Sepakbola merupakan olahraga terbesar dan paling banyak digemari di seluruh
dunia. Di dalamnya terdapat sportivitas, solidaritas, dan integritas. Suporter
adalah salah satu elemen penting dalam sepak bola. Tanpa suporter, atmosfer
pertandingan sepak bola terasa hambar. Bagai sayur tanpa garam (Usman, 2010).
Mereka memberikan dukungan secara moril dan materiil dengan menggunakan
atribut-atribut yang menjadi ciri khas dari tim kesayangannya. Seperti warna,
simbol binatang sebagai maskot, dan julukan khusus bagi para suporter dan
timnya.
Dalam konteks sosial, sepakbola bisa sebagai alternatif menghilangkan rasa
frustasi akibat himpitan hidup yang kian hari kian berat. Sepakbola bisa
dijadikan media untuk menumpahkan segala kepenatan dan rasa frustasi
masyarakat. Masyarakat tidak sekadar mencari hiburan untuk mengurangi kepenatan
hidup lewat permainan akraktif pe-sepakbola di lapangan, tetapi seringkali
mengidentifikasi kesebelasan favoritnya sebagai wakil penyampaian aspirasinya.
Suporter dimanapun tentu mengharapkan kemenangan dan kejayaan timnya.
Kemenangan merupakan dimensi tujuan setiap suporter menyaksikan pertandingan.
Namun sayangnya, dimensi tujuan itu menjadi harga mati dan menimbulkan perasaan
frustasi yang berlebihan apabila jauh dari harapan.
Pada intinya suporter adalah sumber sportivitas, solidaritas, integritas,
dan kemeriahan dalam sepakbola. Tetapi sepakbola juga menyimpan fanatisme yang
sering berujung anarkis. Suporter dapat membuat sepak bola menjadi ternoda.
Suporter acapkali melakukan penyimpangan sosial (social deviation) yang sangat
merugikan baik dari sisi moril maupun materiil. Seringkali mereka beranggapan
kemenangan adalah harga mati yang harus dibayar dengan maskulinitas. Tujuannya
untuk membangun citra bahwa mereka menjujung solidaritas.
Di Indonesia, kasus-kasus huru-hara sepak bola sudah sering terjadi. Seperti
kasus yang pernah terjadi antara lain menghancurkan kaca-kaca stadion, membakar
mobil, dan penjarahan terhadap pedagang-pedagang di stasiun. Kasus yang
ditampilkan tersebut tentu berdampak meluas. Tidak hanya bagi dunia
persepakbolaan tanah air melainkan juga memiliki dampak nyata di bidang
ekonomi, sosial dan budaya secara luas tentu saja mengganggu stabilitas nasional
Selain anarkisme, isu rasisme pada sepakbola pun menjadi marak. Apakah
rasisme itu? Rasisme adalah suatu sistem kepercayaan atau doktrin yang
menyatakan bahwa perbedaan biologis yang melekat pada ras manusia menentukan
pencapaian budaya atau individu bahwa suatu ras tertentu lebih superior dan
memiliki hak untuk mengatur yang lainnya.
Rasisme di sepakbola adalah penyalahgunaan pemain, pejabat dan penggemar
karena warna kulit, kebangsaan, agama atau etnis. Beberapa mungkin menjadi
target karena hubungan mereka dengan tim lawan. Namun, ada kasus individu yang
ditargetkan oleh penggemar mereka sendiri.
Di luar negeri banyak contoh rasis ini, misalnya klub Lazio memang sudah
lama dikenal sebagai kubu paling rasis di antara seluruh kubu pendukung
klub-klub Seri A di Liga Italia. Maklum saja, dulu klub ini adalah klub
kecintaan diktator Italia, Benito Mussolini. Tak mengherankan bila pendukung
fanatik kesebelasan ini enak saja menghina pemain Lazio yang menurut mereka tak
pantas mewakili klub kesayangannya.
Tentu saja membicarakan rasisme di persepakbolaan Indonesia khususnya
suporter sedang hangat-hangatnya di bicarakan. Nyanyian-nyayian yang berbau
rasis atau hujatan terhadap sebuah klub atau sekelompok suporter masih sering
kita jumpai kala waktu ada pertandingan kompetisi resmi sepak bola di
Indonesia. Tentu ini sangat disayangkan karena dapat membuat malu nama kelompok
suporternya sendiri, selain dapat memperkeruh hubungan antar suporter, tidak
enak di dengarkan dan juga tidak mendidik bagi suporter yang masih berusia
dini.
Lagu-lagu rasis yang menjurus ke sebuah lagu hujatan, timbul karena adanya
persaingan sebuah kelompok suporter. Setiap kelompok suporter mengaku bahwa
kelompok suporternyalah yang paling baik, sebaliknya memandang kelompok
suporter lain sebagai suporter yang bercitra buruk. Sebenarnya sah-sah saja
jika terdapat seorang suporter mengagung-agungkan nama kelompok suporternya
sendiri, karena itu juga berarti sebuah kebanggaan. Namun tidak menjadi sah
jika kemudian seorang suporter tersebut menilai bahwa kelompok suporter lain
bernilai buruk tanpa sebuah analisa yang cermat dan tepat.
Dangkal rasanya kalau ada yang berpikiran bahwa anarkisme dan rasisme yang
terjadi pada supporter Indonesia tersebut dianggap sebagai sebuah bumbu
penyedap (memangnya masakan?), sebuah hal yang unik, nyeni, menambah greget
dalam persepakbolaan tanah air. Hal ini bukannya meningkatkan prestasi, justru
menimbulkan dampak jangka panjang yang memprihatinkan. Anak-anak.
Ya, sepakbola adalah olahraga yang diminati oleh berbagai kalangan, termasuk
anak-anak. Apa yang terjadi pada suporter, yang dianggap sebagai sosok keren
oleh anak-anak, akan mudah ditiru begitu saja oleh generasi masa depan tersebut
tanpa mengetahui sebab musabab bagaimana hal itu terjadi. Doktrin orang-orang
dewasa di sekitarnya pun turut memperparah keadaan.
Menurut penelitian Lembaga Kesehatan Mental Nasional Amerika yang dilakukan
dalam skala besar selama sepuluh tahun menyimpulkan bahwa kekerasan yang
dilihat oleh anak-anak menimbulkan perilaku agresif pada anak-anak dan remaja.
Sedangkan Ron Solby dari Universitas Harvard secara terinci menjelaskan, ada
beberapa macam dampak kekerasan terhadap perkembangan kepribadian anak.
Pertama, dampak agresor di mana sifat jahat dari anak semakin meningkat ketiga,
kedua adalah dampak pemerhati, di sini anak menjadi makin kurang peduli
terhadap kesulitan orang lain, ketiga dampak nafsu dengan meningkatnya
keinginan anak untuk melihat atau melakukan kekerasan dalam mengatasi setiap
persoalan.
Miris melihat dengan begitu mudahnya anak-anak menyanyikan yel-yel ala
suporter di stadion, atau berlaku urakan. Apakah kemelut antar suporter yang
sekarang terjadi harus diwariskan pada generasi berikut, anak cucu kita kelak?
Fanatisme dan loyalitas sebagai pendukung sebuah klub bukan sebuah hal
buruk, namun harus didasari oleh kebenaran, agar tidak menimbulkan rasisme dan
anarkisme. Kalau bukan kita yang memikirkan generasi masa depan, siapa lagi.
Ayo beraksi! (Dari berbagai sumber)
Salam damai untuk suporter Indonesia
Marlitha Geofenny
Penulis adalah Aremanita Parahyangan yang juga Admin Grup Facebook
Aremania-Bobotoh satu Warna bukan musuh
http://www.wearemania.net/aremania/aremania-voice/3224-anarkisme-rasisme-suporter-generasi-masa-depan-korbannya