk berjaga di sekitar dinding stadion. Selain itu, pihak pengelola stadion juga memasang kawat/besi berduri di dinding bagian atas.
Beberapa insiatif tersebut memang berhasil mengurangi kenekadan penonton yang mencoba masuk ke stadion. Aksi-aksi nekad semacam ini baru mereda setelah Arema memindahkan kandang ke stadion yang memiliki tinggi dinding lebih tinggi, misalnya Stadion Kanjuruhan di Kabupaten Malang.
Toh ternyata penyebab kebocoran tiket Arema tidak hanya disebabkan oleh aksi panjat dinding stadion semata. Selama dua dasawarsa terakhir, Panpel Arema seakan sudah kenyang asam garam akibat aksi yang menimbulkan terjadinya kebocoran tiket.
Berbagai strategi dicoba oleh Panpel untuk mengurangi angka kebocoran tiket. Untuk mencegah penggunaan tiket palsu dalam pertandingan Arema, panpel bekerjasama dengan petugas keamanan dan portir untuk mensortir lebih teliti tiket yang diserahkan oleh penonton saat memasuki stadion. Namun tindakan ini baru sebatas manual, karena terhambat belum tersedianya sistem dan prasarana yang dibutuhkan.
Selain itu Panpel Arema juga pernah mengurangi jumlah tiket yang dijual. Meskipun jumlah tiket yang dijual sebelumnya sesuai kapasitas, senyampang angka kebocoran tiket masih belum menunjukkan angka nol, Panpel 'terpaksa' melakukannya untuk menjaga lonjakan penonton tak bertiket yang akan memenuhi tribun stadion.
Jika bertahun-tahun lalu jumlah tiket yang dijual mencapai 42500, namun perlahan-lahan tiket yang terjual dikurangi hingga sekitar 33ribuan saja untuk pertandingan Arema di Stadion Kanjuruhan. Untuk pertandingan di Stadion Gajayana jumlah tiket yang dijual berada di kisaran 23ribuan dari kapasitas yang mencapai 30ribu orang.
Panpel Arema juga memasang spanduk di beberapa titik stadion untuk mensosialisasikan gerakan menonton pertandingan dengan bertiket. Khusus Panpel Arema ISL menerapkan penggunaan gelang penanda di tiap pertandingan yang akan diberikan bagi penonton bertiket sejak 7 Februari 2013. Dalam beberapa waktu kedepan akan didapat data statistik berupa efektifnya pemakaian gelang untuk mengurangi kebocoran tiket. Untuk mengurangi kebocoran tiket hingga nol persen, dibutuhkan beberapa effort lain dari Panpel Arema untuk mengatasinya .

C. PERSISAM
Musim lalu Stadion Segiri sebagai tempat penyenggaraan pertandingan ISL 2011-2012 sempat mengalami kecolongan adanya penonton tak bertiket. Meski tidak disebutkan berapa jumlah prosentase kebocoran namun masalah ini sempat menimbulkan keresahan bagi klub.
Masalah ini tak luput dari perhatian manajemen. Dikutip dari Tribunnews, manajemen Persisam Putra Samarinda memastikan bakal mengganti pengelola ataupun panitia penyelenggara Stadion Segiri Samarinda, untuk pertandingan kompetisi Indonesia Super League (ISL) musim 2012/2013.
Alasan pergantian pengelola atau penyelenggara, lantaran diduga pengelolaan penjualan tiket pertandingan bocor dan menyebabkan tidak memenuhi target pendapatan dari penjualan karcis penonton.

Solusi:
Diluar upaya dan tindakan yang dilakukan oleh klub, sejatinya terdapat banyak solusi yang dapat diambil untuk mencegah terjadinya kebocoran tiket.
Berikut ini adalah contoh solusi yang dapat digunakan oleh para panpel dan klub untuk mencegah terjadinya kebocoran tiket. Solusi ini dirangkum dari berbagai sumber serta hasil analisa dari berbagai sumber serta hasil analisa dari berbagai sumber terjadinya kebocoran tiket diatas :




A. UNSUR PANPEL

  1. Pemilihan petugas yang benar-benar terseleksi dengan baik dan sanggup mengemban dan melaksanakan tugas sesuai dengan job description yang telah ditentukan oleh Panpel.
  2. Ketegasan dari panpel/petugas didalam stadion bilamana terdapat penonton yang tak bertiket dan tidak dapat menunjukkan bukti potongan tiket yang dimilikinya sesuai dengan nomor bangku yang ia tempati.
  3. Pemberian reward dan punishment bagi petugas yang berjaga di pintu masuk stadion. Tambahan komisi dapat diberikan kepada petugas yang berhasil mencegah kebocoran tiket, dimana jumlah penonton yang masuk dan dihitung oleh petugas checker (telah terseleksi dan dipercaya dengan baik) sesuai dengan jumlah tiket yang diterima dari penonton di pintu masuk tersebut. Award lain dapat digunakan pada momen tertentu bilamana terdapat petugas yang konsisten dalam melaksanakan tugasnya dan telah dinilai secara layak oleh klub.
  4. Rotasi atau pergantian petugas

B. UNSUR PENONTON
  1. Kampanye budaya slogan 'masuklah stadion dengan membawa tiket yang sah', 'stop budaya masuk stadion dengan jalan nrombol', dan sejenisnya dan diterapkan dengan sebaik-baiknya menjelang pertandingan sepakbola dilaksanakan.
  2. Tidak memaksakan diri untuk masuk ke stadion dengan cara ilegal jika tidak memiliki tiket pertandingan yang sah.
  3. Membangun kesadaran diantara sesama suporter bilamana klub membutuhkan partisipasi suporter secara ekonomis dengan wujud pembelian tiket bilamana ingin menonton pertandingan.

C. SISTEM
  1. Menerapkan sistem ticketing 1 buah tiket hanya dapat digunakan untuk 1 orang saja.
  2. Memberlakukan beberapa tarif dan jenis tiket sesuai tempat duduk dan peruntukannya. Misal : pembuatan tiket untuk anak-anak/pelajar maupun golongan tertentu dengan tarif reduksi. Untuk penonton dibawah umur/manula sebesar 20-25% yang lazim digunakan oleh panpel di stadion di Eropa.
  3. Memberlakukan electric ticket dan electronic gate system (sistem pemindai berdasarkan infra red, barcode, dan lainnya), untuk mendeteksi dan mencegah pemalsuan tiket (automatic system), dimana hanya penonton bertiket dan telah dipindai secara otomatis oleh sistem yang terintegrasi dengan server database dapat masuk ke stadion. Sistem akan menerima data dari tiket yang dimasukkan oleh pengunjung, diolah server untuk dilakukan verifikasi dan pencocokan data (barcode, nomor tiket, dsb). Jika valid maka data akan dikirim kembali ke rangkaian sistem di pintu masuk dan pintu dibuka secara otomatis untuk penonton yang bertiket sah tersebut.
  4. Petugas dapat membawa mobile checker bilamana jika didalam stadion timbul perselisihan yang disebabkan oleh tiket yang memiliki barcode, nomor ganda maupun tiket yang tidak dipindai dengan baik akibat sistem scanning di pintu masuk mengalami masalah.
  5. Membuat program 'nonton bareng' diluar stadion bagi penonton yang tak kebagian tiket masuk (dapat digunakan pada pertandingan yang sold out penjualan tiketnya). Agar lebih ekonomis, klub dapat menyediakan tempat tersendiri secara 'eksklusif' dengan memberikan beberapa layanan yang menguntungkan secara ekonomis bagi penonton dan klub.
  6. Memberlakukan sistem ring, hanya penonton bertiket yang dapat mengakses kawasan ring terdekat dengan stadion. Agar tidak terjadi bercampurnya antara penonton bertiket dan tak bertiket di area ring terdekat (ring 1), maka ticket box dapat dibuat diluar ring 1 seperti halnya yang terdapat pada kawasan Gelora Bung Karno di Jakarta.
  7. Pembuatan sistem antrian yang 'berliku' dan kokoh untuk mencegah antrian penonton yang tak tertib dan nrombol.
  8. Bilamana Panpel hanya dapat menerapkan sistem manual bagi masuknya penonton ke stadion, seyogyanya dapat menyediakan petugas tambahan untuk menghitung jumlah penonton yang masuk ke stadion (checker) dengan menggunakan beberapa alat manual. Hasil perhitungan kemudian dicocokkan dengan jumlah tiket yang diterima oleh petugas pintu masuk stadion. Selisih perhitungan antara petugas checker dengan tiket yang terkumpul di pintu masuk tertentu dapat dijadikan sebagai acuan untuk melakukan perhitungan jumlah kebocoran tiket. Kemudian panpel dapat melakukan inisiasi dan tindakan lebih lanjut untuk memperkecil atau menekan angka kebocoran tiket dalam pertandingan-pertandingan selanjutnya.

D. INFRASTRUKTUR
  1. Pembuatan single seat ataupun kursi bernomor di tribun penonton. Kursi yang hendak digunakan haruslah sesuai dengan nomor yang tertera pada tiket masuk.
  2. Pembuatan beberapa kawasan ring di kawasan stadion untuk membedakan antara penonton yang telah memegang tiket masuk yang dapat mengakses kawasan ring terdekat dengan stadion. Antar kawasan ring dapat dipisahkan dengan pagar.
  3. Penambahan pintu masuk stadion untuk mencegah antrian atau penumpukan calon penonton di beberapa pintu masuk tertentu.
  4. Mempertinggi dinding tribun untuk mencegah penonton nekat dan berusaha mengakses masuk stadion secara ilegal dengan jalan memanjat dinding stadion.
  5. Penyediaan sarana dan fasiltias pendukung di dalam stadion seperti pintu dan pagar masuk stadion yang kokoh, gerbang/pintu elektronik, dan sebagainya.
http://www.wearemania.net/4868-editorial-kebocoran-tiket-siapa-yang-rugi