Sabtu, 08 September 2012

Arema Legends - Sukrian Si Jago Becek


Penjaga gawang legendaris yang pernah bergabung bersama tim kebanggaan arek Malang Arema ini adalah pemain yang pernah diterbitkan oleh pendiri Arema Alm. Acub Zaenal, pemain legenda satu ini memperkuat Arema era Galatama ‘88.

Pemain yang mempunyai nama lengkap Andi Muh. Syukrian ini sebelum bergabung dengan tim berlogo kepala singa ini pernah ikut di Persema Junior sebelum ikut dalam diklat Sawangan di Jakarta (Pelita Jaya) mulai tahun 1985 hingga 1987, selama ikut dalam Persema Junior dalam kejuaran piala Suratin menembus 4 besar dan selama memperkuat Persema Junior Syukrian tidak sendirian, pemain yang bersama Syukrian tersebut adalah pemain yang juga pernah memperkuat Arema era 88 seperti Aji Santoso.

Dalam diklat tersebut pendiri Arema Alm. Acub Zaenal kepincut melihat permainan dalam peresmian Liga Sawangan dari pemain yang akrab dipanggil Syukrian ini, sehingga ayah dari Sam Ikul ini mengajak Syukrian bergabung bersama Arema pemain yang sekarang ini menjadi pelatih kiper di salah satu klub profesional Persik Kediri ini karena Syukrian adalah arek Malang asli. Dari Alm. Acub Zaenal lah paling berjasa bagi Syukrian bisa meniti karier seperti sampai saat ini bahkan orang yang bejasa juga dalam membimbing Syukrian adalah Bang Ovan Tobing.

Saat bersama Arema Syukrian menceritakan banyak sekali suka dukanya namun semua itu dijalaninya dengan sabar hingga bisa meraih apa yang pernah diharapkan oleh seluruh pemain yaitu klub yang dibelanya menjadi juara . Dalam menjalani suka dukanya tersebut Syukrian sangat menikmatinya karena pada saat itu Arema lebih memfokusakan pada pembinaan mental, memang pada saat itu para pemain benar – benar digembleng mentalnya seperti dicaci maki, disuruh bawa dan mencuci sepatu senior namun semua tetap dijalani dan dinikmatinya.


Bergabung dengan Arema pada saat itu Sukrian masih duduk dibangku sekolah menengah atas saat itu kelas 3, pemain yang bernomor punggung 1 di Arema dulu memperkuat Arema mulai tahun 1988 hingga 1995. Saat bergabung bersama Arema usia Syukrian terbilang cukup muda yaitu 19 tahun, memang usia Syukrian terbilang cukup muda namun permainannya patut diacungi jempol sampai – sampai Syukrian pernah dijuluki Si Jago Becek bahkan kalau Arema main waktu hujan Syukrian menjadi kiper utama.

Dalam memperkuat Arema Syukrian masalah gaji pun hampir tak pernah dipikirkannya, namun suasana kekeluargaanya yang membuat mental, loyalitas, kekompakan dan motivasi para pemain yang membuat betah bertahan bermain bersama Arema. Syukrian mengungkapkan bahwa gaji yang pernah diterimanya pun pada saat itu sekitar Rp. 60.000,- para pemain Arema pada saat itu tidak melihat materi rasa hanya rasa kekeluargaannya bisa mengantarkan Arema bisa menuju tangga juara.

Para pemain yang pernah ikut bergabung bersama Arema tidak akan merasa rugi bergabung bersama karena dari Aremalah bisa mencetak talenta – talenta terbaik hingga bisa menjadi pemain yang bisa memperkuat timnas Merah Putih sebut saja seperti Aji Santoso dan apabila tidak lagi memperkuat Arema para pemain pasti tidak sulit untuk mencari klub lain malahan klub yang akan memanggil pemain tersebut untuk bergabung.

Pernah Arema melakukan tour Kalimantan melawan Persisam, Barito Putra dan Bontang para pemain belum gajian selama 3 bulan sebagian para pemain mogok untuk ikut tour tersebut dan yang berangkat dalam tour tersebut hanya 12 orang dan yang menjadi cadangan waktu itu saya (Syukrian) dan Panus Korwa, kalo cadangan cidera semua sudah tidak ada pemain pengganti lagi.

Dari situlah Pak Mislan yang pernah memegang Arema membantu masalah gaji pemain dengan melihat Arema bermain total yang pada waktu itu hanya bermain dengan 12 pemain. Syukrian menjadi seorang kiper memang sudah menjadi cita - citanya, menjadi seorang kiper pria yang keturunan Bugis ini terinspirasi dari penjaga gawang berkebangsaan Jerman yang bernama Harrand Schumaker yang pada waktu itu bermain untuk klub bayern Munchen.

Menjadi seorang kiper pada waktu dulu sangat terlihat perbedaannya, kalau sekarang kiper sudah ada yang melatih namun untuk mentalnya sering gampang downdan dikontrak kalau sudah mendapat gaji mereka malas dan kalau waktu dulu seorang kiper harus dituntut untuk menjadi yang terbaik tanpa harus ada pelatih kiper serta belajar untuk menjadi seorang penjaga gawang harus belajar otodidak.

Dengan belajar secara otodidak Syukrian sering menjadi penyelamat gawang Arema dari kebobolan, pernah dalam suatu pertandingan Arema melawan Niac Mitra berhadapan dengan Al Hadad dan Mustakim secara man to man namun tidak ada satu gol pun yang tercipta.

Sosok yang pernah melejit sebagai pelatih kiper Persik ini mempunyai harapan besar terhadap Arema Indonesia yang sekarang ini dilatih oleh pelatih asal Republik Ceska Miroslave Janu agar tetap bisa mempertahankan segala prestasi yang pernah diraih

Sejumlah prestasi yang pernah diraih oleh Arema juga tak lepas dari dukungan suporter yang selalu setia mendukung, dalam hal ini Aremania yang dulu dianggap Syukrian belum ada waktu Syukrian menjadi bagian dari Arema bisa selalu tetap mendukung , menjaga sportivitas dan setia menemani dikala Arema bertanding serta Aremanita yang memberikan sebagian cintanya terhadap tim yang selalu didukungnya tersebut terlebih dikala timnya terbelit masalah.
Sedangkan untuk persepakbolaan Indonesia Syukrian berharap bisa menjadi dewasa dan semua harus ditata ulang mulai dari atas seperti PSSI yang menaungi seluruh hajat persepakbolaan di seluruh Indonesia dengan begitu tidak akan ada persepakbolaan yang dianggap sepak bola saingan, yang akhir – akhir ini saling merasa mengaku paling benar dan fair. Sehingga muncullah LPI yang mengaku bahwa liga ini adalah liga yang lebih profesiaonal akan tetapi masyarakat diharapkan bisa berpikir lebih positif dalm menangggapi hal ini.

Informasi Pribadi
Nama Lengkap : Andi Muh. Syukrian. SE
Tanggal Lahir : Malang, 14 Oktober 1968
Istri : Nunung Supartina. SE
Anak :
1. Andi M. Herdiansyah,
2. Andi Nadia Permatasari
3. Andi Sintia Dewi

Prestasi
- Persema Junior 1987 4 besar Piala Suratin
- Diklat sawangan 1987 juara 2 antar Diklat se Indonesia
- Arema 1988 – 1995 juara Galatama 1992
- Persik Kediri 2002 – 2011 Juara Liga 2003 - 2006

Senin, 03 September 2012

Rodrigo Araya

Rodrigo Araya, Legenda Arema Indonesia : Indonesia Punya Banyak Potensi

Fabian Rodrigo Araya Moreno atau yang lebih dikenal dengan Rodrigo Araya merupakan pemain sepakbola asal Cili yang telah malang melintang didunia pesekbolaan nasional. Araya pertama kali merumput di Indonesia pada tahun 1994 bersama Persma Manado. Araya lalu berlabuh ke Arema Malang pada Liga Indonesia VI tahun 1999–2000, setelah bermain bersama Arema lalu Araya berlabuh ke PSM Makassar, Persema Malang dan terakhir bermain bagi Persibom Bolaang Mongondow.

Araya dikenal sebagai gelandang serang yang memiliki umpan yang sangat baik serta kemampuan menggiring bolanya nyaris sempurna. Setelah pensiun sebagai pemain bola saat ini Araya tinggal di Indonesia bersama dengan istrinya yang berasal dari Indonesia.
Berikut petikan wawancara eksklusif Rodrigo Araya dengan reporter olahraga WARTAPAKWAN.com Aryo Putra. H.
WARTAPAKWAN (WP)       : Hi, apa kabar Araya?
Rodrigo Araya (Araya) : baik sekali.
WP : Ingin kembali kelapangan hijau untuk melatih?
Araya : Aku sudah berlatih sampai lisensi B, sekarang saya sedang tunggu untuk             lisensi A, ya pasti saya kembali.
WP : Klub apa yang sangat ingin sekali anda latih di Indonesia?
Araya : Sebenarnya klub yang diinginkan untuk dilatih adalah tim yang memiliki infrastruktur yang baik. Tapi kalo untuk tim yang sangat ingin aku latih adalah Arema dan Persema.
WP : Tampaknya kota Malang sangat melekat di hati anda?
Araya : Ya sebab anak pertama saya kali lahir di kota Malang.
WP : Bagaimana pendapatnya mengenai kompetisi liga di Indonesia saat ini?
Araya : Aku tidak melihat adanya perubahan besar di liga, masih sama seperti dulu. Masalah masih sama seperti dulu, semoga saja kompetisi ini lebih baik dan menjadi benar–benar kualitas.
WP : Mengenai perkembangan sepakbola Indonesia saat ini, apakah sudah maju, jalan ditempat, atau justru malah mundur?
Araya : Silahkan lihat ranking FIFA dan AFC dimana sepakbola Indonesia saat ini.
WP: Lalu bagaimana cara menyelesaikan masalah pesekbolaan di Indonesia?
Araya : Indonesia ini memiliki banyak potensi, harus ada satu proyek yang serius dan harus dimulai dari anak–anak. Itu adalah kunci utamanya.
WP: Bagaimana komentarnya dengan Arema saat ini?
Araya : Luar biasa dapat juara Liga Super Indonesia musim lalu dan Arema memiliki banyak pemain muda.
WARTA PAKWAN/ Sabtu, 16 Oktober 2010
Araya, ternyata jiwamu masih di Malang
Salam Satoe Jiwa

Joao Carlos

Si Tukang Sihir “Joao Carlos”

Tukang Sihir … julukan itulah yang disematkan pada diri pria Brazil satu ini. Joao Carlos atau yang akrab dipanggil Jo, merupakan sosok gelandang yang memadukan jogo bonito dan kemenangan. Filosofi sepak bola yang kental dianut di negara kelahirannya. Passing terukur, visi permainan yang tajam, pandai merancang pola serangan dan diakhiri dengan through pass tajam adalah sebagian nilai plus yang ada pada adik kandung Carlos de Melo, mantan gelandang Petrokimia Gresik. Salah satu hal yang membuat ayas kagum dan menjadikannya sebagai inspirator adalah kelihaiannya memberikan passing tanpa melihat (no look pass) kepada temannya. Skill yang mampu membuat lawan terkecoh karena sering lawan lebih memperhatikan gerak tubuh dan arah pandangan matanya. Sangat wajar kalo Benny Dollo (Bendol) langsung merekomendasikan namanya ke manajemen Arema untuk segera mengontrak Jo. Satu kebiasaan Bendol yang sangat jarang ditemui pada saat menilai pemain seleksi Arema saat itu. Bendol begitu terpikat skill dan visi permainannya, yang tidak dia temui pada pemain seleksi sebelumnya. Jo pun langsung menjadi sosok yang diagungkan di Malang dan langsung dibayar lunas dengan mengantarkan Arema juara divisi I dan 2 kali Copa Dji Sam Soe. Torehan prestasi tersebut ternyata tidak menjadi pertimbangan Miroslav Janu (pelatih Arema setelah Bendol) untuk mempertahankannya. Janu mencoret Joao di awal putaran kedua Liga Indonesia 2007. Aremania pun berang dan menganggap Janu sebagai orang yang akan  menghancurkan Arema.


Reaksi itulah yang membuat Jo tidak bisa melupakan Arema dan bertekad tidak akan membela Persebaya yang notabene merupakan musuh abadi Arema. Baginya itu adalah pengkhianatan. Pada pre season Liga Djarum Indonesia 2008, Arema melakukan sparring partner melawan Persisam Samarinda, klub Jo sekarang. Sayang sekali Jo tidak dalam kondisi fit dan memilih tidak bermain. Mungkin inilah sikap seorang ksatria yang memilih tidak bermain melawan klub yang membesarkannya dan ini bernilai setingkat diatas profesionalisme.
Salute buat anda berdua, jasa dan kebesaranmu saat di kota Malang akan selalu Aremania ingat.
Salam Satoe Jiwa

 

Rodriguez “Pacho” Rubio

Si Bengal Rodriguez “Pacho” Rubio

Si Bengal!  Sampai saat ini belum ada striker impor Arema yang bisa menyamai performa dan totalitasnya di lapangan. Yupz!! Rodriguez “Pacho” Rubio … Striker berkebangsaan Chili ini begitu cepat beradaptasi dengan sepakbola Indonesia dan tidak butuh waktu lama baginya untuk menyatu dalam permainan khas Arema karena baginya karakter orang Malang dan Arema hampir mirip dengan karakter orang Chili kebanyakan. Tipikal striker yang cerdik, skillful, pemilik tendangan keras terarah, dingin di kotak penalti tetapi meledak-ledak saat lawan mengasari dan wasit tidak mengambil keputusan apa-apa. Tidak salah kalo kemudian Aremania menjadikannya pujaan sekaligus icon bagi Arema.
Sampai sekarang pun, mayoritas Aremania masih mendambakan pemain seperti dia untuk hadir di Malang, kalo pun tidak, mereka mengharapkan striker Arema mempunyai jiwa singa seperti apa yang Pacho tunjukkan. 

 Sayang Pacho tidak lama di Malang. PSSI memberikan cap striker bengal dan kerap membikin ulah di lapangan sekaligus melarang dia tampil di Indonesia karena dikhawatirkan akan membawa citra buruk bagi persepakbolaan Indonesia. Tetapi hal itu tidak menyurutkan publik Malang yang sudah terlanjur memujanya. Pacho adalah jaminan ancaman bagi gawang lawan bersama sang pelayan, Rodrigo Araya. Dalam posting ayas yang berjudul The Bad Boy’s Of Arema (bag-1) ayas membahas bagaimana “kenakalan” Pacho kala membela Arema.