Selasa, 25 Juni 2013

Singa Tua Itu Bernama Keith Kayamba Gumbs

 

Tua tidak berarti keropos, tua juga tidak berarti lemah. Karena tidak jarang sesuatu yang semakin tua justru semakin baik, dalam lingkup manusia, sesuatu yang tua akan semakin dewasa dan matang.
Salah satu sosok yang kini menjadi kapten sekaligus pemimpin dan panutan bagi rekan-rekannya di Arema adalah sosok tua Keith Kayamba Gumbs, bisa dibilang tua karena pemain ini berumur 40 tahun.
Namun, dia yang tahun lalu membawa Sriwijaya juara Indonesia Super Liga tetaplah sosok yang garang dan ganas di depan kotak pinalti. Bahkan gaya mainnya sudah berubah, bisa menjadi pemain sayap ataupun gelandang bertahan.

Kondisi tua tidak menjadi Rahmad Darmawan [RD] alergi. Dia bahkan sangat yakin mantan anakbuahnya itu bisa menjadi senjata pamungkas plus bisa membimbing rekan-rekannya menjadi satu tim yang solid.
Dengan dua tim yang berbeda, maka diperlukan sosok pemimpin yang handal yang tidak terpengaruh oleh kubu Pelita dan Arema. Maka Gumbs yang datang dari Sriwijaya menjadi pilihan yang netral dan sangat pas untuk dijadikan kapten.
Kondisi fisik Kayamba juga sangat terjaga dengan baik. Di kompetisi negeri ini, pemain berusia 35 ke atas banyak berlaga di level bawah kompetisi. Namun Kayamba sangat berbeda.

Bandingkan dengan rekrutan baru Arema Indonesia, Yericho Christiantoko. Pemain yang didatangkan dari CS Vise Belgia itu masih berusia 20 tahun dan itu berarti Yericho baru dilahirkan ke dunia ketika Keith sudah menjadi pesepakbola profesional. Namun usia tidak menjadi pertimbangan RD.
Karena itulah Keith Kayamba direkrut untuk Arema. Selain dia punya fisik yang stabil, Disamping sangat tegas membimbing pemain muda, dia juga punya selera humor yang tinggi yang tidak membuat pemain Arema merasa terintimidasi.

"Keith mempunyai kepribadian yang bagus di lapangan maupun di luar lapangan, sehingga bisa menjadi contoh bagi pemain muda. Dia tak menampik bahwa pemainnya itu diserahi tugas ekstra, yakni melakukan fungsi tutorial kepada pemain belia Arema, dia juga sangat komunikatif kepada rekan-rekannya. Ini sangat baik buat perkembangan pemain muda," kata RD.
Kayamba pun sudah menjadi pemimpin bagi rekan satu timnya ketika melakukan pemanasan maupun pendinginan usai latihan. Semua anggota tim pun percaya dan mau mengikuti instruksi pemain asal Saint Kitts and Nevis ini.

"Saya berterima kasih kepada pelatih yang masih memberikan kepercayaan, terutama menjadi kapten. Bergabung dengan klub sebesar Arema tentu sangat menyenangkan. Saya akan berupaya keras untuk membayar kepercayaan Arema. Kalau bisa saya ingin meraih gelar di sini" kata Keith Kayamba Gumbs dikutip dari Sindo.
 

Rahasia Kebugaran Keith Kayamba Gumbs



  
Di usianya yang melewati 40 tahun sejak 11 September lalu, Kayamba masih terlihat bugar saat latihan. Materi latihan endurance bisa dilahapnya tanpa rasa letih. Apa rahasianya?

Kontrak dengan durasi satu musim sudah ditandatangani Kayamba kemarin siang di kantor Arema Jalan Kertanegara 7 Kota Malang. Seakan ingin menunjukkan kalau kondisinya masih fit, sekitar pukul 14.30 WIB pemain asal negara Saint Kitts and Nevis ini langsung berangkat ke Stadion Kanjuruhan dengan mengenakan fasilitas mobil tim.

Dan Kayamba pun tiba lebih awal dibandingkan dengan rekan-rekannya yang menggunakan bus. Sadar masih belum ada siapa-siapa dalam stadion, pencetak 22 gol musim lalu ini langsung melakukan pemanasan sendiri dengan mengelilingi lintasan lapangan dua kali. Setelah itu baru Kayamba gabung dengan latihan yang dipimpin asisten pelatih Satia Bagja Ijatna. Usai mengikuti latihan endurance 2,5 jam, Kayamba juga terlihat masih segar ketika meladeni Aremania yang ingin foto bersama atau sekadar bersalaman.
"Usia memang sudah 40 tahun tapi tenaga masih 20 tahun," gurau Kayamba.

Sampai saat ini, Kayamba mengaku masih belum berfikir tentang pensiun. Karena di pikirannya saat ini, dia ingin bermain terus selama fisiknya masih terjaga. "Saya jaga kondisi tubuh saya. Karena itu penting. Banyak sekarang pemain masih muda tapi usianya sudah tua. Itu karena pola hidup yang kurang sehat," ujarnya.
Apa yang dikatakan Kayamba memang terbukti. Ketika ada yang merokok, dirinya langsung menghindar atau bahkan menegurnya. Itu sudah pernah dilakukannya kepada salah satu sopir tim Arema yang merokok di dekamya. "Saya tidak suka lihat atau dekat dengan orang merokok," cetusnya.

Niatan pemain yang mengawali karir sepak bola profesional sejak tahun 1989 ini untuk terus bermain diutarakan dengan tidak ingin menjadi asisten pelatih seperti yang dilakukannya ketika di Sriwijaya FC.
"Di pikiran saya ini hanya ada main bola. Karena saya dikontrak untuk main. Bukan untuk melatih. Dan saya rasa di sini sudah banyak tim pelatih. Jadi saya tidak ingin campuri tugas mereka," tegasnya.

Sementara itu, arti 40 tahun bagi Kayamba tak dipungkiri jadi hal yang spesial. Karena sudah 23 tahun mantan pemain Kitchee Hongkong ini bermain sepakbola. Sehingga momen 40 tahun ini digunakannya sebagai nomor punggungnya di Arema-Pelita Jaya.

"Saya ingin pakai nomor 40 dengan ukuran kaus L," ujarnya kemudian tersenyum.
Sementara itu ketika ditanya terkait momen manis selama berkarir di dunia sepakbola, Kayamba mengakui kalau semua tim yang dibelanya memberikan kenangan tersendiri. Namun saat ini Kayamba tak ingin membicarakan itu. Karena dia hanya ingin membahas masa depannya.
"Itu semua adalah lembaran lama. Sekarang saya ingin juara dengan lembaran baru di tim ini," guman penggemar balap Formala 1 ini.

Perlu diketahui, selain masih aktif bermain di klub profesional, Kayamba sampai kini juga masih terdaftar di timnas negaranya. Meski bukan berasal dari negara yang kental dengan budaya sepakbola. Tapi Kayamba sudah memiliki 131 caps dan 47 gol. Itu dicapainya sejak pertama terjun sebagai pemain sepak bola profesional, tahun 1989 (Radar)
http://www.wearemania.net/arema/legends/2590-rahasia-kebugaran-keith-kayamba-gumbs

Senin, 13 Mei 2013

“Arema Is Arema, Not Just A Football”



Bayangkan hari ini tidak ada tim bernama Arema? Pasti tidak ada yang namanya Aremania, mungkin juga tidakada kebanggaan dari Arek Malang dan mungkin peradaban di Malang Raya ini tak sehebat sekarang. Ya, diakui atau tidak, disadari atau tidak, keberadaan Arema benar-benar memberi arti pada kita semua.

Baik laki-laki, perempuan, anak-anak, dewasa, tua, muda dan semua kalanganmulai dari lapisan paling bawah hingga kelas atas, pernahlah sedikit-banyak bersinggungan dengan yang namanya Arema. Bahkan yang bukan asli Arek Malang pun bangga menjadi Aremania karena tim Singo Edan Arema.

Kini, nama Arema juga tak hanya untukklub. Tambal ban, warung, toko, koran dan yang lainnya pun menggunakan embel-embel nama Arema. Lebih dari itu, Arema seperti sudah mendarah daging, khususnya untuk mereka pendukung setia tim berlogo kepala singa.

Bahkan ada yang menyebut, Arema adalah agama kedua bagi mereka.

Melihat fanatisme terhadap Arema yangluar biasa ini, rasanya naïf jika kita melupakan mereka yang melahirkan Arema. Terlepas bagaimanapun perjalanan Arema hingga saat ini, pendiri Arema, termasuk Lucky Acub Zaenal layak mendapatkan penghargaan dan ucapan terimakasih atas lahirnya Arema, tahun 1987 lalu.

Apalagi bicara soal Arema kini bukan hanya tentang sepakbola. “Arema is Arema, not just a football” demikian kalimat yang sering muncul dari bibir almarhum Sam Ikul dalam setiap kesempatan berdialog dengan Aremania. Ya, Arema adalah Arema, bukan sekadar sepakbola. Kurang-lebih demikian artinya.

Jujur, kalimat ini memiliki makna yang cukup dalam. Soal lima huruf, A, R, E, Mdan A memang tak lagi sekadar urusan dukung mendukung tim Singo Edan di dalam stadion. Di luar stadion pun, mereka yang punya ikatan batin sangatkuat dengan Arema, rela mengorbankan segalanya, termasuk nyawa untuk urusan yang satu itu.

“Arema adalah harga diri,” demikian juga salah satu statemen dari almarhum Sam Ikul.

Nah, kalau sudah seperti ini, Arema memang bukan hanya urusan menang atau kalah di lapangan. Arema menjadi sumber inspirasi, jadi penyemangat, jadi pemersatu, jadi sumber pemasukan, dan lain sebagainya.

Coba lihat, berapa rupiah perputaran uang saat Arema bertanding, baik itu dikandang maupun di luar kandang. Banyak pihak yang merasakan keuntungan dari Arema, baik dengan cara jujur maupun tidak. Pastinya, keberadaan Arema menjadi salah satu penggerak roda perekonomian, di Malang maupun di luar Malang.

Sekali lagi, Arema bukan sekadar sepakbola. Hal ini juga sangat terasa bagi arek-arek Malang yang berada di luar Malang, khususnya mereka yang ada di perantauan di luar Jawa. Merekayang dari Malang alias asli dari Malang, keturunan Malang, pernah hidup di Malang atau menikahi orang Malang, bakal disebut Arema (arek Malang).
Sehingga wajar jika komunitas Arema di perantauan menyebut mereka sesuai daerahnya, seperti Arema Papua (arek Malang yang ada di Jayapura), Arema Borneo (arek Malang yang ada di Kalimantan), Arema Batavia (arek Malang yang ada di Jakarta dan sekitarnya) dan banyak lainnya.

Saya adalah salah satu wartawan yang beruntung, bisa melihat kiprah Arema diseluruh Indonesia bahkan sempat ke luar negeri. Sehingga sedikit-banyak bisa memaknai apa yang diucapkan almarhum Sam Ikul. Arema is Arema, not just a football. Saya juga cukup beruntung, sempat diangkat sebagai adik dari almarhum.

Meski saya mungkin tak banyak mengenal sosok Sam Ikul sebenarnya, bahkan almarhum mungkin juga tak mengetahui wajah saya seperti apa, namun ikatan persaudaraan sudah terjalin. Bagaimanapun, kiprah dan semangatnya melahirkan dan menjaga Arema bakal selalu dikenang oleh Arek Malang.

Selamat jalan Sam Ikul, terimakasih yang setulus-tulusnya atas perjuanganmu selama ini. Semoga amalibadahmu diterima disisi Allah, semoga segala ujian untukmu jelang akhir hayatmu ini jadi penghapus dosamu. Dan untuk Arema, biarkan waktu yang manjaga selamanya. Amin.


Sabtu, 13 April 2013

Nostalgia - Ada Polisi Miran, Suporter Tak Berani Bikin Rusuh



Selain bertugas sebagai polisi yang mengatur lalu lintas di jalan raya, Miran juga sering diminta untuk ikut mengamankan pertandingan sepakbola di Malang.

Bagi warga Malang, generasi 90-an, pasti banyak yang kenal dengan sosok polisi keras dan tegas ini. Muhammad Miran, begitu nama lengkapnya, adalah sosok polisi yang disegani oleh bawahannya di jajaran dinas kepolisian kota Malang serta ditakuti di jalan raya khususnya oleh para sopir angkutan umum dan tukang becak.

Tidak hanya sebagai polisi yang bertugas mengatur jalan raya, Miran juga sering diminta untuk menertibkan sekaligus menjaga keamanan pertandingan sepakbola di Malang.

Sekitar tahun 90-an, klub sepakbola Malang, Arema dan Persema, sebelum dibangunnya stadion Kanjuruhan, menggunakan satu stadion saja untuk melakoni laga home yaitu di Stadion Gajayana.
Untuk laga home ini, khususnya pertandingan Arema, pihak kepolisian selalu mengirimkan jumlah personil yang lebih dibandingkan ketika Persema menjadi tuan rumah.

Ini karena jumlah penonton pertandingan Arema selalu membludak dan sangat ramai diminati dibandingkan dengan pertandingan Persema.

Setiap kali ada pertandingan Arema, Miran juga selalu menjadi salah satu pengaman jalannya pertandingan. Di tahun tersebut, atmosfir kompetisi Galatama atau awal dibentuknya Liga Indonesia, nama kompetisi sepakbola Indonesia pada tahun 90an, selalu identik dengan yang namanya suporter rusuh, walaupun masih saja sama seperti sekarang.

Menurut salah satu Aremania yang ikut merasakan era tersebut, Miran adalah salah satu komandan polisi di lapangan ketika pertandingan Arema atau Persema berlangsung.

"Ketika ada pertandingan Arema atau Persema, tidak ada suporter yang berani bikin rusuh karena ada Miran," ungkap Eko, salah seorang Aremania kepada merdeka.com, Rabu (3/04).
Eko juga menuturkan bahwa secara fisik, Miran tidak memiliki tubuh yang tinggi besar. Namun, dia mempunyai keberanian menertibkan puluhan bahkan ratusan suporter yang menyemut di salah satu pintu masuk ke Stadion Gajayana.

Eko juga menuturkan bahwa pernah ada satu kejadian, sekitar tahun 95-an atau awal digulirkannya Ligina 1 atau 2, kala itu Arema menjamu Persipura di Gajayana. Terjadi perkelahian antara seorang suporter dari Arema dan Persipura.

Perkelahian bermula dari saling adu ejek antarsuporter yang mana pendukung tim Arema sebagai tuan rumah, nama Aremania belum digunakan seperti sekarang, merasa tersinggung dan marah ketika ada rekan mereka terluka di kepala karena dipukul oleh suporter tamu.

Kala itu, banyak juga pendukung dari tim Mutiara Hitam tersebut yang ternyata membawa senjata berupa pentungan yang disembunyikan di balik baju mereka. Dikarenakan suasana menjadi tidak kondusif, Miran dengan ketegasannya menggelandang kedua orang yang paling terlihat dan terlibat adu pukul tersebut keluar stadion.

"Miran tidak pandang bulu, tidak peduli orang Malang atau pendukung tim lain, kalau salah ya salah," jelas Eko.

Tidak hanya di dalam atau sekitar stadion Gajayana saja, Miran juga menuturkan kepada merdeka.com, dia tidak segan-segan mengambil tindakan keras apabila ada konvoi suporter yang bertindak ngawur, brutal, dan anarkis.

Pada tahun-tahun tersebut, aksi sweeping terhadap mobil dengan plat L sering terjadi. Apabila sebelum atau setelah pertandingan tersebut ada kendaraan dengan plat L melintas, pasti akan menjadi bulan-bulanan suporter.

"Tidak peduli, kalau memang perlu ditindak ya harus ditindak supaya kondisi kota Malang tetap kondusif," jelas Miran.
Sampai sekarang, Miran adalah polisi legendaris di Malang. Namanya tak pernah habis dibicarakan.
http://www.wearemania.net/sejarah/3269-nostalgia-ada-polisi-miran-suporter-tak-berani-bikin-rusuh

Anarkisme & Rasisme Suporter, Generasi Masa Depan Korbannya



Sepakbola merupakan olahraga terbesar dan paling banyak digemari di seluruh dunia. Di dalamnya terdapat sportivitas, solidaritas, dan integritas. Suporter adalah salah satu elemen penting dalam sepak bola. Tanpa suporter, atmosfer pertandingan sepak bola terasa hambar. Bagai sayur tanpa garam (Usman, 2010). Mereka memberikan dukungan secara moril dan materiil dengan menggunakan atribut-atribut yang menjadi ciri khas dari tim kesayangannya. Seperti warna, simbol binatang sebagai maskot, dan julukan khusus bagi para suporter dan timnya.

Dalam konteks sosial, sepakbola bisa sebagai alternatif menghilangkan rasa frustasi akibat himpitan hidup yang kian hari kian berat. Sepakbola bisa dijadikan media untuk menumpahkan segala kepenatan dan rasa frustasi masyarakat. Masyarakat tidak sekadar mencari hiburan untuk mengurangi kepenatan hidup lewat permainan akraktif pe-sepakbola di lapangan, tetapi seringkali mengidentifikasi kesebelasan favoritnya sebagai wakil penyampaian aspirasinya. Suporter dimanapun tentu mengharapkan kemenangan dan kejayaan timnya. Kemenangan merupakan dimensi tujuan setiap suporter menyaksikan pertandingan. Namun sayangnya, dimensi tujuan itu menjadi harga mati dan menimbulkan perasaan frustasi yang berlebihan apabila jauh dari harapan.

Pada intinya suporter adalah sumber sportivitas, solidaritas, integritas, dan kemeriahan dalam sepakbola. Tetapi sepakbola juga menyimpan fanatisme yang sering berujung anarkis. Suporter dapat membuat sepak bola menjadi ternoda. Suporter acapkali melakukan penyimpangan sosial (social deviation) yang sangat merugikan baik dari sisi moril maupun materiil. Seringkali mereka beranggapan kemenangan adalah harga mati yang harus dibayar dengan maskulinitas. Tujuannya untuk membangun citra bahwa mereka menjujung solidaritas.

Di Indonesia, kasus-kasus huru-hara sepak bola sudah sering terjadi. Seperti kasus yang pernah terjadi antara lain menghancurkan kaca-kaca stadion, membakar mobil, dan penjarahan terhadap pedagang-pedagang di stasiun. Kasus yang ditampilkan tersebut tentu berdampak meluas. Tidak hanya bagi dunia persepakbolaan tanah air melainkan juga memiliki dampak nyata di bidang ekonomi, sosial dan budaya secara luas tentu saja mengganggu stabilitas nasional

Selain anarkisme, isu rasisme pada sepakbola pun menjadi marak. Apakah rasisme itu? Rasisme adalah suatu sistem kepercayaan atau doktrin yang menyatakan bahwa perbedaan biologis yang melekat pada ras manusia menentukan pencapaian budaya atau individu bahwa suatu ras tertentu lebih superior dan memiliki hak untuk mengatur yang lainnya.

Rasisme di sepakbola adalah penyalahgunaan pemain, pejabat dan penggemar karena warna kulit, kebangsaan, agama atau etnis. Beberapa mungkin menjadi target karena hubungan mereka dengan tim lawan. Namun, ada kasus individu yang ditargetkan oleh penggemar mereka sendiri.

Di luar negeri banyak contoh rasis ini, misalnya klub Lazio memang sudah lama dikenal sebagai kubu paling rasis di antara seluruh kubu pendukung klub-klub Seri A di Liga Italia. Maklum saja, dulu klub ini adalah klub kecintaan diktator Italia, Benito Mussolini. Tak mengherankan bila pendukung fanatik kesebelasan ini enak saja menghina pemain Lazio yang menurut mereka tak pantas mewakili klub kesayangannya.

Tentu saja membicarakan rasisme di persepakbolaan Indonesia khususnya suporter sedang hangat-hangatnya di bicarakan. Nyanyian-nyayian yang berbau rasis atau hujatan terhadap sebuah klub atau sekelompok suporter masih sering kita jumpai kala waktu ada pertandingan kompetisi resmi sepak bola di Indonesia. Tentu ini sangat disayangkan karena dapat membuat malu nama kelompok suporternya sendiri, selain dapat memperkeruh hubungan antar suporter, tidak enak di dengarkan dan juga tidak mendidik bagi suporter yang masih berusia dini.

Lagu-lagu rasis yang menjurus ke sebuah lagu hujatan, timbul karena adanya persaingan sebuah kelompok suporter. Setiap kelompok suporter mengaku bahwa kelompok suporternyalah yang paling baik, sebaliknya memandang kelompok suporter lain sebagai suporter yang bercitra buruk. Sebenarnya sah-sah saja jika terdapat seorang suporter mengagung-agungkan nama kelompok suporternya sendiri, karena itu juga berarti sebuah kebanggaan. Namun tidak menjadi sah jika kemudian seorang suporter tersebut menilai bahwa kelompok suporter lain bernilai buruk tanpa sebuah analisa yang cermat dan tepat.

Dangkal rasanya kalau ada yang berpikiran bahwa anarkisme dan rasisme yang terjadi pada supporter Indonesia tersebut dianggap sebagai sebuah bumbu penyedap (memangnya masakan?), sebuah hal yang unik, nyeni, menambah greget dalam persepakbolaan tanah air. Hal ini bukannya meningkatkan prestasi, justru menimbulkan dampak jangka panjang yang memprihatinkan. Anak-anak.

Ya, sepakbola adalah olahraga yang diminati oleh berbagai kalangan, termasuk anak-anak. Apa yang terjadi pada suporter, yang dianggap sebagai sosok keren oleh anak-anak, akan mudah ditiru begitu saja oleh generasi masa depan tersebut tanpa mengetahui sebab musabab bagaimana hal itu terjadi. Doktrin orang-orang dewasa di sekitarnya pun turut memperparah keadaan.

Menurut penelitian Lembaga Kesehatan Mental Nasional Amerika yang dilakukan dalam skala besar selama sepuluh tahun menyimpulkan bahwa kekerasan yang dilihat oleh anak-anak menimbulkan perilaku agresif pada anak-anak dan remaja. Sedangkan Ron Solby dari Universitas Harvard secara terinci menjelaskan, ada beberapa macam dampak kekerasan terhadap perkembangan kepribadian anak. Pertama, dampak agresor di mana sifat jahat dari anak semakin meningkat ketiga, kedua adalah dampak pemerhati, di sini anak menjadi makin kurang peduli terhadap kesulitan orang lain, ketiga dampak nafsu dengan meningkatnya keinginan anak untuk melihat atau melakukan kekerasan dalam mengatasi setiap persoalan.

Miris melihat dengan begitu mudahnya anak-anak menyanyikan yel-yel ala suporter di stadion, atau berlaku urakan. Apakah kemelut antar suporter yang sekarang terjadi harus diwariskan pada generasi berikut, anak cucu kita kelak?

Fanatisme dan loyalitas sebagai pendukung sebuah klub bukan sebuah hal buruk, namun harus didasari oleh kebenaran, agar tidak menimbulkan rasisme dan anarkisme. Kalau bukan kita yang memikirkan generasi masa depan, siapa lagi. Ayo beraksi! (Dari berbagai sumber)
Salam damai untuk suporter Indonesia

Marlitha Geofenny
Penulis adalah Aremanita Parahyangan yang juga Admin Grup Facebook Aremania-Bobotoh satu Warna bukan musuh
http://www.wearemania.net/aremania/aremania-voice/3224-anarkisme-rasisme-suporter-generasi-masa-depan-korbannya