Selasa, 02 Oktober 2012

Juan Rubio Pun Bingung Arema Ada Dua



Juan Rubio Dan Kostum Yang Dipakai Dulu Di Arema
Juan Rubio Dan Kostum Yang Dipakai Dulu Di Arema

Wearemania.net - AYAS HISAM TEGAK SAM ! Itulah status twitter dia ketika Ayas menemukan kembali pahlawan Arema yang telah hilang, di dunia maya pada jejaring sosial berlogo "manuk emprit" yaitu twitter. Mungkin kalimat itu menggambarkan keadaannya sekarang setelah lama tak aktif di dunia sepakbola profesional seperti saat membela Arema dan di elu-elukan Aremania.
Empat tahun membela panji Singo Edan pada tahun 1996 hingga 2000. Dia juga yang berjasa memperkenalkan lagu suporter Chile untuk digubah sebagai lagu untuk mendukung Arema, dan lagu ini telah menjadi lagu kebangsaan dengan berbagai versi para suporter di Indonesia untuk mendukung kesebelasan kesayangannya, lagu itu dikenal dengan Sore Ini (Kita Harus Menang).

Juan Manuel Rubio juga sempat memboyong adiknya Fransiscco "Pacho" Rubio tahun 1999 ke Arema. Mereka bertiga terkenal dengan Three Muskeeter Chile Arema bersama Rodrigo Araya kala itu. Dengan diiringi lebih dari 10 ribu Aremania, mereka membawa Arema ke Babak 8 Besar di Senayan pada Ligina musim 1999/2000. Pacho mencetak 10 gol sejak hadir di bumi Arema mulai putaran II Liga Indonesia 2000 (termasuk 3 gol yang dicetak Pacho Rubio dalam 2 pertandingan di babak 8 Besar di Senayan) ini adalah momen emasnya bersamaTrio Chile ini Arema.

Namun sayang, kiprah Rubio bersaudara di Arema berakhir tahun 2000 bersamaan dengan pelarangan Pacho untuk bermain di liga di Indonesia oleh PSSI kala itu karena kelakuan tidak sportif Pacho.

Juan Manuel Rubio adalah orangnya, muncul di twitter langsung membuat banyak Aremania yang ada di twitter langsung menyambutnya, bahkan ada pula nawak yang menuduh ini akun twitter Juan Rubio palsu, karena ternyata Juan masih bisa menulis dengan bahasa Indonesia bahkan basa Ngalam di Twit-annya.

Juan Rubio yang mengaku sekarang berprofesi sebagai pengusaha penjual rumput sintetis untuk lapangan, klo ditelusuri timeline akun twitternya, Juan baru dalam menggunakan twitter dan cukup antusias ternyata dalam sekejap sudah mempunyai 100 follower yang kebanyakan Aremania. Disitu terlihat obrolan antara Juan dan Aremania yang bernostalgia tentang gagalnya Arema maju ke babak berikutnya saat babak 8 besar di Senayan tahun 2000, yang dianggap sebagai malam paling sedih bagi Juan.

Dan ketika Juan mengetahui Arema terpecah jadi dua, Dia pun sangat terkejut karena setau dia Arema cuma ada satu yaitu Arema Malang yang pernah dibelanya. Apalagi dua Arema tersebut hanya mampu menghias klasemen bawah kalasemen sementara.

"Apakah ada dua Arema? IPL atau ISL? Aku bingung, aduh... pada masa aku masih sadar Arema ada hanya satu: Arema Malang !!! Dan dua-duanya hampir juru kunci? Aku masih kaget... Kok ada dua Arema? Bagaimana mungkin bisa terjadi?,"tulis Juan di akun Twitternya, mungkin dia telah dapat laporan dari nawak-nawak Aremania.

Akhirnya, di timeline terbaru beberapa nawak menanyakan apakah Juan tak ingin kembali ke Ngalam dan membawa keluarganya. Dengan bahasa Spanyol Juan Rubio menjawab, Si pudiera me ira ahora mismo a Malang. Extrao mucho la tierra del Len Loco. Yang artinya, Jika saya bisa saya akan pergi sekarang ke Malang. Aku rindu Tanah Singa Gila.

Kami tunggu kedatanganmu di Bumi Arema kapanpun juga, mungkin suatu hari anakmu, atau saudaramu dan Rubio-Rubio yang lain, datanglah ke Kandang Singa karena Arema selalu terbuka untukmu.

Twitter Juan Manual Rubio : https://twitter.com/#!/JuanRubio_24
Source : http://ongisnadebogor.blogspot.com/

http://www.wearemania.net/aremania-voice/1783-juan-rubio-pun-bingung-arema-ada-dua

Suporter Profesional 90 Menit, Iso a Ker?


Tulisan ini menggunakan bahasa Jawa-Malang, yang inti tulisannya adalah kita tidak perlu sungkan meneror pemain Persija, Persela, Deltras dll karena mereka adalah pemain yang akan mengalahkan tim kita. Tanpa perlu sungkan dengan suporternya sebab yang kita teror bukan suporter melainkan pemain.

Bukankah tugas kita adalah mensuport tim. Usai pertandingan, kita akan berkawan dengan siapa saja. Pemain saja bisa menjadi teman di luar lapangan dan berduel mati-matian dengan temannya itu seperti tidak saling kenal. Pertanyaannya, bisakah kita membantu pemain kesayangan kita untuk menaikkan moralnnya dan menjatuhkan lawannya. Simak uraian lengkapnya...

#profesional90menit, intine sih suporter yo kudu osi profesional, ga mek pemain thok.. :). Iki soale Ayas risih krungu lagu "bonek jancok, viking anjing", padahal sing dilawan guduk Persebaya / Persib. Opo maneh pas laga lawan Persija, ono lagu "Persija Arema kita sodara", otomatis pemain Persija kadit terintimidasi. Sejujurnya Ayas kangen lagu-lagu Aremania mbiyen, koyo' "keras...keras, Arema keras!", iku wes jarang krungu saiki. Aremania saiki lebih sering nyanyi "bonek jancok, viking anjing", pertanyaan-e ono bonek/viking ndek stadion a?

Misale laga vs Persebaya / vs Persib gapopo sih.. Lha lek sing niam pas vs Persija / vs Deltras? Neror sopo rek? Ayas rikip pemain-e Persija, Deltras, dll. gak bakal tertekan lek lagune "bonek jancok, viking anjing". Malah ono kemungkinan Arif Ariyanto (Arema #9) sing bakal merasa tertekan, mengingat pemain iku dibesarkan Persebaya. Sementara pemain tim lawan yo santai ae, lha sing diteror ambek Aremania iku Bon-Vik, guduk pemain/klub sing lagi niam.

Padahal ndek Gajayana biyen, sing diteror Aremania iku pemain & tim lawan sing niam ndek lapangan, guduk suporter lho. Ayas eling, mbiyen pas lawan Persija, lagu-lagu koyo' "Persijancok dibunuh saja" mesti terdengar teko' seluruh tribun. Kamsud-e ayas iki guduk ngadu Aremania ambek Jakmania lho yo, eling sing diteror iku klub lawan, guduk suporter lawan. Cekno Kanjuruhan dadi "neraka" gae lawan. Koyo Gajayana biyen. Arema jago kandang soale ono Aremania sing ngrewangi.
Teror Aremania iku efektif gae menjatuhkan mental pemain lawan, mirip Arema vs Persib wingi, Marcio nganti g iso opo-opo.

Lha lek lawane guduk Persebaya/Persib, nyanyine sek "bonek jancok, viking anjing", yo ga ono sing terintimidasi rek. Lagu motivasi gae Arema yo wis jarang krungu, paling-paling lagu "salam satu jiwa" thok sing sering dinyanyi'no ndek tribun. Padahal, biyen Aremania wani ngarani pemain-e sing niam elek, conto-e lagu "Kuncoro licik..Kuncoro licik." Pemain Arema sing di-ilokno ambek Aremania bakal termotivasi gae main apik, bakal isin di-ilokno Aremania sak stadion. Makane biyen ono istilah "lek ga kuat mental ditekan Aremania, ga bakal cocok main ndek Arema."
Lagu motivasi biyen yo ono "ebes...ebes", tujuane nipu pemain Arema cekno dikiro ono Ebes Sugiyono ndek tribun.

Gara-gara lagu iku, pemain Arema dadi trengginas, soale "wani kelangan sikil timbangane kelangan rai ndek ngarepe ebes." Terus lagu "keras..keras, Arema keras" iku yo osi ngangkat motivasi pemain cekno niam keras, permainan khas arek Malang. Sing paling jarang yo lagu-lagu neror tim lawan, opo maneh lek lawane Persija/Deltras, ga ono lagu neror pemain 2 tim iku. Pas Arema vs Persija, Aremania & Jakmania nyanyi "bonek jancok, viking anjing". Padahal ga ono Bon-Vik ndek stadion. Siapapun yg di atas lapangan hijau = MUSUH | Saudara hanya utk yg di TRIBUN !!

Seng sering lagu gembel-gembel ganok penyemangate blas, jare pemain yo ngono. Terus opo gunae dadi suporter lek ga berusaha menaikkan mental pemain tim kesayangan & menjatuhkan mental pemain lawan. Ga usah dinyanyi'no lho asu-asu iku yo wes eruh.. Opo maneh TV mesti nyensor, guwak-guwak tenogo ae. Kabeh Aremania = Anti Kenob.Tp percuma lek di pisuhi dek stadion. Mending lek ketemu langsung dilokop ae.

Wildansyah - Arema
Pemain Yang Saling Jegal 90 Menit, Salin Hadang, Dan Saling Hantam Bisa Menjadi Teman 

Masio seduluran, ayas rikip dalam 90 mnt posisi-ne dadi musuh, profesional membela tim-e dewe & mengintimidasi tim lawan. Ga ono sungkan, pakewuh, or rasa ga enak. Di luar 90 menit posisi seduluran, tapi di dalam 90 menit, posisi dadi musuh. Persija, Bambang Pamungkas, Rahmat Affandi, dll kudu dadi cercaan Aremania sesuk tanggal 6 Mei ndek Manahan. Jakmania, selama 90 menit pada 6 Mei 2012 ndek njero Manahan iku lawan rek, tapi ndek njobo stadion tetep sedulur. Moso' ga ngregani perjuangan pemain Arema sing berusaha profesional ndek lapangan, mereka berjuang rek, ayo direwangi!

Mbiyen pas team lawan ublem kandang singo pelatih-pelatih e musuh pst ngomong "jangan biarkan aremania bernyanyi" iki bukti lek aremania di segani. Aremania dewe sing osi, mari belajar bareng dadi suporter #profesional90menit, saling mengingatkan. Opo ga wedi pemain lawan lek Aremania nyanyi "moleh tawur" / "ga iso moleh", or BePe disoraki "BePe memble." Suporter dewasa pasti akan menanggapi dengan sportif, tapi setidaknya mari kita hilangkan kebiasaan misuhi Bon-Vik yg g ada di tribun. Suporter dewasa itu bisa menempatkan posisinya , kalo masih bolo-boloan ya suporter. Nah, lebih baik bersaing dalam kreatifitas & pmbuatan rekor. Masio dulur, misuhi gawe ngerusak mental pemain lawan gakpopo. Nang lapangan lawan, nang tribun kawan.

Seme & Njanka sing sepupuan ae lho osi fight 90 menit, suporter kudune yo iso. Pemain ae lho #profesional90menit, mosok suporter kadit osi? Lek kadit osi, yo bersorak'o "Arema Persija kita sodara" pas Arema kebobolan. R. Affandi ga bakal sungkan ate njebol gawang-e Meiga, mosok koen sik sungkan ngilokno Persija sing lagi dilawan Arema? Seme ae lho ga sungkan njegal BePe ndek lapangan, mosok koen ga pengen ngrewangi Seme gae menjatuhkan mental-e BePe? Lek sesuk sik nyanyi "bonek jancok, viking anjing", podo ae ngrewangi Persija. Kan Persib-Persebaya musuh Persija. Sing suporter ababil iku kudu dielingno, diajari dadi suporter sing reneb. Biyen awak dewe osi berubah kok, moso' saiki kadit osi.
  • #profesional90menit iku vs Persebaya nyanyi "bonek jancok", vs Detras nyanyi "deltras jancok", vs Persija nyanyi "persijancok", dll.
  • #profesional90menit iku ciri suporter dewasa: osi memposisikan diri sesuai tempatnya, masio seduluran, yo selama 90 menit iku dadi lawan.
  • #profesional90menit iku rivalitas berbalut sportivitas, ga ono boloan ambek suporter tim lawan, kabeh support (dukung) tim-e dhewe-dhewe.
  • #profesional90menit iku neror tim sing niam lawan Arema, guduk suporter/klub rival sing antah berantah ga jelas posisine ndek stadion..
  • #profesional90menit iku dukung Arema untuk memotivasi pemain, guduk misuhi klub/suporter ibukota jatim & ibukota jabar..
  • #profesional90menit iku ngajari Aremania licek cekno terbiasa neror tim lawan, sekaligus kadit melestarikan permusuhan ambek kenob/viking..
  • #profesional90menit iku ngajari Aremania licek cekno eruh, tim endi sing didukung. Cekno werno syal-e ttp biru, ga biru-orange/biru-merah..
  • #profesional90menit iku ngajari Aremania licek cekno bener-bener dadi Aremania, sing dukung Arema 100%, tanpa memusuhi yg lain.. Sportif!
  • #profesional90menit iku berpotensi menghilangkan dua kutub suporter, sekaligus melestarikan sikap "musuhmu bukanlah musuhku".. Sportif!
  • Ayo rek, #profesional90menit di dalam stadion adalah musuh, di luar stadion tetap saudara.. Aremania ada untuk Arema! Salam satu jiwa!
ONGISNADE BOGOR*
*(Tulisan dirangkum dari postingan dan timeline : https://twitter.com/#!/Anarki_87)

Suporter = Orang Paling Kaya


Suporter adalah orang terkaya. Agak aneh memang anekdot seperti itu, pasalnya suporter identik dengan orang yang kebanyakan dari golongan menengah kebawah. Dari golongan atas pun ada, namun jumlahnya tidak sebanyak dari golongan dibawahnya.
Bukannya tanpa sebab jika anekdot itu ada, pasalnya Suporter adalah orang yang menghidupi Klub-klub professional dunia. Real Madrid, Manchester United, hingga AC Milan bisa nangkring ke jajaaran klub terkaya dunia pun perlu "minta tolong" kepada suporter untuk menghidupi keuangan mereka.

Tidak percaya, simak uraian berikut. Berapa Harga Cristiano Ronaldo?? orang paling kaya dunia pun pasti akan mikir satu juta kali untuk membeli manusia seharga 1 trilliun rupiah. Uang yang mungkin bisa membangun rumah mewah sebanyak 1000 buah itu begitu mudah dihamburkan untuk Real Madrid untuk seorang pemain saja.

Madrid sebagai salah satu klub kesohor dunia tentunya bukan tanpa perhitungan, pasalnya dengan memiliki Ronaldo akan banyak penggemar baru klub itu, dan tentu saja sebagai pemilik Ronaldo maka Madrid berhak untuk jualan kaos dengan nama dia, dan hasil jualan kaos dari pemilik nomer 9 itu kepada suporter bisa mengembalikan modal dalam tempo cepat !!, maka tak heran sisi jualan kaos menjadi dagangan utama klub-klub Eropa yang ujung-ujungnya soporter harus mengeluarkan uang untuk kaos itu. Selain Kaos tentu saja ada marchandise yang menyita sebagian uang didompet.
Sisi lain yang dibidik adalah bisnis jualan tiket pertandingan, mungkin jika ditotal, kedatangan para manusia ke teater yang mementaskan 22 manusia berebut bola akan sangat banyak, bahkan bisa ratusan ribu. Nah masuknya mereka ke teater itu, tentu saja membeli selembar kertas ajaib yang bernama tiket. Dan itu tentu saja seorang suporter harus keluar uang lagi.

Siaran televisi yang menyumbang sejumlah kertas ajaib berkode euro atau dollar kepada klub, tak luput dari peran suporter, Jika ada bintang di sebuah klub, bisa menyebabkan klub yang bersangkutan akan sering ditonton oleh suporter yang tidak bisa ke Stadion, sebab jika suporter ingin menonton siaran langsung sepak bola, maka dia harus menyetor sejumlah uang ke televisi.

Belum lagi jika suporter itu bepergian keluar kota atau bahkan lintas negara, maka tentunya akan sangat menguntungkan transportasi umum atau jika mereka menggunakan kendaraan pribadi, yang untung adalah orang jualan bensin.

Tour Batavia dan Konvoi
Aktivitas suporter untuk keluar duit tidak hanya terjadi di Eropa saja. Di belahan bumi lain, tepatnya di pulau Jawa bagian timur, lebih tepat lagi di Malang. Bahkan kegilaan di Malang, dengan klub yang bernama Arema tidak bisa kalah begitu saja dengan sesama suporter penyuka klub Eropa.
Sedikit cerita, kemarin ayas mengikuti tour ke Batavia seharga 230 ribu. Uang itu adalah biaya ongkos kirim badan ini ke teater yang dinamakan Gelora Bung Karno. Iseng-iseng ayas mencoba menghitung sebuah nominal kedatangan umat manusia yang bernama Aremania ke Senayan.


Jika harga sebuah tour itu sebanyak 230 ribu, dan jumlah Aremania yang ke Stadion GBK sebanyak 45 ribu. Maka jika dikalikan keluar angka 10.350.000.000 alias 10 milyar 350 juta. Guennndeenggg ker !!
Itu adalah akumulasi kasar jika semua orang menggunakan bis, padahal masih ada yang memakai kereta api, kendaraan pribadi hingga pesawat terbang.
Angka yang sangat menguntungkan pemilik bus dan penjual bensin itu belum ditambah dengan penjual makanan, penjual soak dan atribut, hingga penjual minuman. Dimana tentu saja setiap Aremania pasti punya uang saku selain 230 ribu itu.

Selain ke Jakarta, rutinitas Aremania minggu ini adalah menggeber kendaraannya untuk melakukan pawai keliling kota. Tidak sedikit uang yang harus dikeluarkan untuk membeli air sakti berwarna kuning dalam rangka menghidupi mesin sepadanya.
Belum lagi selama 17 pertandingan kandang tidak pernah absen ditambah tour ke luar kandang. Makin banyak uang yang dikeluarkan oleh seorang suporter.


Harga Sebuah Loyalitas
Bagi seorang suporter fanatik, tentu saja uang tersebut tidak masalah, Karena Bola adalah masalah cuma satu yaitu sebuah kesenangan. Di Bola, kegembiraan akan kemenangan tim kesayangan, kesedihan akibat timnya dibantai lawan, atau bahkan kebanggaan tidak bisa dibeli dengan harga berapapun !!

Jika tidak punya uang mereka akan meminjam, atau menjual barang berharga mereka. Pendek kata mereka rela melakukan apapun untuk bisa menonton teater itu.
Sehingga ada sebuah kebanggaan bagi ayas sebagai seorang suporter bahwa suporter adalah orang terkaya. Bahkan klub Real Madrid, Manchester United, Barcelona, dan tentu saja Arema, bisa eksis karena ada kita, seorang suporter yang tanpa henti dan tanpa lelah mendukung dengan segenap jiwa.
Salam Satu Jiwa Arema

Arema = St Pauli


Jika Muangthong FC diidentikan dengan Manchester Unitednya Asia Tenggara. Maka Arema adalah St Paulinya Indonesia. St Pauli FC adalah sebuah klab yang bermarkas di Hamburg tepatnya di Saint Pauli. Meski Selama berkompetisi di liga sepak bola profesional Jerman, klub ini belum sekalipun meraih prestasi yang bergengsi. Namun klub ini punya atribut membanggakan yang tidak dipunyai suporter lain di seantero Eropa sana. Suporter disana terkenal sangat loyal, karena sepakbola sudah dianggap sebagai denyut nadi kehidupan. Ada rasa kebanggaan tersendiri dalam rangka membela Panji St Pauli.

Padanannya tentu saja adalah Arema, dalam blog Jakarta Casual, ada artikel yang menulis,

Arema are more than just a football club. They are a way of life. They are the St Pauli of Indonesia. A culture with in a culture. Satu Jiwa, one heart or one soul. Arema is rough and ready. It's Satu Jiwa, one soul, it's Arema or nothing. It's a five hour walk home after a home game.It's football of the people, not the marketing men and it's real.
Karena, Arema sesungguhnya bukan sekedar sebuah klub sepakbola berikut komunitas suppoerternya yang sangat fanatik. Lebih dari itu, adalah sebuah simbol, atau lambang yang menandakan kebanggaan terhadap identitas sebagai orang asal Malang, Salam satu jiwa adalah simbol kebanggaan untuk saling bersodara, rasa memiliki, dan tentu saja kebanggaan besar akan klab sepakbola. Oleh karena itu, sebutan Arema bukan sekedar melekat pada komunitas sepak bola, namun juga digunakan oleh komunitas sopir angkutan umum, tukang becak, komunitas tinju dan lain-lain. Sama halnya klab St Pauli di Jerman yang begitu dicintai.

Dalam perspektif historis, identitas Arema juga dapat dilihat sebagai bentuk resistensi terhadap Arek Surabaya. Bukan rahasia lagi jika anak-anak muda Malang dan anak-anak muda Surabaya sejak dahulu bersaing dalam banyak hal. Mereka bersaing untuk menjadi warga yang paling superior di Jawa Timur. Dalam konteks itulah, kadar permusuhan Arek Malang terhadap Arek Surabaya begitu mengental dan dalam kasus-kasus tertentu melebihi permusuhan mereka dengan komunitas yang secara geografis lebih jauh.

Arema kemudian menjelma mejadi semacam "subkultur" dengan identitas, simbol dan karakter yang berbeda dari subkultur Arek -yang secara umum telah identik dengan Arek Surabaya. Arek Malang membangun reputasinya di antaranya melalui musik dan olahraga. Sejarah menunjukkan Malang adalah gudangnya petinju berprestasi seperti : Thomas Americo, Wongso Suseno, Polo Sugaray, Monodh, dan lain-lain. Malang juga melahirkan pesepak bola kenamaan : Bambang Nurdiansyah, Jamrawi, Singgih Pitono, Aji Santoso, Kuncoro, Maryanto, Agus Yuwono, Charis Yulianto dan lain-lain. Beberapa dari mereka bukan asli Malang, namun mereka besar di Malang dan bangga disebut Arek Malang.

Aremania Adalah Sponsor Arema



Bukan hal aneh jika selama ini dukungan Aremania kepada Arema terasa sangat besar, bahkan menyentuh segi ekonomi. Sejak dulu bukan kabar yang mengagetkan jika klub ini hampir tidak bisa mengikuti kompetisi Liga karena tidak punya dana. Problem dana memang telah mendarah-daging dalam Arema. Uniknya, klub berlogo singo edan ini selalu dapat mengatasi problem itu, bahkan mempu berprestasi lumayan bagus.

Sekali menjadi juara kompetisi Galatama, 2 kali Copa Indonesia, dan 1 kali ISL adalah buahnya. Catatan prestasi ini cukup untuk menempatkan Arema salah satu tim yang disegani di kancah Pesepakbolaan Indonesia. Namun yang lebih sering menarik perhatian publik bola nasional dari Arema dalah polah-tingkah komunitas supporternya yang dikenal dengan sebutan Aremania. Aremania banyak dipuji sebagai prototipe supporter sepak bola yang ideal untuk masa depan sepak-bola Indonesia. Mereka mampu menggabungkan unsur fanatisme terhadap klub kebanggaan dengan sportivitas terhadap pemain dan suppoter lawan, serta kreativitas dalam menghidupkan atmosfer pertandingan. Hal inilah yang membuat Jakarta Casual tidak ragu untuk memberi padanan bahwa Arema adalah St Paulinya Indonesia.

Militansi Aremania tak diragukan. Mereka sanggup bernyanyi dan menari sepanjang pertandingan untuk mendukung tim kesayangannya. Mereka tetap memberi dukungan walaupun tim Arema mengalami kekalahan. Yang terbaru adalah rekor jumlah tandang penonton hingga kisaran 45 ribu ketika Arema bersua dengan Persija di 30 Mei 2010 lalu.

Aremania mempunyai prinsip kuat. Kalau mereka tidak mempunyai cukup uang untuk membeli tiket atau berjalan ke kota lain untuk menonton Arema, mereka akan bermain musik di jalan atau meminjam uang dari teman untuk mendapatkan uang. Mereka tidak akan mencuri atau melakukan sesuatu yang merupakan pelanggaran. Prinsip ini adalah sama kalau Aremania ke kota lain untuk menonton Arema. Aremania tidak mau menganggu masyarakat kota itu atau melakukan sesuatu yang kurang sopan. Arema kuat dalam kepercayaannya dan tidak pernah mau menciptakan persoalan. Hanya ada satu hal yang bisa mendapat Aremania menjadi kurang baik yaitu kalau pendukung tim lain merusak bendera Arema. Misalnya, menurut seorang Aremania, sering kali Aremania dil
empari waktu di pertandingan tetapi Aremania duduk diam dan tidak membalas atau melakukan apa saja. Akan tetapi, kalau pendukung tim lain itu merusak bendera, Aremania akan menjadi marah dan membalas sebagai kekuatan satu.

Militansi inilah yang membuat banyak pemain asing, khususnya duo singapura betah di Malang. Militansi itu yang membuat para pemain bermain kesetanan dan sanggup mengalahkan tim-tim yang lebih unggul. Para pemain bahkan begitu loyal terhadap tim, walaupun mereka tidak digaji setinggi jika mereka bergabung dengan tim lain. Ridhuan dan Along sendiri sebenarnya sudah hampir bergabung dengan Sriwijaya. Namun karena Aremanialah mereka balik kucing untuk membela panji Singo Edan.

Di sisi lain, keberadaan Arema dan Aremania juga bermakna sebagai media katarsis bagi problem-problem sosial yang dihadapi anak-anak muda Malang. Jika mau jujur, karakteristik anak-anak muda Malang tidak jauh beda dengan anak-anak muda Surabaya. Mereka menjadi bagian dari dinamika tradisi kekerasan, premanisme serta gaya hidup hedonis yang juga berkembang di Malang. Arek Malang dalam sejarahnya juga mengenal minum-minuman keras, narkoba dan berbagai bentuk aksi kejahatan. Omong-omong tentang kekerasan, bahkan ada seloroh yang menyatakan "Tradisi kekerasan di Malang sudah kondang sejak jaman Ken Arok".

Simak Artikel St Pauli di Wikipedia berikut
http://en.wikipedia.org/wiki/FC_St._Pauli#Supporters

Walaupun tidak ada data statistik yang meyakinkan, namun kita bisa menyakini kebiasaan-kebiasan buruk Arek Malang itu menurun signifikan sejak mereka Arema berdiri tahun 1987 dan berhasil menjadi simbol kebanggaan baru bagi Arek Malang. Arema dapat menjadi muara (yang positip) bagi Arek-arek Malang untuk menumpahkan segala kesumpekan hidup yang mereka alami. Arema dapat menjadi media katarsis bagi energi-energi terpendan dalam tubuh anak-anak muda di Malang.
Dalam konteks inilah, fanatisme terhadap Arema menghasilkan efek-efek positip. Fanatisme itu dapat mengurangi kebiasaan nge-drug, minuman keras, trek-trekan (balapan liar) dan kebiasan-kebiasan buruk lain yang lazim dilakukan arek-arek Malang. Fanatisme itu tidak dibiarkan tumbuh liar, melainkan dikelola dengan baik melalui pembentukan korwil-korwil Arema berikut berbagai kegiatan positipnya : pengajian, tahlil bersama, arisan, bakti sosial dan lain-lain.

Memang mustahil untuk memastikan bahwa 100.000 lebih supporter Arema semuanya sudah berkelakuan baik. Tentu saja ada satu-dua orang yang masih suka minum-minuman, ngedrug, nyopet ataupun tindakan kejahatan yang lain. Meskipun demikian, harus diakui Aremania semakin jauh dari kesan supporter sepak bola yang sangar, anarkhis dan suka melakukan kekerasan.
Berdasarkan realitas-realitas di atas, terlihat bahwa Arema sesungguhnya adalah aset yang sangat berharga bagi masyarakat Malang dan sekitarnya. Eksistensi Arema dan Aremania mampu menghadirkan sejumlah dampak positip bagi kehidupan sosial masyarakat Malang pada umumnya karena Arema adalah St Paulinya Indonesia

Salam Satu Jiwa

Senin, 01 Oktober 2012

Barisan Sakit Hati





Wearemania.net - Memasuki periode akhir kompetisi ISL musim 2009-2010, para kontestan ISL mulai merevisi target tim yang dicanangkan oleh manajemen pada awal musim. Tak terkecuali Arema Indonesia, tim manajemen merevisi target yang pada awal musim "hanya" mampu bersaing dipapan atas menjadi juara diakhir kompetisi.

Penampilan stabil dan terus menanjak diperlihatkan oleh tim Arema Indonesia sehingga juara paruh musim dapat digenggam. Bahkan perjalanan tim Arema musim ini diwarnai beberapa rekor yang berhasil dipatahkan, diantaranya rekor pendapatan tertinggi di Indonesia 1.3 Milyar saat derby Malang kontra Persema, mematahkan rekor tidak pernah menang lawan Persik Kediri menjadi kemenangan back to back atas rival se-Jatim, dan yang paling baru mematahkan rekor kandang fantastik milik Persiwa yang tidak pernah kehilangan poin saat main di Wamena.

Akan tetapi kemenangan heroik Arema Indonesia pada lawatan ke Wamena kemarin ditanggapi oleh pelatih Persija Benny Dollo dengan negatif, "Bagaimana mungkin mereka bisa menang di Wamena (melawan Persiwa) sementara tim-tim lain tak ada yang bisa menang di sana, katanya.

Bisa jadi komentar ini meluncur dari seorang pelatih yang frustasi tidak bisa mengangkat performa tim yang dipenuhi banyak bintang dan dipersiapkan dengan matang untuk dapat merebut tahta tertinggi kompetisi ini. Sehingga kegagalan mengangkat performa ini ditutupi oleh komentar-komentar yang kontroversi dan cenderung memojokkan salah satu tim yang menuai prestasi lebih baik dari tim yang dia tukangi.

Dia belum tahu bagaimana perjuangan punggawa Arema dilapangan, bagaimana antisipasi adaptasi, bagaimana strategi tepat pelatih, dan bagaimana dukungan 100 Aremania yang hadir mendukung, semua bekerja keras untuk sebuah kemenangan. Tidak peduli dengan rekor mereka yang luar biasa, tak mengingat bahwa disana terjadi peristiwa yang menakutkan, tak merasa bahwa disana adalah tempat dingin dengan suhu 19 derajat Celsius yang membuat oksigen tipis dan paru-paru memompa lebih cepat dari biasanya. Yang mereka tahu adalah adrenalin kemenangan mereka lebih tinggi dan kuat daripada itu semua

Barisan sakit hati semakin bertambah ketika mendengar komentar manager Persebaya yang mengatakan bahwa kompetisi ISL masih kental dengan pengaturan skor. Sepak bola kita tidak rasional. Tim yang baru terbentuk terakhir seperti Arema bisa tiba-tiba jadi calon juara, sedangkan tim lain yang persiapannya banyak akan didegradasi, katanya. Saleh kembali menegaskan bahwa kompetisi sepak bola Indonesia adalah kompetisidi air kotor. Tapi saya hanya seorang Saleh, bisa apa saya melawan Nurdin. Presiden saja tidak bisa, lanjutnya.

Kemana saja bapak yang satu ini??? ketika dahulu banyak suporter yang bersuara lantang menyeru perombakan di tubuh PSSI dan rela bermandikan peluh keringat demi sebuah era baru sepakbola, dia dimana??? Ketika ketidakpercayaan suporter dan masyarakat tumpah ruah dihalaman kantor PSSI mungkin dia lagi duduk dikantor mewah ber-AC dengan kaki diangkat ke atas meja sembari menyalakan sebatang rokok, padahal dia tahu bahwa itu dilarang... tetapi dia acuh.

Sekarang, ketika tim yang dahulu sering menjadi "korban" ketidakadilan berbalik unggul dan lebih besar, mereka berseru lantang ini adalah skandal, sebuah hasil yang irasional, sebuah kemenangan yang telah diskenario oleh orang-orang berkepentingan.

Semua ini adalah wujud ketidaksiapan hati mereka menghadapi kenyataan, ketidaksiapan mata mereka melihat tim lain lebih besar, ketidaksiapan mulut mereka menyadari tim lain lebih baik, dan ketidaksiapan otak mereka menerima kekalahan menyakitkan....

Sebuah Renungan
Kawan, kemenangan dan kekalahan layaknya dua bidang mata uang. Begitu dekat dan begitu nyata. Kemenangan bukan hanya ketika kita berhasil mengalahkan musuh kita dalam suatu peperangan. Kemenangan bukan hanya jika kita berhasil meraih prestasi puncak, bukan pula jika semua keinginan yang kita idam-idamkan tercapai seluruhnya. Akan tetapi, kemenangan merupakan saat dimana kita dapat melawan kegagalan yang menimpa kita. Saat dimana kita dapat mengatasi musibah dengan tetap tersenyum. Saat dimana kita dapat bangkit dari suatu keadaan yang menyedihkan. Kemenangan kita adalah saat dimana kita dapat bangkit dan berjuang untuk dapat berdiri lagi dari kejatuhan kita...
Salam Satu Jiwa

Barisan Sakit Hati 1


Menggugat Netralitas Harian Nasional TOP SKOR !!!

Flasback Ke belakang nawak tentang Arema Juara Isl 2009/2010.
Maaf Kami juara tanpa Rekayasa...

Umak tahu TOPSKOR, harian Nasional yang punya oplah gede itu belakangan membuat berita yang sangat Kontroversial. Seakan-akan Arema mempunyai segudang cara untuk menang dengan cara nonteknis. Ironisnya TOPSKOR menjadi bagian dari media partner PSSI. Jika umak penasaran apa beritanya. Ini ayas kasihkah (yang lucu adalah gambar dari artikel itu adalah Andy Odang dan punya Title Andy Prasetyo). What?? Seorang wartawan Bonek !!!
KEANEHAN DI WAMENA
WAMENA - Arema Indonesia semakin mendekati tangga juara setelah menekuk tuan rumah Persiwa Wamena 2-0 di Stadion Pendidikan, kemarin. Ini menjadi kekalahan pertama Persiwa di kandang sepanjang mengikuti Djarum Indonesia Super League (ISL) musim ini.Persiwa terakhir kali kalah di markasnya pada 7 Juni 2006. Saat itu, mereka menyerah 1-2 dari Persipura Jayapura yang butuh kemenangan untuk terbebas dari ancaman degradasi lewat dua gol Boaz Salossa. Setelah itu, Persiwa tak pernah terkalahkan dalam 49 laga dengan rincian 46 kali menang dan tiga kali imbang. Mencetak 127 gol dan kebobolan 18 gol.

Wajar bila kemenangan yang diraih Tim Singo Edan mengundang pertanyaan. Maklum, ada keanehan dalam laga kemarin. Pasalnya, pertandingan tiba-tiba digelar tanpa penonton. Apakah ini hukuman Komisi Disiplin PSSI akibat kasus penganiayaan pemain saat Persiwa menjamu Persisam, Sabtu (3/4)? Yang pasti Komdis dalam rapatnya Kamis (8/4) tidak mengumumkan sanksi buat Persiwa.

Selain itu, seperti diakui pelatih Persiwa, Zaenal Abidin, hakim garis di pertandingan tersebut juga sempat mengeluarkan keputusan aneh. Itu terjadi ketika Roman Chmelo mencetak gol kedua di menit ke-78.Ya ada kejanggalan. Hakim garis sudah sudah mengangkat bendera off-side, tapi diturunkan lagi. Pemain sempat diam karena melihat bendera diangkat, tapi setelah diturunkan, gol pun terjadi, kata Zaenal lewat pesan singkat kepada TopSkor.

Komentar aneh. Biasanya tim tamu yang merasa dicurangi ketika bermain di Wamena. Kini, malah sebaliknya. Ini merupakan buah dari matangnya persiapan yang kami lakukan sebelum berangkat ke Wamena. Untuk adaptasi cuaca, kami beberapa kali latihan di Batu Malang, kata asisten pelatih Arema, Liestiadi.

*****Untuk selengkapnya, silahkan baca di TopSkor hari ini (12 April 2010)*****

Defri S/Dwi Prasetyo (TopSkor)
Mengingat harian itu punya oplah besar, pasti akan menimbulkan opini dari publik dan sangat merugikan. Padahal dalam aturan sepakbola ada jalur resmi untuk melakukan protes.

Inspirasi dari Kadet Suwoko

Beberapa waktu lalu ada nawak ayas yang mengirimkan sebuah informasi tentang Pahlawan Indonesia. Jika umak bilang biasa aja tunggu dulu, pasalnya sosok Pahlawan ini berasal dari Malang dan bahkan menjadi Logo 2 klub kebanggaan LA Mania dan Bonek. Siapa orang itu?? dialah kadet Suwoko. Sosok pahlawan yang sangat mengagumkan.. berikut ini petikan dari Jawapos Radar Bojonegoro bulan agustus tahun lalu
Patung Kadet Soewoko Inspirasi Logo Bonekmania dan LA Mania

Salah satu pahlawan kemerdekaan yang cukup dikenal di Lamongan yakni Kadet Soewoko. Dia dikenal dengan kisah perjuangannya yang sangat heroik ketika menghadapi agresi Belanda ke-II pada 1949.

Soewoko sebenarnya bukan asli Lamongan, tetapi kelahiran Desa Lumbangsari Kecamatan Krebet Malang pada 1928. Setelah lulus sekolah kadet di Malang, dia kemudian ditugaskan menjadi komandan regu I seksi I kompi I pasukan tamtama Kdm (Kodim) Lamongan.


Dia meninggal pada 9 Maret 1949 dalam suatu pertempuran yang sengit melawan tentara Belanda di wilayah Desa Gumantuk Kecamatan Sekaran. Berarti dia meninggal pada usia yang baru 21 tahun dan belum menikah.

Berdasarkan catatan sejarah Kodim 0812 Lamongan, kisah nyata yang heroik perjuangan Kadet Soewoko tersebut terjadi pada hari Minggu, 9 Maret 1949 menjelang siang. Ketika sedang beristirahat di sebuah langgar di Desa/Kecamatan Laren, regu Kadet Soewoko mendapat laporan penduduk kalau ada truk tentara Belanda yang terperosok di parit wilayah Desa Parengan (dulu masuk Kecamatan Sekaran, sekarang masuk Kecamatan Maduran). Truk tersebut mengangkut 12 serdadu Belanda.

Saat itu anggota regu Soewoko berjumlah delapan orang, namun hanya memiliki 7 senjata api peninggalan Jepang. Mereka kemudian sepakat akan menyerang tentara Belanda tersebut. Satu anggotanya bernama Soemarto ditinggal karena jumlah senjata hanya tujuh.

Regu Soewoko kemudian naik perahu dan menyusuri tangkis Bengawan Solo sebelah utara menuju lokasi serdadu Belanda yang kemudian diketahui dari pasukan gajah merah. Para Belanda tersebut melepas bajunya dan hanya memakai halsduk (kacu leher) warna merah.

Regu Soewoko kemudian merayap melewati kebun bengkowang mendekati lokasi Belanda yang berada di tempat terbuka di tengah sawah tersebut. Mereka sepakat akan menyerang dengan tembakan salvo kalau sudah sampai jarak tembak yang tepat.

Begitu mendekati sasaran tembak, tiba-tiba datang truk power wagon berisi penuh serdadu Belanda untuk membantu truk yang terperosok parit itu. Sehingga kekuatan Belanda menjadi berlipat sekitar 37 orang.

Meski kekuatan lawan berlipat, ternyata regu Soewoko tidak nyiut nyalinya. Mereka tetap melakukan serangan gencar. Beberapa serdadu Belanda langsung terjungkal ditembak regu Soewoko.

Serdadu Belanda panik dan melakukan perlawanan memakai senjata yang lebih lengkap dan modern. Regu Soewoko menjadi terdesak. Mereka kemudian berencana mundur. Tetapi upaya tersebut tidak bisa dilakukan, karena diam-diam sebagian serdadu Belanda melakukan taktik penghadangan dengan bergerak memutar ke belakang regu Soewoko. Merasa terkepung, Soewoko memutuskan menerobos kepungan musuh meuju Desa Gumantuk Kecamatan Sekaran.

Dua orang anggota regu berhasil menerobos kepungan musuh, satu orang pura-pura mati dan nahas bagi Soewoko yang tertembak kedua bahunya dan tergeletak tidak mampu melakukan perlawanan.

Beberapa serdadu Belanda kemudian mendekati dan menanyakan namanya dengan bentakan. Soewoko pada saat itu mengaku bernama Soewignyo. Dia kemudian diajak ikut ke pos Belanda di Sukodadi tetapi tidak mau. Dia bahkan berkata ''Saya tidak mau menyerah, bunuh saya..!. Serdadu Belanda marah, kemudian menusuk dada kiri Soewoko dan ditembak pipinya sehingga langsung gugur. Dia bersama tiga anggota regunya yang lain yang gugur dalam pertempuran itu langsung dimakamkan oleh warga setempat di desa itu tanpa dimandikan karena dinilai mati syahid. Adegan heroik itu disaksikan anggota regunya yang pura-pura meninggal. Jenazah Kadet Soewoko bersama tiga temannya tersebut kemudian dipindah ke taman makam pahlawan Kusuma Bangsa Lamongan.

Kisah heroik Kadet Soewoko tersebut kemudian diabadikan dengan dibangunnya patung Kadet Soewoko pada 1975 dan kata-katanya terakhir juga dipahatkan di patung tersebut. Patung itu terletak di pintu masuk Kota Lamongan sebelah timur. Salah satu jalan protokol di Kota Lamongan juga diberi nama Jalan Soewoko. ''Empat anggota regu Kadet Soewoko yang yang masih hidup, kemudian bertugas ke luar Lamongan, ada yang di Bandung, Jakarta, dan Malang,'' kata Pasi Teritorial Kodim 0812 Lamongan, Kapten Arh GN Putu Ardana.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjzNseQwfDASqowCAG9iYKaewuZPJbhNOyu1Pj_8zDxQqLSleatLzz4NT-u_zjDHMON2PsOg2y2gBc2R2yWsD8CBUjc7NV1k6iXrzN_yHkEFXFd2k0ZWyzEK0vOIz0tDp4-wkzdbJRcwQ/s400/1.jpg

Wajah Kadet Soewoko ternyata kemudian juga menjadi inspirasi logo group suporter Bonekmania Persebaya Surabaya dan LA Mania Persela Lamongan. Kalau Bonekmania memakai ikat kepala, sedangkan untuk LA Mania memakai blangkon. ''Logo Bonekmania dan LA Mania tersebut dibuat oleh warga Lamongan bernama Ridwan, warga keset dekat patung Kadet Soewoko. Gambarnya sebagai pemenang dalam lomba pembuatan logo bonekmania yang digelar Jawa Pos sekitar 1986, begitu pula dengan LA Mania. Dia membuat gambar logo tersebut memakai inspirasi wajah patung Kadet Soewoko tersebut,'' ungkap ketua LA Mania, Ainy Hidayat.

Dayat menambahkan, dulu setiap tahun digelar napak tilas Jadet Soewoko setiap menjelang 17 Agustus, tetapi sayang, sejak 1992 kegiatan tersebut tidak pernah digelar lagi. (feb)
So masih pantaskah bonek terus menerus mencela leluhurnya!!!!!