Rabu, 10 Oktober 2012

This Is Arema 4


 Profil Komunitas This Is Arema di Ongisnade.co.id
 
Aremania menjadi barometer kreasi suporter yang ada di Indonesia. Pernyataan tersebut memang tidak berlebihan. Bisa dilihat dari pertandingan-pertandingan kandang yang selalu penuh kreasi. Bahkan diluar kandang-pun mereka total, bukan hanya datang untuk mendukung, tetapi juga memberikan sebuah kreatifitas yang bahkan bisa disebut juga sebagai atraksi. 

 Salah satu komunitas yang setia mendukung Arema, This Is Arema. (Foto: This Is Arema)

Seringkali kita melihat ketika Arema bermain dikandang terhibur dengan kreasi-kreasi segar dan berbeda dengan suporter di Indonesia pada umumnya. Salah satu kreasinya keluar dari tribun utara Stadion Kanjuruhan. Berbagai kelompok suporter dan korwil ada disana. Salah satunya yang sering disebut dengan kelompok THIS IS AREMA. Siapakah mereka?

Rabu, 26 September 2012 ONGISNADE berkesempatan silahturahmi pada keluarga besar kelompok THIS IS AREMA yang bertempat di daerah Jl. Gajayana gang 1. Disana ONGISNADE berkenalan dengan nawak-nawak yang mendukung Arema identik dengan giant flag, flare,dsb dalam mendukung Arema.

Nama THIS IS AREMA yang melekat pada mereka didapat dari orang-orang yang menyebut mereka dengan sebutan Arek This Is. Wajar, karena kebetulan kelompok ini sering terlihat di stadion dengan atribut bendera, kaos, spanduk, dll bertuliskan THIS IS AREMA. “Sebenarnya bukan kami yang menamakan kelompok kami (dengan sebutan This Is Arema), hanya saja memang kami yang menciptakan tulisan This Is Arema,” terang Yoyok salah satu anggota komunitas This Is Arema kepada ONGISNADE.


Anggota mereka tersebar dari berbagai daerah. Namun kebanyakan dari mereka berasal dari Dinoyo. Meski begitu mereka bukanlah kelompok yang berangkat dari korwil setempat. Jadi sangat wajar jika sebagian dari mereka berasal dari daerah lain. Mereka tidak menerapkan struktur organisasi yang memiliki pengurus khusus sendiri. Siapapun juga dari mereka bisa memberikan ide, uneg-uneg atau masukan untuk kreasi-kreasi yang akan ditampilkan di stadion. 

Mereka juga tidak menerapkan member resmi. Siapapun bebas menjadi bagian dari mereka asal dapat bertanggung jawab dengan nama kelompok dan juga memiliki komitmen kebersamaan. “Walaupun begitu, bukan berarti kami tidak dapat mengontrol anak-anak (internal) kelompok THIS IS AREMA, bukan berarti dengan nama besar THIS IS AREMA anak-anak bisa semena-mena dimanapun menggunakan nama kelompok,” tegas Yoyok. 

Untuk kegiatan diluar lapangan, mereka biasanya hanya ngopi dan kumpul-kumpul biasa. Mereka hampir tidak pernah mengadakan acara resmi yang besar dan melibatkan keluarga besar tim Arema. Sekalipun pernah, itu hanya ketika terjadi bencana alam Merapi di tahun 2010. Mereka turun jalan untuk mencari sumbangan dari masyarakat. Seluruh hasil yang didapat dari charity yang mereka adakan disampaikan langsung kepada korban bencana alam. 

Jika Arema bermain tandang, kelompok THIS IS AREMA juga aktif dalam tour. Palembang, Padang, Kalimantan dan hampir seluruh klub yang ada di Pulau Jawa pernah mereka singgahi. Dengan peralatan suporter dan atribut lengkap, mereka setia untuk mendukung Arema. Ketika ONGISNADE menanyakan suka-duka kelompok ini, mereka menjawab hampir tidak ada duka. Kebersamaan yang selalu membawa mereka untuk selalu suka. 

Berikut beberapa foto aksi komunitas This Is Arema.






Komunitas This Is Arema saat menggalang dana untuk korban letusan gunung merapi.

This Is Arema 3


This Is Arema bukan hanya suporter bola saja
Tapi ada nilai-nilai sosial di dalamnya,, Rasa kebersamaan, saling memeliki dan peduli sesama..
seperti berikut:
  
Sabtu, 30 Oktober 2010 21:26:39 WIB
Reporter : Yatimul Ainun

Malang (beritajatim.com) – Penggalangan dana sebagai bentuk kepedulian kepada para korban bencana akibat meletusnya Gunung Merapi dan Tsunami di Mentawai, tak hanya dilakukan para mahasiswa dan anak pelajar mulai tingkat SD hingga SMA. Penggalangan juga dilakukan Aremania di Malang Raya.

Penggalan dana untuk korban bencana itu dilakukan Aremania Malang Raya dimulai sejak Kamis 28 Oktober 2010 dan akan berakhir 6 November 2010 nanti. Penggalangan dana itu dilakukan Aremania di simpang empat Dinoyo Kota Malang.

Kepada beritajatim.com, Sabtu (30/10/2010) salah satu anggota komunitas Aremania (This Is Arema)  Farki Idia Putra ,dana tersebut akan dikirimkan ke korban bencana gunung Merapi. ”Namun, rencananya akan disalurkan bukan dalam bentuk uang. Tetapi dalam bentuk barang saja. Akan dibelikan baju dan kelengkapan lainnya yang dibutuhkan korban bencana di Merapi,” katanya.

Ditanya soal apakah akan mengirimkan relawan ke Merapi? Farki mengaku masih akan berkoordinasi dengan beberapa Koorwil Aremania diberbagai daerah di Malang Raya. ”Kami belum bisa menentukan soal pengiriman relawan itu,” katanya.

Sementara itu, menurut Koorwil Tongan, Slamet Syamsul Karim, saat dihubungi via telepon mengatakan, pihaknya juga akan melakukan penggalangan dana untuk korban Merapi dan Mentawai. ”Kami akan menggalang saat laga Arema melawan Semen Padang nanti,” katanya.

Ia mengatakan, pihaknya sudah siap menurunkan 15 Aremania yang siap menggalang dana di Stadion Kanjuruhan Kabupaten Malang saat tim kesayangannya menjamu Semen Padang Minggu (31/10/2010) nanti. ”Kalau saat Arema laga, pasti banyak yang menyumbang,” akunya.

Selain itu, ditanya soal apakah akan mengirimkan relawan ke Merapi atau Mentawai, Slamet mengaku juga masih akan melakukan koordinasi dengan Koorwil Aremania yang lainnya. ”Mungkin saat Arema laga dengan Semen Padang itu akan dimusyawarahkan dengan Korrwil lainnya,” katanya

Bersambung........ sek kanyab ker.....

This Is Arema 2



THIS IS AREMA: No Leader Just Together !!
Siapa ketua This Is Arema?
Siapa pengurus This Is Arema?
 
Pertanyaan tersebut mungkin sering kita dengar belakangan ini. Perlu diketahui bahwa This is Arema memang tidak memiliki struktur kepengurusan. This is Arema bukan sebuah organisasi suporter seperti kelompok suporter pada umumnya di Indonesia namun This is Arema merupakan komunitas Aremania suporter sepakbola yang menjunjung tinggi kebersamaan dan kekeluargaan.
Tanpa kepengurusan, komunitas This Is Arema  bukan berarti liar tak terkendali. Kami mempunyai cara sendiri untuk menjaga kode etik dalam memberikan dukungan kepada klub Kebanggaan kami Arema Indonesia, ya… kode etik bukan AD ART.. 

This Is Arema mencoba menghilangkan hirarki atau struktur kepengurusan dalam komunitas ini, tujuannya agar setiap anggota mempunyai hak dan kewajiban yang sama dalam setiap pengambilan keputusan dan melaksanakan kebijakan yang telah disepakati.  Selain itu, This Is Arema bukan orang-orang yang mau diurus oleh segelintir orang saja. 

Oleh karena ini, kebersamaan dan kekeluargaan sangat dijunjung tinggi dalam kelompok ini dengan harapan agar tidak dapat ditunggangi oleh orang-orang yang mempunyai kepentingan politik. Jika anda masih bertanya siapa ketua atau pengurus This Is Arema ?? maka jawabannya adalah semua anggota This Is Arema salah satu komunitas Aremania yg ada di belakang gawang utara.

No Leader Just Together !
No Rasis No Anarkis No Artis
Bersambung…

This Is Arema 1



“THIS IS AREMA “ tulisan ini selalu terpampang jelas jika kita melihat kearah utara belakang gawang stadion Kanjuruhan atau yang lebih dikenal dengan north goal zona damai. 
Pasti dibenak kita selalu muncul pertanyaan apakah yang dimaksud dengan tulisan tersebut. Memang arti kata THIS IS AREMA adalah “ini adalah arema” akan tetapi itu bukanlah sekedar coretan yang lalu ditulis THIS IS AREMA di spanduk atau bendera begitu saja. Namun kata – kata tersebut mempunyai makna yang lebih dalam yaitu inilah kami aremania yang berdiri dengan sebuah kemandirian.

Dengan kemandirian yang disertai loyalitas tanpa batas akan menumbuhkan kecintaan, kebersamaan dan saling setia kepada sesama aremania terutama kepada AREMA INDONESIA.
THIS IS AREMA juga merupakan salah satu tempat atau wadah yang selalu cinta damai hingga ada yang menyebut dengan aremania north goal zona damai, damai yang diusung adalah bisa dikatakan juga dengan damai dalam segala hal.

Dari kesemuanya itu akan bisa memberikan sebuah contoh positif bagi para supporter – supporter lainnya dan akan memberikan sesuatu yang terbaik atau sebuah kontribusi bagi tim kesayangannya AREMA INDONESIA 

GRUP THIS IS AREMA bukan tmpat cari cewek / cowok.
THIS IS AREMA adalah supporter AREMA .
NO RASIS NO ANARKIS NO ARTIS............
SALAM SATU JIWA
A R E M A I N D O N E S I A

Rabu, 03 Oktober 2012

Malang Tidak Berbau

Artikel lawas tapi kipa beh....

Wearemania.net - Derby Malang sudah berakhir 4 bulan lalu, namun semangat Derby itu ternyata juga dinikmati oleh warga Malaysia, berikut ini adalah tulisan dari warga Malaysia dalam melihat keantusiasme publik Malang dalam menyambut Derby Arema vs Persema edisi ketujuh
Selamat datang Pak!, sapa anak muda berjersi biru tua yang tersenyum girang sebaik aku turun dari bas.

Selamat datang ke Malang, Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Harapan aku selama berada di sini tidak ada kejadian malang yang akan menimpa, macam gempa bumi atau gunung berapi. Bak kata orang, malang tidak berbau. Tapi di sini di kota Malang, bau dia memang lain macam.

Yang menyambut aku ialah Susilo, anak muda Malang yang bangga dengan gelaran Arek Malang atau anak jati Malang. Dan macam kebanyakan anak muda Malang yang lain, Susilo bangga menjadi seorang Aremania.


Aremania merujuk kepada kelompok penyokong Arema Malang, kelab bolasepak yang bermarkas di Malang. Ditubuhkan pada 11 Ogos 1987, kelab yang popular dengan jolokan Singo Edan (Singa Gila) ini bukan saja kelab paling popular di Malang, malahan juga salah satu kelab popular dalam bolasepak Indonesia, atau nama tempatannya, sepakbola.

Stadion Kanjuruhan - kandang Arema dengan kapasitas 40,000

Di sini pak, kami semua gak butuh sama klub yang lain, hanya Singo Edan dalam jiwa kami, tegas Susilo penuh bangga, mula-mula tadi aku ingatkan dia mencarut dengan aku.

Sememangnya Arema kelab paling popular di Malang. Tapi ia bukan satu-satunya kelab sepakbola di sini.


Jauh lebih otai dari Arema ialah Persatuan Sepak Bola Malang atau ringkasnya Persema Malang. Kelab yang ditubuhkan semasa era Perserikatan (era amatur bolasepak Indonesia). Lahir pada 20 Jun 1953 kelab yang diberi jolokan Laskar Ken Arok dianggap saudara tua kepada Arema. Penyokong Persema pula digelar Ngalamania.

Stadion Gajayana - kandang Persema dengan kapasitas 30,000

Tapi biarpun ditubuhkan lebih awal Persema tidak sepopular Arema. Antara faktor penyebab ialah Persema sepanjang penubuhannya belum pernah memenangi sebarang kejuaraan peringkat tertinggi, berbanding Arema yang menjulang Piala Indonesia tahun 2005 dan 2006.

Lantas, berjalan di sekitar Malang ianya pemandangan yang normal jika kita terlihat patung atau gambar singa pada dinding bangunan dan penduduk Malang berjersi biru (Persema pula warna merah jersinya). Semangat Singo Edan ada dimana-mana. Malah Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) pernah mengiktiraf penyokong Arema sebagai kelompok penyokong terbaik Indonesia.

Patung Singo Edan ada di mana-mana saja, yang tiada ialah Harimau Malaya

Dan sejauh mana para Aremania sanggup berdiri di belakang kelab kesayangan mereka teruji sekali lagi tanggal 10 Januari 2010. Sebagaimana Rangers dan Celtic berentap dalam Derbi Old Firm, Arema dan Persema berentap dalam Derbi Malang memenuhi jadual perlawanan Liga Super Indonesia.

Duel Gengsi

Beberapa hari sebelum perlawanan media Indonesia sudah mula bakar-membakar antara kedua kelab, atau klub. Pertarungan kelab abang-adik ini diberi jolokan Duel Gengsi. Arema setakat ini unggul di puncak klasemen dengan 30 mata manakalah Persema di tangga ke-4 dengan 22 mata.

Namun begitu, malang menimpa Arema apabila masalah kewangan dilaporkan melanda kelab tersebut. Beban hutang dilaporkan mencecah Rupiah 1.6 miliar (juta) yang perlu dilangsaikan sebelum akhir Januari. Kegagalan berbuat demikian mungkin membuatkan PSSI memaksa Arema bergabung saja dengan Persema, sesuatu yang ditolak keras oleh kelompok Aremania.

Lanjutan dari hal tersebut, kelompok Aremania menggembleng tenaga bersama pihak pengurusan untuk mengumpul dana buat melangsai hutang. Duel Gengsi menentang Persema dijadikan sandaran untuk mengutip dana secukupnya.

Kami optimistis dapat menyelesaikannya sesuai kesepakatan, kata Gunadi Handoro, Direktur Utama Arema.

Kempen Save Arema dilancarkan malam sebelum Duel Gengsi. Kelompok Aremania diberitakan bakal membeli 2 papan iklan di Stadion Kanjuruhan ketika Duel Gengsi nanti. Selebihnya pula disapu bersih oleh perusahaan dan toko-toko sekitar Malang.

Kami harus menang untuk membalas kebaikan hati dan dukungan Aremania, kata Robert Alberts, pengurus Arema. Namun keyakinan penuh Arema tetap disangkal oleh Subangkit, pengurus Persema.

Baru bisa dipastikan menjelang permainan. Silakan dilihat saja nanti.

Meskipun kami sudah mengantongi kekuatan Arema sebagai tim terkuat saat ini, kami tetap harus berjuang maksimal untuk menorehkan sejarah manis dengan memenangkan pertandingan dari tangan tim Singo Edan. Kami juga akan fokus pada latihan teknik, strategi dan kerja sama antarlini karena lawan yang kami hadapi nanti adalah tim yang sangat solid dan memiliki banyak kelebihan secara individual maupun kolektivitas pemainnya, tegas Subangkit.

Aku mula menggaru kepala, macam nonton sinetron pun ada. Nasib Susilo disebelah untuk menjadi penterjemah.

Ancaman Arema bakal datang dari gandingan pemain Singapura, Noh Alam Shah dan Muhammad Ridhuan. Sementara gelandangan M Fachruddin bakal mengarkiteksi gebrakan Arema dengan jendral pertahanan Pierre Njanka dari Cameroon mengawal kebobolan. Aku pun dah macam sinetron.

Persema juga tidak kurang hebat. Kapten pasukan Bima Sakti bakal mengepalai serangan dengan dibantu pemain sayap M Karim dan Siswanto. Teguh di depan ialah penyerang Jaya Teguh Angga dan pemain Brazil, Jairon Feleciano.

Kedua-dua pasukan pernah bertemu sebanyak 6 kali setakat ini, semuanya dimenangi oleh Singo Edan. Maka tidak hairanlah jika Arema berniat mahu mengekalkan rekod bersih mereka sementara Persema berhajat menoreh sejarah manis Arema.

Singo Edan Laskar Ken Arok

Sore hari minggu 10 Januari 2010, Stadion Kanjuruhan, kandang keramat Arema mula penuh. Empat puluh ribu yang hadir adalah Aremania manakala cuma 550 berdarah Ngalamania. Menyambut kehadiran aku, Susilo dan puluhan ribu peminat sepakbola yang lain ialah 1050 personel pengaman pertandingan. Sebahagian besar darinya ialah Pak Polisi.


Stadion Kanjuruhan, bukan Stadium Shah Alam

Tidak ketinggalan, 42 papan iklan mengitari lapangan dan 17 lagi tertempel di tembok stadium, jualan papan iklan tertinggi dalam sejarah liga Indonesia. Dua dari papan iklan itu milik Aremania, dibayar khusus untuk membantu menyelamatkan kelab kesayangan dari krisis kewangan.

Aku dan Susilo duduk bersama di tribun bahagian timur Stadion Kanjuruhan. Tribun (atau juga curva, stand dan kop) bahagian timur ini merupakan salah satu kawasan penyokong fanatik Aremania. Di setiap tribun akan ada dirigen atau capo yang mengokestra sokongan peminat.

Dirigen yang diinspirasikan dari konsep Capo di Itali

Perlawanan bermula sebaik wasit pertandingan (pengadil) Jimmy Napitupulu meniup peluit (wisel).

Arema terlebih dulu menguji gawang Persema pada minit ke-12. Umpanan lambung Pierre Njanka disambut baik Noh Alam Shah yang menanduk deras melampaui penjaga gol Komang Putra tetapi malang bola membentur badan pemain pertahanan Persema, Robbie Gaspar.

Laskar Ken Arok bagaimana pun mengatur gerak balas. Giliran Siswanto memberi umpanan lambung yang disambut oleh Jairon Feliciano yang kemudian pantas menjebol gawang Singo Edan, kesan dari kesilapan pemain pertahanan Purwaka Yudi.

Macam puaka.

Jaringan awal Persema membuatkan 40,000 Aremania yang memadati stadium langsung mematung menyaksikan pukulan tersebut. Lima ratus lima puluh Ngalamania pula melompat sakan tak ingat dunia.

Kaget akibat kebobolan awal akibat serangan pasukan tamu, tuan rumah Arema. Serangan berantai dilancarkan ke pertahanan Persema. Hasilnya pada minit ke-20 Muhammad Ridhuan berjaya memberi hantaran yang ditanduk Ahmad Bustomi kepada Noh Alam Shah. Penyerang Singapura itu menyelesaikan si kulit bundar (nama timangan untuk bola dalam arena sepakbola Indonesia) melalui salto (lipat gunting) ke dalam gawang Persema.

Tergamam dengan gol cantik, barisan Laskar Ken Arok mula kucar-kacir. Sementara Singo Edan terus menggila ibarat singa di Afrika yang mempunyai penyakit mental.

Minit ke-32, Singo Edan di depan. Gelandangan M Fachruddin berjaya menerobos pertahanan Persema dan melepaskan tembakan yang tak bisa dijangkau Komang Putra. Gol ke-2 Arema disambut dengan gegar gempita Stadion Kanjuruhan. Susilo disebelah melompat sakan dan Aremania kembali menyanyi riang.

Selesa di depan, Arema melambatkan rentak. Kedudukan 2-1 kekal bertahan hingga turun minum (istilah Indonesia untuk waktu rehat).

Aku dan Susilo juga bergegas mengambil kesempatan ini untuk turun minum di gerai stadium di bawah.

Usai turun minum, perlawanan kembali bersambung tetapi melambat. Arema lebih banyak menguasai si kulit bundar manakala Persema kelihatan seakan tertekan bermain di kandang lawan.

Peluang nampak jelas buat Arema pada minit ke-69 tapi sayang tendangan Ahmad Bustomi sedikit tersasar. Persema juga mempunyai peluang keemasan pada minit ke-77 tapi tendangan deras Brima Pepito ditepis oleh kiper Arema, Markus Horison.

Jimmy Napitupulu (baju kuning)

Ketika perlawanan kelihatan bakal berkesudahan 2-1, Arema sekali lagi mengatur gerak. M Fachruddin, Muhammad Ridhuan dan Noh Alam Shah berada segaris depan gawang lawan untuk kerjasama yang menarik (apa yang penting? Kerjasama!). Hasilnya gol ketiga Arema melalui Noh Alam Shah pada minit ke-83. Buat kali ketiga juga Komang Putra mengutip si kulit bundar dari dalam gawang.

Kejayaan menjaringkan gol ke-3 membuatkan Aremania di Stadion Kanjuruhan bersorak gembira. Persema cuba untuk merapatkan jurang tapi kedudukan gol kekal hingga ke wisel penamat. Sekali lagi Arema mengungguli derbi Malang.

Tiga kartu kuning dilayangkan wasit Jimmy Napitupulu, dua untuk Persema dan satu buat Arema.

Pengurus Arema, Robert Alberts berpuas hati dengan kemenangan yang menjamin kedudukan Arema di puncak klasemen.

Saya salut dan bangga dengan mereka, ujarnya.

Perhitungan awal juga menunjukkan sejumlah Rupiah 1 miliar berjaya dipungut hasil jualan tiket. Pihak pengurusan Arema memaklumkan bahawa semua hasil pungutan akan digunakan untuk membayar beban hutang.

Ya, moga Arema selamat hendaknya dari dibubar PSSI dan sukses selalu dalam olahraga sepak bola, doa Susilo dan puluhan ribu Aremania yang lain.

Aku mengharapkan yang sama. Semoga Singo Edan terus hidup di kota Malang.
Sumber : http://sokernet.blogspot.com/2010/01/debar-derbi-sedunia-malang-tidak-berbau.html

Selasa, 02 Oktober 2012

Arema, It's Not a Badge, It's Family Crest


Wearemania.net - Salah Seorang budayawan yang saya idolakan pernah mengatakan bahwa salah satu tanda bahwa bangsa Indonesia semakin tidak percaya diri sebagai bangsa adalah semakin banyaknya pemain sinetron yang berwajah semi-bule, berwajah Jepang, atau pokoknya hidung semancung mungkin, rambut jangan hitam, dan kulit seputih mungkin.
Iklan produk tertentu memitoskan secara implisit bahwa keindahan adalah kulit putih sedangkan kulit hitam adalah bencana. Pokoknya luar negeri, bule, putih, itu ibarat malaikat. Sementara hitam mendekati keburukan setan.

Hal inipun akhirnya merasuk dalam persepakbolaan Indonesia, pemain naturalisasi yang berlatih di luar negeri, dengan model pelatihan negeri sepakbola yang lebih mapan, kita naturalisasi agar sepakbola kita (Insya Allah) menjadi lebih baik.
Demikianlah salah satu penyakit jiwa kita, seringkali menganggap apa-apa yang lahir dari rahim Indonesia itu sebuah keburukan dan bencana, serta sangat mengagungkan segala hal yang datangnya dari luar negeri.


Sebagai contoh, bila kita lihat pemain Jepang warnanya dicat warna-warni, ada yang coklat, putih, pirang, dan lain sebagainya, apakah ini berarti pemain Jepang yang mencoklatkan rambutnya adalah anak-anak dari suatu bangsa yang juga tidak PD pada dirinya sendiri?, Kita butuh ilmu tinggi untuk menjawabnya.

Contoh lain, Mike Tyson ketika bertanding dengan Lenox Lewis, dia bertinju dengan manis, sportif, lembut, dan sama sekali tidak seperti Tyson yang biasanya, yang brutal dan ultra agresif serta cenderung Animal Like. Ini terjadi gara-gara ada teori : kalau Tyson bisa mengendalikan dirinya, bisa menahan emosinya, bisa bersikap dewasa, maka ia tidak akan bisa dikalahkan oleh siapapun.
Teori ini menurut Cak Nun, bertentangan dengan teori psycho-budaya yang lain, bahwa Kalau engkau kehilangan karakter atau kepribadianmu, maka orang akan gampang mengalahkanmu. Dan itulah yang dialami Tyson, dia bukan anak manis, dia bukan lelaki kalem. Pompaan energinya justru maksimal dan eksplosif kalau ia berkarakter sebagaimana dia yang asli, yakni brutal dan animal-like. Padahal waktu itu dia datang ke arena dengan mengenakan jaket kulit tebal yang bertuliskan "Be a Real Tyson". Tapi dia malah bertarung lawan Lewis dengan melanggar bunyi Jaket itu.

Dulu kita pernah mengejek musuh bebuyutan kita yang setelah juara, lalu tahun depannya terdegradasi. Padahal pada saat itu kita belumlah menjadi apa-apa, belum satu gelarpun yang kita dapatkan selain Juara Galatama. Salah satu tuduhan yang terlontar atas apa yang menimpa Persebaya adalah karena sepakbola kita tidak punya kepribadian. Tapi teori ini bisa tidak berlaku, karena Belanda pernah hanya sekedar jadi penonton di Piala Dunia, Italia diluluh lantakkan oleh Negaranya Park Ji-Sung, dan contoh-contoh lain dari kekuatan-kekuatan utama sepakbola yang juga pernah dipermalukan. Kesebelasan Jerman termasuk salah satu yang paling diperhitungkan, juga sudah bertahun-tahun tidak mendapatkan gelar juara, tidak seperti di jaman Gerd Muller, Beckenbauer dulu.


Dalam konteks Arema, akhir-akhir ini kita semakin merasakan bagaimana hilangnya karakteristik Arema dalam tubuh Arema Fc dan Aremania itu sendiri. Karakteristik Arema yang egaliter, dengan rasa persaudaraan yang sangat tinggi antar sesama masyarakat Malang Raya secara khusus, dan Aremania secara luas, keengganan untuk berada di garis depan, dan memilih cukup jadi pendukung utama karena merasa tidak pantas jadi pemimpin, perlahan mulai menghilang dari sendi-sendi kehidupan Arema. Pertarungan memperebutkan kekuasaan yang terjadi di elite Arema menjadi bukti bagaimana sekarang karakter dan kepribadian itu perlahan mulai menghilang. Semuanya merasa dialah satu-satunya, yang berhak memimpin dan memiliki Arema, akhirnya terpecalah Arema, karena semuanya merasa jadi pemimpin, paling benar, dan sang penyelamat.

Tidak ada lagi karakter orang Malang yang cenderung kadang merasa tidak mampu memimpin, bukan rendah diri, tapi rendah hati. Perpecahan inipun mengakibatkan karakter persaudaraan juga semakin menghilang, saling menghina karena berbeda liga, tidak suka jika Arema yang satu menang, menghina ketika yang lain kalah. Padahal, jika kita ingat, Arema yang ada sekarang (baik ISL maupun IPL) dilahirkan dari rahim yang sama, pada saat yang bersamaan, 11 Agustus 1987, berkantor di Kota Malang, berlogo kepala singa, dengan warna kebesaran Biru, dan yang terpenting memiliki supporter yang sama-sama bernama Aremania.

Karakter-karakter yang hilang inilah yang harus dikembalikan, harus kembali dimiliki oleh para elite Arema, agar rasa persaudaraan sebagai sesama Arema kembali dapat kita rasakan, tidak ada lagi perpecahan, kembali memiliki rasa persaudaraan, tidak saling menghina, saling mendukung, demi kejayaan satu nama Arema. Karena dengan berkarakter, kita akan menjadi kuat, kita akan tetap menjadi Arema, yang sangat Satu Jiwa.



Kita (pernah) disatukan dengan satu nama Arema, kita disatukan dengan lambang Kepala Singa, kita sama-sama bangga disebut sebagai Aremania, dimanapun kita, kita selalu mengaku kalau kita Arema. Pada dasarnya kita adalah keluarga, keluarga dalam sebuah keluarga besar bernama Arema, jadi ketika keluarga ini terpecah dan tersakiti apakah kemudian kita akan ikut-ikut untuk semakin memperburuk kondisi ini, tidak inginkan kita semua (baik yang di tataran elite maupun alit) berada dalam satu tempat dan tujuan untuk memajukan Arema.

Arema menjadi juara, ketika hanya ada Arema, tidak menjadi Arema ISL mapun Arema IPL. Arema berjaya hanya ketika ada Satu Arema. Perpecahan dimanapun, tidak akan pernah membuat baik, sebaliknya, hanya akan memimbulkan keburukan bagi yang memecah maupun dipecah. Apalagi jika yang terpecah adalah Arema, Jiwa dari sebagian besar masyarakat Malang Raya secara khusus dan Aremania dimanapun berada. Mengutip Novel terkenal karangan JK. Rowling, yang berjudul Harry Potter, dalam salah satu dialog Novel tersebut dinyatakan, Memecah Jiwa, bukan membuatmu menjadi semakin kuat, tapi justru membuatmu menjadi berada dalam kondisi dimana mati lebih baik, karena itu adalah perbuatan yang sangat Hina. Memang Harry Potter adalah sebuah cerita fiksi, tapi cobalah kita rasakan efek dari perpecahan Jiwa kita menjadi Dua bahkan mungkin akan segera tiga, saya sendiri mulai sering menyatakan bahwa Jika saja Degradasi dan tidak memiliki dana melimpah bisa membuat Arema menjadi satu lagi, Insya Allah saya ikhlas.

Jika dilihat dalam kondisi riil Arema yang telah memiliki 2 Horcrux (Potongan Jiwa) ini, Arema ISL, meskipun mulai meningkat grafik permainannya semenjak dipegang Joko Gethuk Susilo, tapi tetap saja, kita masih ada di Papan Bawah. Bahkan ada kabar sebenarnya pemain Arema ISL juga belum menerima gaji beberapa bulan, entah benar atau tidak. Arema IPL malah lebih hancur lagi, Internal yang selalu bergejolak, ada api-api yang belum benar-benar mati dan bisa membakar sewaktu-waktu, ditinggalkan sang Kapten dan beberapa pemain lain yang memilih mundur karena kondisi tim yang tidak kondusif beserta gaji yang katanya juga belum dibayar. Dan kini, muncul bibit horcrux ketiga, lalu mau bagaimana lagi kita, Aremania ?.

Pendapat saya, Aremania, sebagai pihak yang netral dan merupakan hakim utama Arema, haruslah menjadi pendorong bagi rujuk-nya kembali 3 horcrux ini, agar bisa kembali menjadi Arema Indonesia bagaimana caranya,? Banyak hal yang bisa kita lakukan, termasuk dengan sedikit tega memboikot laga-laga Arema, meskipun itu juga sangat menyakitkan bagi Aremania, tapi bagi saya itu adalah representasi kekecewaan dan bentuk protes atas segala hal buruk yang terjadi di Arema. Yang jelas, Aremania harus bergerak, menyatukan kembali Horcrux-horcrux yang sudah terlanjur berserakan, dan kembali hanya sekedar menjadi, Arema Indonesia.
Yang perlu kita ingat, ini adalah Arema, keluarga kita. Merubah sedikit dari apa yang seringkali dilontarkan Liverpudlian, Arema, Its not a badge, Its Family Crest.
Petilasan Brontoseno,

http://www.wearemania.net/aremania-voice/1535-arema-its-not-a-badge-its-family-crest

Aremania, Portrait of a Supporter


Andi Bachtiar Yusuf, sineas muda yang pernah menggarap berbagai proyek film bertema sepakbola pernah berujar kepada saya bahwa Aremania adalah salah satu kelompok suporter terbaik di dunia. Salah satu dari 5 yang terbaik menurut Arya Abhiseka yang namanya mencuat belakangan ini. Ucup(sapaan karib Andi Bachtiar Yusuf) menunjukkannya kepada dunia lewat film The Conductor yang meraih beberapa penghargaan di berbagai festival film.

Lewat The Conductor tersebut seolah menunjukkan kepada dunia bahwa Aremania memiliki fanatisme yang luar biasa. Fanatisme Aremania ibarat loyalitas tanpa batas, bagi Aremania sendiri sepakbola ibarat kegiatan religius beserta identitas yang memayunginya.
Di tataran fanatisme, Aremania terlihat jauh meninggalkan siapapun dibandingkan kelompok suporter di negara lain di sekitaran wilayah regional Indonesia. "Sesuatu yang belum pernah saya lihat dalam 30 tahun terakhir" ujar Paolo Bertolin seorang programmer asal Italia di festival Film Venice ketika berbincang dengan Ucup beberapa tahun lalu.

Di Indonesia, sepakbola adalah sebuah gairah. Di beberapa kota besar tanah air seperti Malang, Surabaya, Bandung, dan lainnya kegairahan itu ditunjukkan ketika tim dari kota tersebut berlaga. Ketika Arema ataupun Persib bertanding, jalanan di sepanjang kota menjadi lebih sepi dibandingkan biasanya. Tidak banyak orang yang berkeliaran di jalanan meskipun jadwal pertandingan dilangsungkan bersamaan dengan waktu pulang kerjanya karyawan. Sebagian besar menyibukkan diri di depan layar kaca ataupun menajamkan pendengaran sembari memilih frekuensi radio yang tepat dimana satu ataupun dua stasiun radio menyiarkan pertandingan tersebut.

Fanatisme yang ditunjukkan Aremania memang jauh melampaui dari yang dipertontonkan oleh kelompok suporter di beberapa negara ASEAN. Di Singapura, pergelaran final Singapore Cup hanya ditonton kurang dari seperlima dari rata-rata penonton pertandingan Arema di liga.
Dibanding Jepang dan Korea yang sudah maju, mereka boleh memiliki kompetisi sepakbola yang tertata secara profesional dan tontonan yang memikat. Namun menurut Ucup sendiri, untuk urusan heroisme dan fanatisme suporter, Indonesia dan Aremania-lah juaranya.

Fanatisme itu tidak terlahir dengan sendirinya. Di Indonesia fanatisme terhadap sepakbola sudah lahir sejak zaman perjuangan Indonesia dalam menghadapi penjajahan negara asing. Sepakbola adalah wadah perjuangan bangsa Indonesia, dan menjadi salah satu alat yang efektif dalam menggalang semangat nasionalisme rakyat. Di Malang sendiri fanatisme terlahir pesat dalam 3 dekade terakhir dan disatukan dalam wadah berjudul 'AREMA'. Suporternya sendiri, Aremania bersatu untuk mendukung timnya, dimanapun Arema melanglang memainkan bola.

Karena fanatisme dan kegilaan Aremania-lah yang mampu memagari Arema dari jurang kejatuhan. Fanatisme itu pula yang mampu menyokong kehidupan klub lewat beberapa pintu, tiket pertandingan yang dapat dibeli di setiap pertandingan, ide dan program untuk menghidupkan Arema hingga nilai sebuah komunitas bernama Aremania yang mampu mendatangkan magnet bagi masuknya investor maupun sponsor.

2 Dekade lalu, sederet rerimbunan pohon gaharu di pinggiran Jalan Kawi dan Semeru, Kota Malang menjadi saksi bisu perjalanan Aremania hingga sebesar sekarang. Lewat beberapa sudut tribun Stadion Gajayana fanatisme dan atraktifnya sekelompok suporter itu ditunjukkan. Mereka datang secara heterogen dengan tidak memperdulikan usia, gender hingga status sosial. Mereka datang dengan menumpang truk, mikrolet ataupun berjalan kaki sejauh beberapa kilometer dan beriringan sepanjang jalan.

Idealisme Aremania ketika itu sebagian besar cukup simpel, mereka datang sebagai suporter yang mendukung klubnya bertanding. Mereka tidak peduli jika harga karcis ekonomi yang mereka beli lebih dari cukup untuk ditukar dengan 3-4 liter beras yang mampu mencukupi kebutuhan keluarga yang terdiri dari 4 orang selama hampir seminggu. Bahkan mereka tidak peduli jika selembar tiket itu harus ditebus dengan puasa 1-2 slop rokok yang biasa mereka habiskan selama beberapa hari.
Itulah Aremania, dengan fanatisme yang luar biasa mereka tetap mampu berdiri kokoh dalam konsistensinya untuk mendukung sebuah klub. Mereka berharap pengorbanan yang mereka tunjukkan dibalas oleh sebuah prestasi setimpal oleh klubnya.

Ya, esensi sebuah suporter memang ibarat sebagai penyokong garis kehidupan klub. Seringkali mereka tidak perduli terhadap prestasi klub yang awut-awutan atau dikelola secara serampangan. Asal bisa melihat klub bertanding dengan suguhan permainan atraktifnya, itu sudah lebih dari cukup untuk memuaskan kebutuhan rohani suporter. Sebagian lagi tidak malu-malu untuk mengakui bahwa kehadiran mereka di stadion sebenarnya untuk melihat pertunjukan seni atraktif nan kreatif dari gerak lagu dan tari Aremania.

Barangkali diantara seluruh stakeholder Arema, yang paling dikenal dan dikenang Aremania adalah pemain. Dekade lalu, Pacho Rubio dan Rodrigo Araya adalah dua dari sederet pemain Arema yang dikenal luas di kalangan suporter. Pacho Rubio terkenal dengan gol dan headingnya yang memukau tatkala Arema harus bertanding di Senayan.


Rodrigo Araya sendiri menjadi salah satu legenda dalam deretan playmaker Arema yang terkenal dengan kemampuan tendangan bebas dan passingnya. Tatkala Rodrigo Araya pindah ke Persijatim yang bermarkas di Stadion Bea Cukai Rawamangun sekitar 11 tahun lalu, banyak suporter yang menyesalinya. Di masa sekarang mungkin Esteban Guillen yang 'layak' menjadi pesaingnya.
Aremania memang tidak memiliki payung organisasi yang jelas, otomatis tidak ada pula susunan kepengurusan didalamnya. Jika ada yang menanyakan bagaimana sebuah komunitas suporter tanpa Anggaran Dasar dan Rumah Tangga (AD/ART) bisa berjalan dalam rentan waktu yang lama, maka Aremania-lah jawabannya. Dengan segala keterbatasannya tersebut, mereka mampu mengkonversinya sebagai kelebihan.

Sebelum terbentuknya Aremania, seringkali di media televisi dipertontonkan perilaku arogansi sekelompok suporter ketika mendukung timnya berlaga. Namun anggapan itu perlahan dikikis dengan kehadiran Aremania. Aremania seolah menyulap arogansi itu dengan menjadi suri tauladan suporter lainnya dengan menebarkan virus damai serta menjadi inspirasi bagi kelompok suporter lainnya.


Suatu hal yang menarik dan kemudian mengangkasa setelah konflik Arema berakhir nantinya adalah kembali munculnya pertanyaan klasik. Bagaimana dan dengan cara apa kisah manis Aremania ini akan dibangkitkan kembali? Kapan peristiwa itu terulang menjadi kisah misterius. Hanya saja siapapun yang berani dengan kepala tegak mampu menegakkan panji Aremania sebagai pendukung kesebelasan Singo Edan, maka ia berkesempatan mengulang kenangan manis Aremania sebagai sebuah potret suporter yang dikemas hebat dalam balutan kreatifitas dan fanatisme. (Oke Sukoraharjo)
*Artikel ini pernah dimuat di website www.satubola.org