Senin, 03 September 2012

Muhammad Ridhuan

Lebih Dekat Dengan : R6 - Muhammad Ridhuan

Usianya mungkin sekitar 26 tahun. Tubuhnya tinggi dibalut Jersey warna biru dengan logo Singa di dadanya. Bermain taktis seakan akan memberikan totalitas apa yg terbaik yang dimiliki bagi Timnya. Tampak sangat garang di lapangan ketika Kick Off babak pertama dimulai sampai di akhir pertandingan.

Di Jersey Biru Arema Indonesia tercetak jelas Namanya diatas nomer punggung favoritnya 6, yup.. benar dia adalah Ridhuan - Muhammad Ridhuan, ...saya lebih suka menjulukinya Singapore's Lion Swing …menilik gaya permainannya yang penuh determinasi, semangat ala Singa… dan permainan nya yang meliuk liuk memberi Irama tersendiri bagi sebuah orkestra di lapangan, melayani dengan cukup handal striker-striker Arema… serta kadang kala menusuk menghujam menggetarkan Jala lawan mirip irama Swing yang sungguh sulit ditebak alur nada nya. Kadang bermain lembut… stylist.. dilain waktu berubah menjadi garang.


Siapa pernah menyangka di balik kegarangan nya di lapangan lelaki ini tampak sederhana di kehidupan sehari-harinya, dia tidak memiliki perhiasan yang berlebihan untuk dipamerkan. Kalaupun ada yang berharga, hanyalah sepasang sepatu bola kesayangan nya.

Ada sedikit cerita unik baginya ketika menjadi pemain di Indonesia, terutama bermain di Arema, kadang ia merasa sedikit heran dengan berbagai sambutan yang diterimanya sebagai pemain sepak bola. Di Negaranya (Singapore), seorang pemain bola bukanlah apa-apa… disana hanya dianggap biasa tanpa ada perlakuan berlebih. Hal ini berbeda dengan apa yg di alaminya di Indonesia, dimana semua Orang baik yg ia kenal mau pun yg belum ia kenal sangat memperlakukan nya dengan perlakuan Istimewa.

Meski sebagai manusia biasa kadang ia merasa sedikit terganggu privacynya. Simak obrolan Tabloid SingoEdan (TSE) dengan M Ridhuan (Ridhuan) berikut ini :

TSE : Woww…sampai begitu yah sam perlakuan yg abang terima…?
Ridhuan : Yup,..inilah yg selalu membuat saya selalu rindhu akan Malang, tentu dengan Aremanianya, meski kadang-kadang saya butuh waktu untuk kehidupan pribadi sendiri, Jalan-jalan dengan Pacar… nongkrong di tempat2 favorit dll, seperti yg dilakukan oleh anak muda lain nya, jadi kadang jika saya sedikit mengabaikan permintaan para fans untuk berfoto, memberi tanda tangan dll bukan berarti saya sombong atau menjaga jarak. Percayalah tidak ada hal itu terbersit dalam pikiran saya, sebagai pemain sepakbola yg professional waktu kami untuk bersantai sangatlah sedikit, setidaknya dalam sehari kami berlatih 2 s/d 3 kali sehari jika tidak ada pertandingan. Jika ada pertandingan frekuensi & konsentrasi kami jelas lebih besar untuk pertandingan itu, karena kami ingin memberi kemenangan & yang terbaik bagi Aremania.

TSE : hemm…waktu santai yg sedikit memang sebuah hal yang sungguh susah didapat bagi seorang pemain sepakbola Profesional. Seperti saat ini dong ketika saya menggangu waktu istirahatmu, …ha ha ha kami menggodanya.
Ridhuan : Sama dong…saya juga menggangu waktumu di Siang2 terik begini membuat anda meluangkan waktumu bersama keluarga untuk repot2 mendatangi saya….ha ha ha
Kami pun tertawa terbahak bahak. Skor 1-1


 TSE : Apa yg menjadi acara favorit kamu Ridhuan…?
Ridhuan : Seperti kebanyakan orang, saya suka menghabiskan waktu senggang saya bersama teman dekat & pacar saya tentunya, kita sering berjalan-jalan ke tempat-tempat wisata di Malang, terutama di Batu… disana banyak sekali tempat2 yang indah bukan…? Kalaupun ada film bagus saya sempatkan menonton di Theater dan nonton pertandingan sepakbola bersama sama dengan teman2 saya, kamu tahu khan saya orang jauh…jadi tidak banyak mempunyai teman disini.

TSE : Punya menu makanan favorit di Malang ?
Ridhuan : Sebenarnya menu di Indonesia tidak jauh berbeda dengan di Negara saya (Singapore) jadi tidak terlalu sulit saya beradaptasi dengan makanan di sini. Justru disini makanan terasa lebih lezat karena selain juru masaknya yang memang pintar meramu, disini pelayanan nya sangat ramah serta harga nya tergolong cukup murah disbanding standart Singapore.

TSE : Wuahh…mantebh, kapan2 saya traktir anda nakam oges lecep di stadion..
Ridhuan : (bingung) oges lecep…?

TSE : Yup oges lecep,..makanan bergizi tinggi..penuh dengan sayuran ala vegetarian, chef Farah Quin pun dijamin ga bisa menemukan rahasia kenikmatannya, ini makanan favorit kami ketika di Stadion melihat aksi2 pemain Arema dilapangan.
Ridhuan : (senyum2 simpul ), TSE pun ikut tersenyum sambil membayangkan.. jika rahasia menjaga fit nya stamina pemain dengan asupan suplemen & pola makan yg sehat, untuk supporter cukup dengan sebungkus oges lecep untuk menjaga stamina selama berada di stadion bernyanyi,menari & memberi dukungan kepada para pemain di lapangan.

TSE : Ridhuan….apa tips kamu untuk membangkitkan semangat dalam setiap pertandingan…?
Ridhuan : Tentu Suara Supporter…!!, adalah pembangkit semangat bagi kami. Suara supporter adalah oksigen tambahan yg kami hirup untuk bermain lebih semangat lagi. Sebelum pertandingan saya selalu melihat aksi2 rekaman penampilan saya di pertandingan2 terbaik yg pernah saya lakoni. Disitu saya melihat aksi2 bagus saya, dan saya bertekad akan mengulangi nya kembali di pertandingan akan datang. Saya pernah bermain bagus di pertandingan itu, jadi tentu Insya Allah saya pun bisa mengulangi nya kembali karena yg saya lihat di situ adalah permainan saya sendiri. Ini sebagai motivasi saya, selain tentunya kerjasama tim yg paling utama.Dulu ketika Arema di latih Coach Robert dalam perjalanan dari mess menuju ke stadion selalu kami putar music, karena music bisa membuat kami rileks. Saya selalu memutar lagu We Are The Champion -Queen, Salam Satu Jiwa - APA, dan D'masiv Jangan menyerah. Sampai sekarang hal tersebut masih berlanjut.

TSE : Ridhuan,…bagaimana kondisi Tim saat ini…?
Ridhuan : Arema tim yang tersolid, sampai saat ini pun kami adalah tim yg cukup harmonis baik di lapangan maupun diluar lapangan, tidak ada yg berubah. Bahkan sekarang kami cukup kuat dengan penambahan beberapa pemain yg memang mempunyai skill bermain bola yg baik. Di tim ini banyak mencetak pemain-pemain bola yang handal, kamu lihat Dendi sekarang …, juga Alfarizi & Gilang mereka pemain2 muda penuh harapan. Coach2 kami mengasahnya dengan baik. Tengok mereka dipertandingan2 mendatang akan banyak memberi sumbangsih yg cukup besar bagi Tim. Saya rasa Arema berada di tangan coach yang tepat ( Robert & Miro ) yang mana para pemain kita saat ini bisa bermain di berbagai posisi. Ini adalah sepakbola modern, di Singapore seorang pemain rata2 bisa bermain sama baiknya di berbagai posisi. Hal ini memudahkan para pelatih untuk mengatur strategi di lapangan. Anda jangan heran di Singapore pemain2 yg dipanggil Timnas sangatlah ketat & berganti2… karena memang rata-rata bisa bermain sama baiknya di berbagai posisi.


 TSE : Termasuk Anda Ridhuan…?
Ridhuan : ya.. termasuk saya, sangat sulit untuk menembus ke Timnas,

TSE
: Wow…seorang Ridhuan pun sampai susah menembus Timnas, sebelum bermain di gelandang anda bermain di posisi apa ?
Ridhuan : Saya bermain sebagai striker sampai usia 12 th, pada saat di Timnas U-12 saya baru bermain sebagai gelandang /sayap. Ini posisi favorit saya, namun apapun posisi saya Coach yg lebih faham tentang ini & saya siap bermain di posisi apapun.

TSE : Termasuk bermain di Tim saya…?, jika saya nanti menjadi Coach…?, saya selalu menggunakan strategi 1-1-1-1-1-1-1-1 ,..strategi baris berbaris.
Ridhuan : ha ha ha ha ha

TSE : Soo, Ridhuan jika anda dipercaya menjadi Coach timnas Indonesia siapa saja yg anda panggil masuk dalam squad…?
Ridhuan : hemmm…., sebentar kasih saya waktu berfikir….ok, Pg. Tentu Kurnia Meiga, Wingback untuk Zulkifly & Benny mereka punya kecepatan. Di belakang saya suka dengan Salampesy & Maman. Salampesy bermain penuh ketenangan & cerdik bermain di belakang. Di tengah saya pakai Eka Ramdhani & Firman Utina, di sayap saya pakai Boaz & Atep,untuk striker saya masih belum bisa menemukan pemain yg pas.

TSE : Pakai Alamsyah…?
Ridhuan : ha ha ha boleh kah…?, Along striker yg benar2 bagus di Asia.

TSE : Kemarin anda sempat terbang ke Palembang bersama Along untuk tamasya…, coba sedikit anda beri cerita tentang hal itu.
Ridhuan : ha ha ha,..tamasya yah..? ha ha ha…sebenarnya itu adalah keputusan yg dilandasi oleh emosional saja, biar kami saja yg tahu tentang detailnya. Yang pasti ketika itu kami disana serasa seperti zombie atau mayat hidup, karena meski badan kami berada disana tetapi Hati & jiwa kami masih tertinggal di Malang. Kami banyak mempunyai kenangan manis di Arema, seperti nyanyian salam satu jiwa,.. memang benar jiwa kami tertambat di Arema. Melalui pertimbangan yang matang kami memutuskan kembali ke Malang (Arema) karena memang hati kami masih ada di sini. Waktu itu kebetulan juga kami di telpon Boss (Andi Darusalam) yg meminta kami kembali ke Malang. Kami cukup hormat dengan beliau , dan melalui jaminan beliau pula menjadi salah satu faktor penguatnya selain Iklim Aremania yg sangat luarbiasa pengaruhnya bagi kami.

TSE : Termasuk pertimbangan pembayaran yang anda tahu di sini sedikit mengalami penundaan…?
Ridhuan : hemmmm….(menerawang) susah menjelaskannya, anda tahu bukan bagi kami pemain sepakbola bahwa hidup kami tergantung dari kontrak/gaji…?, ini memang konsekuensi kami bergabung dengan Arema. Tim yg secara finasial belumlah kuat perekonomiannya. Tapi ini lah sepak bola…, bukan hanya tentang uang saja. Sangat kompleks didalamnya.


TSE : Bagaimana keseharian anda jika masalah ini terus berlarut2..?
Ridhuan : kembali menerawang…hemm. Apakah kamu melihat perubahan di penampilan saya..?, saya berhasil cetak gol kemarin di Bontang bukan..?, ..kembali Ridhuan menerawang.. kamu tahu kawan… saya anak terahir dari 3 saudara, saya adalah lelaki satu-satunya. Orang tua saya sudah tidaklah aktif bekerja… kakak2 saya telah menikah… jadi saya bermain Ribuan Km jauhnya dari Jurong-Singapore tentu ingin mendapatkan penghasilan yg lebih agar saya bisa membaginya dengan keluarga saya. Tapi saya yakin & tahu kami semua disini baik diPetinggi & jajaran Managemen Arema terus berusaha keras untuk bisa mengatasi masalah itu kami tahu itu bukanlah hal yang mudah bagi klub seperti Arema ini. Kami sebagai pemain wajib melaksanakan kewajiban kami berlatih & bermain secara maksimal, Rasa cinta kami pada Klub & pendukungnya (Aremania) yang mampu menguatkan kami.

TSE :…(kami pun berusaha menghiburnya)…..Ridhuan… tidak ada keinginan untuk merambah dunia bussines…?, untuk menyiasati hal-hal yg tidak di inginkan ?
Ridhuan : Yup,..saya memang punya keinginan seperti itu, saya banyak berbicara dengan Eka Ramdhani tentang usaha clothing & distro yg ditekuninya. Atau jika memungkinkan saya ingin seperti Fandi Ahmad yg memiliki bussines sepatu bola khusus bagi Youth Football di Singapore. Fandi Ahmad sampai mempunyai brand sendiri untuk sepatunya bekerja sama dengan Apparel olahraga terkenal. Fandi Series, itu Brand sepatu bola yg cukup terkenal di Singapore. Selain itu dengan prestasi saya semoga banyak perusahaan yg mau bekerja sama dengan saya, seperti kamu tahu saat ini tahun ke 4 saya terkontrak oleh Nike.

(catatan: waktu interview ini pelunasan & penggajian pemain masih mengalami masalah, akan tetapi beriringnya waktu, dengan mulai stabilnya kondisi klub seakan-akan menjadi terkabulnya doa,ketabahan serta kekuatan pemain2 Arema dengan mulai cairnya kontrak/gaji yg tertunda )

TSE : Ridhuan…., jika anda mendapat 2 telepon dari Petinggi Real Madrid & satunya dari Arema Indonesia, yang mana dua-duanya mengajak kamu bergabung di tim nya Apa yang kamu lakukan…?
Ridhuan : (menghela nafas) pertanyaan sederhana yang sulit…., ok yang pasti saya akan menelepon balik Arema Indonesia dahulu sebelum saya menelepon Real Madrid. Selain karena saya menghormati kontrak saya di Arema, tentu di Arema pula yang membesarkan nama saya. Saya akan berbicara ke Managemen & supporter bahwa ada sebuah Klub besar yg menawari saya bergabung. Saya yakin mereka akan mengerti & berbangga jika ada kelak dikemudian hari ada salah satu pemainnya bergabung dengan Tim besar. Jika tawarannya datang dari Klub/ Liga yg lebih kecil dari Arema meski menawarkan kontrak yg lebih besar, mungkin saya membutuhkan waktu yg sangat lama untuk berfikir.

TSE : Bermain di Liga mana yg ingin kamu coba…?
Ridhuan : saya tertarik dengan Liga Jepang, ..suatu saat ingin rasanya bermain disana, seperti yg kamu tahu Liga Jepang liga yg cukup ketat & professional di Asia.

TSE : Ok Ridhuan kembali ke Tim Arema…., sosok seperti apakah yg paling berpengaruh di sebuah Tim…?
Ridhuan : Sosok Leader, pemimpin di lapangan atau di luar lapangan. Beruntunglah kita memiliki Papa Njanka, Dia bagi kami adalah Captain di dalam & diluar lapangan. Leader berarti pula bisa menjadi jembatan antara pemain, pelatih-managemen, kamu tahu Papa di kesehariannya sangat perhatian kepada kami, selalu bertanya kabar2 kami, atau ada masalah apa yg ingin dibicarakan baik dengan pemain lain atau dengan jajaran pelatih & managemen. Di usia nya yg sekarang Papa masih sering berlatih sendiri karena ia tahu bahwa ia tidak muda lagi… jadi harus bisa menjaga staminanya. Coach sangat diuntungkan karena tanpa harus di suruh ia secara professional telah mengerjakannya sendiri. Tidak banyak tim yg memiliki pemain seperti Papa.


TSE : Jika suatu saat Papa memutuskan gantung sepatu, kira 2 ada pemain yang bisa menjadi suksesor/ penerus nya…di tim sekarang..?
Ridhuan : Saya suka dengan semua kepribadian pemain2 Arema, Along bisa mengemban tugas Papa..atau Zulkifli & Hermawan, mereka sama-sama bagus di dalam & diluar lapangan.

TSE : Ok Last Question Ridhuan…..apa harapan anda bagi Arema & Aremania di tahun ini..?
Ridhuan : Bagi saya Arema Insya Allah mampu mempertahankan Champion musim lalu, kami semua disini bertekad melakukan itu. Bagi Aremania… tetaplah selalu dukung Tim Arema baik ketika kami menang ataupun ketika kami kalah, karena Aremania adalah tambahan Oksigen bagi kami untuk bermain lebih baik ke depan nya untuk meraih kejayaan bagi Arema tentunya.

TSE : Terima kasih nawak atas waktu yg sangat berharga ini, sukses selalu terus mengiringi dimanapun kaki anda berpijak & tetaplah ingat bahwa di setiap jengkal tanah stadion di Indonesia pernah ada tapak kakimu menggurat kemenangan & kebanggaan bagi kami Aremania.

(benhoem/eko/wearemania.net)
NB : Tulisan ini sudah dimuat di Tabloid Singo Edan Edisi Kedua...
 

Minggu, 02 September 2012

Roman Chmelo 2

Roman Chmelo, Antara Sharon Stone, Rawon Dan AC/DC



Bagian ke-2 dari Interview Eksklusif Roman Chmelo
Siapa yang tak kenal sosok midfielder berdeterminasi tinggi ini? Namun dibalik effort kerasnya di atas lapangan hijau, siapa sangka jika Roman adalah pribadi yang ramah dan bersahaja.
 
Week-end seringkali menjadi kesempatan untuk melepas penat dan kejenuhan setelah seminggu beraktivitas. Bagi Roman Chmelo yang ditemui di Klub Bunga kala break latihan. dia menyatakan bahwa, “We have a very beautiful weekend here, thanks to Ibu Livi.” Roman juga berterimakasih pada pihak hotel yang telah menyediakan ruangan khusus dimana Ongisnade dan Roman bisa ngobrol santai tanpa terganggu.
Penasaran apa yang dilakukan Roman di waktu senggangnya? Simak bincang-bincang akrab pada (13/2) malam, antara reporter Ongisnade, Intan Brahmanti (O) bersama Roman Chmelo (R) yang diabadikan oleh fotografer Adi Kusumajaya.
O: “Apa film favorit Anda?”
R: “Hmm..banyak. Saya suka (nonton) film. Tapi kalau favorit, saya suka Pulp Fiction (John Travolta) dan The Matrix (Keanu Reeves). Terutama The Matrix I. Bukannya yang ke-2 dan ke-3 jelek, sih. Tapi menurut saya, yang pertama tetap lebih bagus.”
O: “Red pill atau blue pill?” (tentang pilihan Neo dalam The Matrix I)
R: “Saya nggak mau minum pil.” (tertawa)
O: “Hmm, kalau aktris paling seksi menurut Anda? Megan Fox?”
R: (mengerutkan kening) “Megan Fox tidak natural. Dia cantik, tapi kurang bagus aktingnya. Saya suka Sharon Stone dan Michelle Pfeifer.”
O: “Yang benar? Bukannya agak terlalu..tua?”
R: “Tidak juga. Mereka hebat. Tidak cuma cantik, tapi juga sangat berbakat. Aktris-aktris sekarang lebih mengutamakan fisik daripada talent, dan yah..saya kurang suka (aktris) yang seperti itu.”
O: “Kalau musik? Punya artis atau penyanyi favorit?”
R: “Hmm, selera saya oldies, sih. Saya suka penyanyi-penyanyi dari era ’60-an sampai ’80-an. Musiknya bagus dan bisa dinikmati, seperti Barry White, Bee Gees, Elton John, dan AC/DC. Saya suka sekali AC/DC!”


AC/DC adalah grup rock era tahun ’70-an asal Australia yang baru-baru ini mengadakan konser nostalgia untuk seluruh penggemarnya berkaitan dengan lagu-lagu mereka yang didapuk menjadi original soundtrack film Ironman 2, hasil kerjasama dari Paramount Pictures dan Marvel Comics. Ongisnade penasaran kenapa Roman sangat menyukai grup rock yang para personelnya sudah tak muda lagi ini.
O: “Kenapa Anda sangat menyukai AC/DC?”
R: “Mereka hebat!” (tertawa). “Saya punya DVD konser terbaru mereka, dan ya ampun, mereka masih full perform di panggung selama 2 jam lebih. Padahal umur mereka sudah 60 tahun-an semua, tapi masih bisa seperti itu. Saya tidak tahu apa saya juga akan seperti itu kalau sudah berumur 60-an nanti, hahaha.”
Bicara soal kesukaannya pada musik jadul, Roman bercerita bahwa pada liburannya ke Slovakia lalu, dia mengunjungi sebuah club yang khusus menyajikan lagu-lagu lama. Dia bertutur bahwa suasananya sangat nyaman, dimana dia bisa menonton video klip lagu-lagu nostalgia ini lewat 4 layar super besar. Roman berharap di Indonesia ada tempat seperti ini, karena dia sangat menyukainya.
Bagaimana dengan makanan? Kali ini Ongisnade menanyakan makanan khas Indonesia teraneh yang pernah dicicipi Roman.
R: “Saya tidak tahu namanya, tapi rupanya memang aneh. Seperti makanan sisa. Tapi rasanya enak sekali.” (tertawa).
O: “Kalau makanan kesukaan?”
R: “Rawon nomor satu! Eh, bukan, rawon nomor dua. Nomor satunya bakso,” katanya mengoreksi sambil menyebut salah satu waralaba bakso lokal Malang. “Saya harus amat menjaga pola makan. Karena kalau makan terlalu banyak, saya tidak kuat lari atau latihan, hahaha. Sayang, karena disini ada banyak makanan enak yang harus dicicipi.”
O: “Jadi apa Anda melakoni diet khusus?”
R: “Tidak juga, cuma tidak boleh terlalu banyak makan. Dia yang tiap hari memasak untuk saya, dan masakannya fantastis. Enak terus” tambah Roman sambil menunjuk Monika, sang pujaan hati yang menemaninya tinggal di Indonesia selama ini.

ingin selalu fit seperti Roman? Rajin berolahraga dan menjaga pola makan, itu dia resepnya.
Past, Present & Future
Disinggung tentang mengapa dia memilih kawasan Asia Tenggara untuk berkarir, Roman menjawab bahwa sejak bergabung di Selangor PKNS, dia merasa nyaman di Asia Tenggara. “Saya mulai kenal budayanya, orang – orangnya, semuanya. Saya suka disini (Asia Tenggara). Lalu datang tawaran untuk main di Arema, dan disinilah saya.”

Perjalanan Roman Chmelo di Arema tak bisa dibilang mudah. Sejak era pelatih Gusnul Yakin dan Robert Alberts, Roman menemui jalan berliku. Hanya keteguhan hati serta kecintaannya pada sepakbola dan Aremania, serta Arema Indonesia yang membuatnya bertahan.
Hal ini ditegaskan Roman bahwa sepak bola dan Arema Indonesia adalah hal yang dia lakukan penuh dengan komitmen demi diri sendiri, klub dan para suporter. Karena itu, Ongisnade tergelitik untuk menanyakan pengalaman apa yang paling mengejutkan yang pernah dialaminya selama bergabung di Arema Indonesia.
R: “Yang menyenangkan atau yang menjengkelkan?”
O: “Dua-duanya. Yang menyenangkan dulu.”
R: “Yang menyenangkan, waktu pertandingan, saya melihat ada Aremania yang membawa spanduk besar bertuliskan kata-kata dukungan untuk saya, ditulis dalam bahasa Slovakia…
“Itu sangat membuat saya terharu sekaligus bersemangat untuk bermain sebaik-baiknya. Dukungan seperti itu sangat berarti bagi saya, karena membuat saya merasa mungkin melakukan apapun (yang terbaik).”
“Bukan hanya untuk saya atau klub, tapi bagi semua supporter. Kalau yang menjengkelkan, waktu Arema main di Jakarta (Stadion Gelora Bung Karno, pertandingan melawan Persija –Red). Begitu wasit meniup peluit tanda pertandingan berakhir, massa masuk ke lapangan dan mengerubungi saya. Ada yang menarik baju dan celana segala. Saya sangat ketakutan karena begitu banyaknya orang yang mengerumuni dan menarik-narik saya. Sebenarnya, saya mau diajak berfoto bersama atau semacamnya, hanya tolong jangan keroyok saya seperti itu sih, hahaha.”
O: “Jadi, apa ekspektasi Anda untuk Aremania? Selain jangan mengeroyok Anda lagi, tentunya.”


R: (tertawa) “Tetap dukung saya, dan Arema. Dukungan Aremania sangat berarti bagi kami semua, dan terutama saya. Karena saat turun ke lapangan, tidak ada hal lain lagi yang lebih berarti selain memberikan permainan terbaik.”
“Kalah-menang itu wajar, tapi main bagus soal lain. Meskipun kalah tetapi ketika kita memberikan yang terbaik, mereka (Aremania) pasti melihat dan tetap akan memberikan dukungannya.”
Sampai disini Roman menyinggung tentang arti supporter dalam perbincangannya dengan Roman Golian atau Golo, kompatriotnya. Simak saran Roman untuk Golian di sini.
Nah, Aremania, tidakkah dukungan dan slogan-slogan positif pasti amat dihargai? Sudah waktunya kata-kata yang kurang santun dan perilaku negatif supporter digantikan dengan hal-hal positif yang pastinya akan berdampak lebih baik, tak hanya bagi pemain, tapi juga bagi semua orang.
Bincang-bincang akrab ini pun berlanjut di tengah hawa dingin kota Batu yang malam itu tertutupi hangatnya suasana obrolan kami.
O: “Misalnya Anda orang paling hebat di seluruh alam semesta dan ingin membentuk dream team sepak bola menurut versi Anda sendiri, kira-kira siapa yang akan Anda masukkan sebagai anggotanya?”
R: “Siapa saja?”
O: “Benar, siapa saja. Boleh yang sudah almarhum atau yang masih hidup, pemain lama atau baru.”
R: (berpikir sebentar) “Oke, mulai dari penjaga gawang. Saya pasti pilih (Edwin) Van Der Saar. Untuk pemain belakang saya pilih (Moraes) Cafu, Fernando Hierro atau Joseph ‘Pep’ Guardiola dan Roberto Carlos. Saya suka sekali Carlos. Untuk midfielder, saya mau Xavi Hernandez) dan Claude Makalele. Winger saya pilih Figo dan Messi. Sedangkan untuk penyerang, saya mau Pele, dan Ronaldo.”
O: “Untuk cadangan?”
R: “Sir Bobby Charlton dan Johan Cruijff, hahaha. Saya tipe orang yang harus melihat dulu baru percaya. Dari apa yang saya baca, Bobby Charlton pemain hebat. Tapi saya tetap harus lihat dulu permainannya secara langsung, kan.”



O: “Sepertinya Anda punya bakat jadi untuk pelatih, suatu hari nanti.”
R: “Semoga. Saya cinta sekali sepak bola.”
O: “Ngomong-ngomong tentang masa depan, apa bayangan Anda tentang seorang Roman Chmelo sepuluh tahun lagi? Tinggal di rumah mungil yang indah, ada dua anak kecil, atau jadi selebriti sepak bola dan naik Lambhorgini?”
R: “Jujur, saya tidak tahu (sambil tertawa). Tapi yang jelas, saya ingin masih tetap bergelut dalam dunia sepak bola professional. Entah sebagai pelatih, manajer, apapun. Saya hanya ingin melakukan yang terbaik, terutama sepakbola, karena itulah yang penting bagi saya. Saya berpendapat bahwa seseorang harus tahu apa yang benar-benar berarti dalam hidup. Kita harus punya wawasan dan berpikir seksama, melakukan segalanya dengan penuh kesungguhan, dan memiliki visi. Tidak ada yang sia-sia untuk hal seperti itu, dan yang paling penting, mengetahui apa yang sebenarnya kita inginkan dalam hidup ini.”
Setelah lebih dari dua jam, akhirnya obrolan yang diselingi tawa dan canda dari seorang yang diidolakan oleh puluhan ribu Aremania dan Aremanita itu pun selesai. Itulah Roman Chmelo, tak hanya seorang pesepakbola, tak sekedar pemain tengah serba bisa atau goal-getter, tapi seorang pria bersahaja yang darinya kita bisa memetik banyak pelajaran berharga. Masih ragu untuk mengidolakannya? (onn/inb/bar)
http://www.ongisnade.co.id/2011/02/17/roman-chmelo-antara-sharon-stone-rawon-dan-acdc/

Roman Chmelo 1

Eksklusif Interview Roman Chmelo: Closer With ‘Kicsi’

ONGISNADE mendapat kesempatan eksklusif untuk ngobrol dengan Roman Chmelo. Sosok penting di skuad Arema yang menyempatkan dirinya berbagi kisah dan berbagi cerita. Ditemani sang pujaan hati, Monika, Roman kali ini menampakkan sisi lain seorang pria.


Ditemui pada saat break latihan, Minggu (13/2) malam, midfielder serba bisa Roman Chmelo dan Monika tampak santai dan enjoy menikmati liburan 3 harinya. Roman tampak rileks, lebih santai dan menuturkan bahwa dia mengisi waktu liburnya dengan berjalan-jalan di sekitar kota Batu, mengunjungi Jatim Park dan Secret Zoo untuk melepas penat.
Tentu saja, kami tidak bicara melulu tentang sepak bola, tetapi tentang Roman sendiri, dan hal-hal yang belum pernah diketahui tentang pemain Arema yang terkenal ramah ini. Simak obrolan santai dan seru ala ONGISNADE bersama Roman.
O: “Roman, sebenarnya nama Anda dilafalkan bagaimana sih? Banyak sekali sebutan untuk Anda di luar sana.”
R: “Sebenarnya nama saya cukup susah yah dilafalkan oleh orang sini (Indonesia), kata ‘Chmelo’ sendiri diucapkannya dengan bunyi ‘kh’ yang samar dan halus; jadi yang benar ‘(k)Hmelo’ Bukan Camelo, Kamelo, atau Kmelo, haha…”
O: “Kalau nama panggilan Anda? Kicsi?”
R: “Oh (tertawa). “Kicsi diucapkannya ‘Kichi’, karena saya berasal dari Nova Bana yang dimana banyak penduduknya berasal dari Hungaria, maka nama panggilan Kicsi itu juga dari bahasa Hungaria, artinya Kecil.”
O: “Kecil?”
R: “Waktu masih remaja, saya agak pendek dibandingkan teman-teman sebaya, jadinya dipanggil Kecil.”
ONGISNADE pun mulai penasaran untuk mengulik tentang masa kecil Roman ‘Kicsi’ Chmelo ini, seperti apakah dia ketika masih anak-anak dulu?
Ternyata, Roman kecil mulai bermain sepak bola sejak berusia 9 tahun, dan ketika ditanya kenapa dia memilih sepak bola dibanding olahraga lainnya, dia berkata,
“Sudah naluri sepertinya. Ayah saya juga main sepak bola, dan saya waktu itu begitu saja memilih sepak bola tanpa ada yang menyuruh. It’s genetic, I think.”
Seperti anak-anak lainnya, Roman Chmelo waktu kecil juga punya tim sepak bola tarkam. Dia bermain dengan teman-teman sebayanya di Nova Bana, “My kampung team”, tambahnya kemudian sambil tertawa. Roman kecil di waktu senggang suka berlatih bola di tembok luar rumahnya, meninggalkan bekas-bekas kotor di tembok. Walhasil, sang Ayah sering menyuruh Roman untuk membersihkan setiap kali temboknya dikotori Roman yang berlatih menendang bola.


Saat ditanya apakah pernah terlintas di benak Roman bahwa berkarir dalam dunia sepak bola professional akan menjadi pilihan hidupnya, dia menjawab bahwa pikiran seperti itu tak pernah ada. Dia hanya suka dan mencintai sepak bola. Dengan bertambahnya usia, semakin hari, Roman semakin mantap untuk memilih sepak bola professional sebagai jalan hidup. Di usianya yang ke-17, Roman Chmelo mendapat gaji pertama yang nilainya cukup besar sebagai pemain sepak bola.
Apa pendapat sang Ayah? Roman menjawab bahwa sang Ayah adalah seorang yang pendiam dan tak banyak berkomentar, namun dia tahu bahwa Ayahnya sangat bangga padanya. Di kemudian hari, dari beberapa teman keluarga, Roman mengetahui jawabannya. Tak hanya bangga, ternyata sang Ayah sangat bahagia karena putranya bahagia dengan pilihan hidupnya.
O: “Pelatih Sriwijaya FC, Rachmat Dharmawan pernah bilang kalau Roman Chmelo adalah pemain berbahaya di lapangan. Menurut Anda sendiri, Roman Chmelo orang yang bagaimana?”
R: “Roman Chmelo orang baik (tertawa). Dan suka ngobrol.”
Tidak ragu lagi, Roman memang terkenal ramah dan rendah hati. Hingga sesi interview kali ini jadi sangat gayeng. Seorang pemain berprestasi tapi tetap memiliki sifat bersahaja, yang sebelumnya sudah pernah muncul di rubrik Up Close & Personal ini pun nampak enjoy cas-cis-cus bersama ONGISNADE.
Ketika ditanya, klub manakah yang menjadi favoritnya? Roman dengan mantap menjawab, “Manchester United”. Manchester United memang tim hebat, tetapi apa alasan pribadi Roman untuk menobatkan tim berjuluk Setan Merah ini menjadi favoritnya?
R: “Karena sejarahnya. Banyak tim-tim (Internasional) hebat di luar sana seperti Real Madrid, dan lain-lain. Tapi Manchester United bukan tim biasa-biasa saja. Manchester United punya sejarah yang hebat. Seperti managernya, Sir Alex Ferguson. Dia bisa bertahan di sana selama lebih 20 tahun! Selain itu, Manchester (United) hebat karena mereka selalu bisa melahirkan pemain bintang. Dari yang bukan siapa-siapa jadi bintang hebat. Real Madrid? Semua pemain bintang pergi ke sana, tapi pelatihnya tidak ada yang bisa bertahan. Selain itu juga ada tragedi Munich (tragedi yang menewaskan 23 pemain Manchester United dalam kecelakaan pesawat pada tahun 1958- Red), tetapi klub ini selalu bertahan. Ada banyak sejarah dan cerita di Manchester. Klub hebat selalu punya sejarah (hebat).”
Sejarah, atau cerita, memang membentuk sesuatu atau seseorang. Ibarat pepatah kacang lupa kulitnya, banyak kali orang melupakan sejarah atau cerita yang terjadi dibalik sesuatu dan meninggalkan esensi serta spirit yang melandasinya. Roman adalah orang yang sangat menghargai sejarah; bukan karena selalu hidup di masa lalu, namun belajar dari peristiwa yang terjadi dan bagaimana kita menyikapinya secara positif, adalah hal yang amat penting.


Cukup tentang dunia bola Roman, seperti janji kami, ada banyak hal tentang Roman yang belum pernah sampai ke telinga Aremania. Bagaimanapun, Roman bukanlah sekedar midfielder atau second striker. Dia juga punya hobi dan suka melakukan banyak hal dalam mengisi waktu luangnya.
Simak lanjutan obrolan ONGISNADE di Closer With Roman Chmelo bagian ke-2. Bagian tentang sisi lain Roman yang belum pernah diekspos, semuanya dibeberkan hanya di www.ongisnade.co.id (onn/inb/bar)

http://www.ongisnade.co.id/2011/02/15/eksklusif-interview-roman-chmelo-closer-with-kicsi/