Allah Swt Tuhanku, Nabi Muhammad Saw Junjunganku, Islam Agamaku, Fanatisme itu tidak lahir dengan sendirinya!!!!!! Dari Bumi OYONID untuk AREMA INDONESIA. AREMANIABERGERAK IKLAS TANPA PAKSA!!! KAMI TAK TERBENDUNK!!!!
Jumat, 12 Oktober 2012
Sejarah Alun-alun Tugu Malang
Siapa sih warga Malang yang tidak tahu letak alun-alun Tugu,
Ngalamers? Semuanya bahkan para pendatang pasti tahu dimana letak
alun-alun Tugu karena memang tempat ini sudah menjadi icon dari Kota
Malang. Hal ini juga ditunjang oleh sekeliling alun-alun yang menjadi
tempat berdirinya tempat-tempat penting, seperti Balaikota, Gedung DPRD
Malang, sekolah SMA Tugu, hingga Hotel Tugu.
Alun-alun Tugu atau yang juga biasa disebut dengan alun-alun bundar ini memang terkenal indah. Rumput serta tanaman yang tertata rapi menjadikan alun-alun Tugu sebagai jujugan warga yang ingin melepas lelah sembari memandang kolam yang dihiasi bunga teratai. Keindahan alun-alun Tugu semakin mempesona saat malam tiba. Tugu berwarna hitam yang berdiri kokoh akan dibanjiri oleh sinar lampu berwarna-warni yang semakin memperindah keberadan tugu tersebut. Apalagi terkadang air mancurnya juga dinyalakan. Wah, Ngalamers pasti akan betah berlama-lama disini.
Apakah pernah terlintas di pikiran Ngalamers, bagaimana ceritanya ya kok alun-alun Tugu ini bisa berdiri? HaloMalang akan mencoba menjawab pertanyaan tersebut. Silahkan disimak :)
Menurut Media Center Kendedes, taman cikal bakal alun-alun Tugu dibangun oleh Gubernur Pemerintah Hindia Belanda pada masa pemerintahan Guberbur Jenderal Jaan Pieter Zoen Coen. Pada waktu itu model taman ini masihlah sederhana berupa taman terbuka tanpa ada tugu dan tanpa dibatasi pagar. Taman ini dibangun sebagai pelengkap halaman gedung Kegubernuran Hindia Belanda.
Kemudian,
setahun setelah kemerdekaan Indonesia hasil KMB di Den Haag tepatnya 17
Agustus 1946, masyarakat Malang mendesak untuk merubah struktur
pemerintahan daerahnya dengan menjadikan orang Indonesia sebagai
pimpinannya. Pada saat itu pula diletakkan batu pertama pertanda
dibangunnya Monumen Tugu yang ditandangani oleh Mr. Soekarno dan A.G.
Suroto.
Namun sayangnya, monumen Tugu sempat dihancurkan Belanda pada saat Agresi Militer Belanda I tahun 1948. Belanda menghancurkan monumen Tugu sebagai bentuk kekesalan Belanda atas kegigihan arek-arek Malang. Pada tahun 1953 monumen Tugu dibangun kembali oleh pemerintah Malang dan diresmikan (lagi) oleh Presiden RI pada waktu itu, Ir. Soekarno.
Namun sayangnya, monumen Tugu sempat dihancurkan Belanda pada saat Agresi Militer Belanda I tahun 1948. Belanda menghancurkan monumen Tugu sebagai bentuk kekesalan Belanda atas kegigihan arek-arek Malang. Pada tahun 1953 monumen Tugu dibangun kembali oleh pemerintah Malang dan diresmikan (lagi) oleh Presiden RI pada waktu itu, Ir. Soekarno.
Alun-alun
Tugu juga ternyata tidak dibuat dengan asal-asalan, Ngalamers. Monumen
Tugu yang berada di tengah melambangkan pusat untuk kelima penjuru arah,
dimana arah yang lebih diutamakan adalah yang menuju Gedung Balaikota.
Sedangkan keempat arah lainnya mewakili jalan raya yang berada di luar
lingkaran taman ini.
Bentuk monumen Tugu juga memiliki arti tersendiri. Puncak monumen Tugu berbentuk bambu tajam yang berarti bahwa senjata inilah yang pertama kali digunakan bangsa Indonesia untuk melawan penjajah. Ada juga rantai yang menggambarkan kesatuan rakyat Indonesia yang menyatu dan tidak dapat dipisahkan.
Bentuk monumen Tugu juga memiliki arti tersendiri. Puncak monumen Tugu berbentuk bambu tajam yang berarti bahwa senjata inilah yang pertama kali digunakan bangsa Indonesia untuk melawan penjajah. Ada juga rantai yang menggambarkan kesatuan rakyat Indonesia yang menyatu dan tidak dapat dipisahkan.
Makna lainnya juga terletak pada tangga yang berbentuk 4 dan 5 sudut, bintang yang mempunyai 8 tingkat dan 17 pondasi. Jika digabungkan maka hal ini melambangkan tanggal kemerdekaan Indonesia yaitu 17 Agustus 1945. Sementara itu, bunga teratai berwarna putih dan merah yang berada di kolam sekeliling Tugu melambangkan keberanian dan kesucian. Hal ini sesuai dengan warna bendera Indonesia.
Wah ternyata alun-alun Tugu dibangun dengan penuh makna ya Ngalamers. Jadi ketika Ngalamers melintas di kawasan alun-alun Tugu ingatlah akan jasa para pahlawan pendahulu kita ya :)
http://halomalang.com/serba-serbi/ngalamers-harus-tahu-sejarah-alun-alun-tugu-malang
Alun-Alun Tugu Kota Malang 1
Alun-Alun Tugu Kota Malang sering juga
disebut sebagai Alun-alun Bundar karena memang berbentuk lingkaran.
Dibangun pada masa pemerintahan kolonial Belanda, alun-alun ini memiliki
sebuah tugu yang berdiri kokoh. Tugu yang menjadi kebanggaan Kota
Malang ini dulunya merupakan Taman Gubernur Jendral Hindia Belanda J.P.
Zoen Coen.
Dikelilingi oleh taman berbunga yang sangat indah serta beberapa pohon Trembesi, tepat di bawah tugu terdapat kolam yang penuh dengan bunga teratai yang selalu mekar. Tepat terletak di depan gedung Balai Kota Malang, Alun-Alun Bundar ini kerap menjadi lokasi untuk sesi foto pra-wedding. Tidak heran memang karena keindahan taman alun-alun Tugu ini memang begitu mempesona.
Meskipun terletak di tengah kota yang seharusnya di penuhi dengan polusi, tetapi udara segar khas Kota Malang tetap bisa Ngalamers rasakan. Selain terletak tepat di depan Kantor Balai Kota, Alun-Alun Tugu Kota Malang juga terletak dekat dengan beberapa sekolah menengah atas seperti SMA 1 dan SMA 4, kantor DPRD Kota Malang, Hotel Tugu, serta stasiun kereta api kota Malang. Ngalamers juga tidak akan butuh waktu lama untuk menuju beberapa pusat perbelanjaan seperti Ramayana, Mitra, Gajahmada, Sarinah, Malang Plaza, atau Matahari Department Store. Selain itu, Ngalamers hanya perlu untuk berjalan 5 menit untuk sampai di pasar hewan dan pasar bunga.
Waktu paling pas untuk datang ke alun-alun ini adalah pada pagi atau sore hari dimana sering terdapat banyak orang melakukan aktivitas olahraga. Jika malam hari alun-alun tugu akan disinari berbagai macam warna lampu yang semakin menambah keindahan alun-alun ini.
Dikelilingi oleh taman berbunga yang sangat indah serta beberapa pohon Trembesi, tepat di bawah tugu terdapat kolam yang penuh dengan bunga teratai yang selalu mekar. Tepat terletak di depan gedung Balai Kota Malang, Alun-Alun Bundar ini kerap menjadi lokasi untuk sesi foto pra-wedding. Tidak heran memang karena keindahan taman alun-alun Tugu ini memang begitu mempesona.
Meskipun terletak di tengah kota yang seharusnya di penuhi dengan polusi, tetapi udara segar khas Kota Malang tetap bisa Ngalamers rasakan. Selain terletak tepat di depan Kantor Balai Kota, Alun-Alun Tugu Kota Malang juga terletak dekat dengan beberapa sekolah menengah atas seperti SMA 1 dan SMA 4, kantor DPRD Kota Malang, Hotel Tugu, serta stasiun kereta api kota Malang. Ngalamers juga tidak akan butuh waktu lama untuk menuju beberapa pusat perbelanjaan seperti Ramayana, Mitra, Gajahmada, Sarinah, Malang Plaza, atau Matahari Department Store. Selain itu, Ngalamers hanya perlu untuk berjalan 5 menit untuk sampai di pasar hewan dan pasar bunga.
Waktu paling pas untuk datang ke alun-alun ini adalah pada pagi atau sore hari dimana sering terdapat banyak orang melakukan aktivitas olahraga. Jika malam hari alun-alun tugu akan disinari berbagai macam warna lampu yang semakin menambah keindahan alun-alun ini.
Ngalamers juga harus baca tentang Sejarah Alun-alun Tugu ya.
Sejarah Kota Malang
Wilayah cekungan Malang telah ada sejak masa purbakala
menjadi kawasan pemukiman. Banyaknya sungai yang mengalir di sekitar tempat ini membuatnya cocok
sebagai kawasan pemukiman. Wilayah Dinoyo dan Tlogomas diketahui merupakan
kawasan pemukiman prasejarah.[3] Selanjutnya, berbagai prasasti (misalnya Prasasti
Dinoyo), bangunan percandian dan arca-arca,
bekas-bekas pondasi batu bata, bekas saluran drainase, serta berbagai gerabah ditemukan dari periode akhir Kerajaan Kanjuruhan
(abad ke-8 dan ke-9) juga ditemukan di tempat yang berdekatan.
Nama "Malang" sampai saat ini masih diteliti
asal-usulnya oleh para ahli sejarah. Para ahli sejarah masih terus menggali
sumber-sumber untuk memperoleh jawaban yang tepat atas asal-usul nama
"Malang". Sampai saat ini telah diperoleh beberapa hipotesa mengenai
asal-usul nama Malang tersebut. Malangkucecwara
yang tertulis di dalam lambang kota itu, menurut salah satu hipotesa merupakan
nama sebuah bangunan suci. Nama bangunan suci itu sendiri diketemukan dalam dua
prasasti Raja
Balitung dari Jawa Tengah yakni prasasti Mantyasih
tahun 907, dan prasasti 908
yakni diketemukan di satu tempat antara Surabaya-Malang.
Namun demikian dimana letak sesungguhnya bangunan suci
Malangkucecwara itu, para ahli sejarah masih belum memperoleh kesepakatan. Satu
pihak menduga letak bangunan suci itu adalah di daerah gunung Buring,
satu pegunungan yang membujur di sebelah timur kota Malang dimana terdapat
salah satu puncak gunung yang bernama Malang. Pembuktian atas kebenaran dugaan
ini masih terus dilakukan karena ternyata, disebelah barat kota Malang juga
terdapat sebuah gunung yang bernama Malang. Pihak yang lain menduga bahwa letak
sesungguhnya dari bangunan suci itu terdapat di daerah Tumpang, satu tempat di sebelah utara kota
Malang.
Sampai saat ini di daerah tersebut masih terdapat sebuah
desa yang bernama Malangsuka,
yang oleh sebagian ahli sejarah, diduga berasal dari kata Malankuca yang
diucapkan terbalik. Pendapat di atas juga dikuatkan oleh banyaknya
bangunan-bangunan purbakala yang berserakan di daerah tersebut, seperti Candi Jago dan Candi Kidal, yang keduanya merupakan peninggalan
zaman Kerajaan Singasari.
Dari kedua hipotesa tersebut di atas masih juga belum dapat dipastikan manakah
kiranya yang terdahulu dikenal dengan nama Malang yang berasal dari nama
bangunan suci Malangkucecwara
itu. Apakah daerah di sekitar Malang sekarang, ataukah kedua gunung yang
bernama Malang di sekitar daerah itu.
Sebuah prasasti tembaga yang ditemukan akhir tahun 1974
di perkebunan Bantaran, Wlingi, sebelah barat daya
Malang, dalam satu bagiannya tertulis sebagai berikut : “………… taning
sakrid Malang-akalihan wacid lawan macu pasabhanira dyah Limpa Makanagran I
………”. Arti dari kalimat tersebut di atas adalah : “ …….. di sebelah timur
tempat berburu sekitar Malang bersama wacid dan mancu, persawahan Dyah Limpa
yaitu ………” Dari bunyi prasasti itu ternyata Malang merupakan satu tempat di
sebelah timur dari tempat-tempat yang tersebut dalam prasasti itu. Dari
prasasti inilah diperoleh satu bukti bahwa pemakaian nama Malang telah ada
paling tidak sejak abad 12 Masehi.
Hipotesa-hipotesa terdahulu, barangkali berbeda dengan satu
pendapat yang menduga bahwa nama Malang berasal dari kata “Membantah” atau
“Menghalang-halangi” (dalam bahasa Jawa berarti Malang).
Alkisah Sunan Mataram yang ingin meluaskan pengaruhnya ke Jawa
Timur telah mencoba untuk menduduki daerah Malang. Penduduk daerah itu
melakukan perlawanan perang yang hebat. Karena itu Sunan Mataram menganggap
bahwa rakyat daerah itu menghalang-halangi, membantah atau malang atas maksud Sunan
Mataram. Sejak itu pula daerah tersebut bernama Malang. Timbulnya Kerajaan Kanjuruhan
tersebut, oleh para ahli sejarah dipandang sebagai tonggak awal pertumbuhan pusat
pemerintahan yang sampai saat ini, setelah 12 abad berselang, telah berkembang
menjadi Kota Malang.
Setelah kerajaan Kanjuruhan, di masa emas kerajaan Singasari (1000 tahun setelah Masehi) di daerah
Malang masih ditemukan satu kerajaan yang makmur, banyak penduduknya serta
tanah-tanah pertanian yang amat subur. Ketika Islam
menaklukkan Kerajaan Majapahit
sekitar tahun 1400, Patih Majapahit melarikan diri ke daerah
Malang. Ia kemudian mendirikan sebuah kerajaan Hindu yang merdeka, yang oleh
putranya diperjuangkan menjadi satu kerajaan yang maju. Pusat kerajaan yang
terletak di kota Malang sampai saat ini masih terlihat sisa-sisa bangunan
bentengnya yang kokoh bernama Kutobedah
di desa Kutobedah. Adalah Sultan Mataram dari Jawa Tengah yang akhirnya datang
menaklukkan daerah ini pada tahun 1614 setelah mendapat perlawanan yang tangguh
dari penduduk daerah ini.
Seperti halnya kebanyakan kota-kota lain di Indonesia pada
umumnya, Kota Malang modern tumbuh dan berkembang setelah hadirnya administrasi
kolonial Hindia Belanda. Fasilitas
umum direncanakan sedemikian rupa agar memenuhi kebutuhan keluarga Belanda.
Kesan diskriminatif masih berbekas hingga sekarang, misalnya ''Ijen
Boullevard'' dan kawasan sekitarnya. Pada mulanya hanya dinikmati
oleh keluarga-keluarga Belanda dan Bangsa Eropa lainnya, sementara penduduk
pribumi harus puas bertempat tinggal di pinggiran kota dengan fasilitas yang
kurang memadai. Kawasan perumahan itu sekarang menjadi monumen hidup dan
seringkali dikunjungi oleh keturunan keluarga-keluarga Belanda yang pernah
bermukim di sana.
Pada masa penjajahan kolonial Hindia Belanda, daerah Malang dijadikan wilayah
"Gemente" (Kota). Sebelum tahun 1964,
dalam lambang kota Malang terdapat tulisan ; “Malang namaku, maju tujuanku”
terjemahan dari “Malang nominor, sursum moveor”. Ketika kota ini merayakan hari
ulang tahunnya yang ke-50 pada tanggal 1 April 1964,
kalimat-kalimat tersebut berubah menjadi : “Malangkucecwara”. Semboyan
baru ini diusulkan oleh almarhum Prof. Dr. R. Ng. Poerbatjaraka, karena kata
tersebut sangat erat hubungannya dengan asal-usul kota Malang yang pada masa Ken Arok kira-kira 7 abad yang lampau telah
menjadi nama dari tempat di sekitar atau dekat candi yang bernama
Malangkucecwara.
Kota malang mulai tumbuh dan berkembang setelah hadirnya
pemerintah kolonial Belanda, terutama ketika mulai di operasikannya jalur
kereta api pada tahun 1879. Berbagai kebutuhan masyarakatpun semakin
meningkat terutama akan ruang gerak melakukan berbagai kegiatan. Akibatnya
terjadilah perubahan tata guna tanah, daerah yang terbangun bermunculan tanpa
terkendali. Perubahan fungsi lahan mengalami perubahan sangat pesat, seperti
dari fungsi pertanian menjadi perumahan dan industri.
- Tahun 1767 Kompeni Hindia Belanda memasuki Kota
- Tahun 1821 kedudukan Pemerintah Belanda di pusatkan di sekitar kali Brantas
- Tahun 1824 Malang mempunyai Asisten Residen
- Tahun 1882 rumah-rumah di bagian barat Kota di dirikan dan Kota didirikan alun-alun di bangun.
- 1 April 1914 Malang di tetapkan sebagai Kotapraja
- 8 Maret 1942 Malang diduduki Jepang
- 21 September 1945 Malang masuk Wilayah Republik Indonesia
- 22 Juli 1947 Malang diduduki Belanda
- 2 Maret 1947 Pemerintah Republik Indonesia kembali memasuki Kota Malang.
- 1 Januari 2001, menjadi Pemerintah Kota Malang.
Kamis, 11 Oktober 2012
Cinta arema dan jas merah....
Arema voice Cinta Arema
Video ini sebagai perenungan : " BETAPA INDAHNYA
KEBERSAMAAN ".
Terlebih dan kurangnya berbagai sosok yg ada di dalam video ini, kalian adalah orang beruntung yang bisa ikut menjadi saksi betapa dasyatnya arema dan aremania bila bersatu.Karena video ini bakal menjadi saksi sejarah dan bakal dilihat oleh anak cucu kita kelak.
Terlebih dan kurangnya berbagai sosok yg ada di dalam video ini, kalian adalah orang beruntung yang bisa ikut menjadi saksi betapa dasyatnya arema dan aremania bila bersatu.Karena video ini bakal menjadi saksi sejarah dan bakal dilihat oleh anak cucu kita kelak.
\
“Arema are more than just a
football club. They are a way of life. They are the St. Pauli of Indonesia. A
culture with in a culture. Satu Jiwa, one heart or one soul”
Lucky Adrianda Zainal :
Air mata haru menetes ketika mengetahui Arema juara. Amanat sang jenderal yang juga ayahandanya Acub Zainal berhasil di wujudkan. Lengsernya sang guru Ebes Sugiyono juga dibuktikan dengan hadiah piala wapres. Saya banyak hutang pada Papi (Acub Zainal) dan Ebes, keduanya adalah mentor saya dan mereka berharap banyak pada saya, tak heran ketika tahu Arema juara saya senangnya bukan main, bahkan sampai nangis segala , kenang Lucky. Lucky tahu benar, bagaimana ia yang dulunya hijau soal bola akhirnya menjadi orang yang gila bola. Lucky adalah salah satu pilar penting dalam manajemen Arema saat itu, walaupun dinodai dengan masa 1 tahun skorsingnya akibat mencabut bendera pojok ketika Arema bertandang ke Pelita Jaya di Lebak Bulus. Ia adalah sosok yang dekat dengan semua kalangan, tidak sombong, dan enak diajak berbicara. Ia juga pandai memotivasi pemain.
Air mata haru menetes ketika mengetahui Arema juara. Amanat sang jenderal yang juga ayahandanya Acub Zainal berhasil di wujudkan. Lengsernya sang guru Ebes Sugiyono juga dibuktikan dengan hadiah piala wapres. Saya banyak hutang pada Papi (Acub Zainal) dan Ebes, keduanya adalah mentor saya dan mereka berharap banyak pada saya, tak heran ketika tahu Arema juara saya senangnya bukan main, bahkan sampai nangis segala , kenang Lucky. Lucky tahu benar, bagaimana ia yang dulunya hijau soal bola akhirnya menjadi orang yang gila bola. Lucky adalah salah satu pilar penting dalam manajemen Arema saat itu, walaupun dinodai dengan masa 1 tahun skorsingnya akibat mencabut bendera pojok ketika Arema bertandang ke Pelita Jaya di Lebak Bulus. Ia adalah sosok yang dekat dengan semua kalangan, tidak sombong, dan enak diajak berbicara. Ia juga pandai memotivasi pemain.
Ovan Tobing :
Manajer Arema saat Lucky menjalani skorsing ini adalah orang yang paling dekat dengan pemain. Ia mampu memompa semangat pemain, dengan kata-katanya yang menggelegar. Ia pun satu-satunya orang yang mampu mendinginkan suasana stadion ketika sedang panas. Tak hanya menjalani manajerial Arema secara tim. Ovan juga dikenal sebagai orang yang rajin mencari pemain-pemain berbakat. Sebut saja Singgih Pitono yang ditemukannya ketika turun ke desa-desa mencari pemain berbakat. Pria Batak berambut gondrong yang sudah menjadi AREMA ini memang dikenal orang yang sangat serius ketika bertugas
Manajer Arema saat Lucky menjalani skorsing ini adalah orang yang paling dekat dengan pemain. Ia mampu memompa semangat pemain, dengan kata-katanya yang menggelegar. Ia pun satu-satunya orang yang mampu mendinginkan suasana stadion ketika sedang panas. Tak hanya menjalani manajerial Arema secara tim. Ovan juga dikenal sebagai orang yang rajin mencari pemain-pemain berbakat. Sebut saja Singgih Pitono yang ditemukannya ketika turun ke desa-desa mencari pemain berbakat. Pria Batak berambut gondrong yang sudah menjadi AREMA ini memang dikenal orang yang sangat serius ketika bertugas
“Arema Takkan Lupa Akan Sejarah”
JAS MERAH (JAngan Sampai
MElupakan sejaRAH)
Kita tidak akan ada artinya tanpa kehadiran orang tua kita, mbah-mbah kita, dsb. Begitu juga Arema tidak akan ada tanpa kehadiran orang-orang yang bisa disebut pahlawan bagi rakyat Arema. Orang-orang seperti Sam Lucky AZ beserta Ebes (Alm) Acub Zainal, Sam Ovan Tobing, Sam Derek (seng ewud Armada), Ebes Gandhi,dll. Mereka dengan penuh dedikasi berjuang sekuat tenaga dan pengobanan yang tidak sedikit demi kelangsungan hidup Arema.Begitu juga dengan pemain Arema di masa lalu yg mempunyai semangat, dedikasi, dan loyalitas yang tidak perlu diragukan lagi.
Kita tidak akan ada artinya tanpa kehadiran orang tua kita, mbah-mbah kita, dsb. Begitu juga Arema tidak akan ada tanpa kehadiran orang-orang yang bisa disebut pahlawan bagi rakyat Arema. Orang-orang seperti Sam Lucky AZ beserta Ebes (Alm) Acub Zainal, Sam Ovan Tobing, Sam Derek (seng ewud Armada), Ebes Gandhi,dll. Mereka dengan penuh dedikasi berjuang sekuat tenaga dan pengobanan yang tidak sedikit demi kelangsungan hidup Arema.Begitu juga dengan pemain Arema di masa lalu yg mempunyai semangat, dedikasi, dan loyalitas yang tidak perlu diragukan lagi.
Kami Aremania menghormati orang-orang yang pernah berjasa di
Arema Mulai pendiri Arema Jendral Acub Zaenal ,Ebes Sugiono, Sam ikul, Pak Mislan,
Vigit, Eko Subekti, Ovan Tobing, Alm Gandi Yogatama, Daryoto Setiawan, SBW,
Iwan Kurniawan, M.Nur, Gunadi, Rendra Krisna, Edy Rumpoko dan seterusnya. Untuk
itu kami harapkan jangan sampai ada hujat-menghujat atau menjelek-jelekan
simbol Arema di atas.
Langganan:
Postingan (Atom)




































.jpg)
.jpg)
.jpg)

